Minggu, 16 November 2008

darah kristus

Pdt. Abraham Alex Tanuseputra
(Bulletin Sinode Edisi III, Tahun II, 2005)

Tercurahnya darah hewan, ritual persembahan korban, berawal dari ketika Allah melakukan tindakan kasih kepada manusia yang jatuh dan terpuruk akibat dosa. Tuhan Allah menyembelih hewan, dan darah tertumpah, kemudian mengambil kulitnya untuk dijadikan pakaian Adam dan istrinya, mengenakan kepada manusia ganti daun pohon ara yang dipakai manusia untuk menutupi aibnya.

Dan Tuhan Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan istrinya itu, lalu mengenakan kepada mereka. (Kejadian 3:21)

Suatu fragmen yang mengandung pernyataan Allah bahwa usaha dan kekuatan manusia yang mencoba untuk menutupi dosa-dosa adalah sia-sia. Hanya dengan kurban, tertumpahnya darah, yaitu janji Allah, proto evangelium, tentang Mesias yang akan datang sebagai anak domba Allah bagi pendamaian dan penebusan umat manusia.

Dari peristiwa inilah, pemberitaan keselamatan umat manusia, melalui tertumpahnya darah, diwartakan melalui berbagai ritual persembahan korban. Mulai dari korban bakaran, korban keselamatan, korban sajian, korban penghapus dosa dan korban penebus salah. Semuanya menunjuk pada Kristus, Anak Domba Allah yang dikorbankan untuk keselamatan umat manusia.

Dengan demikian, makna darah adalah misi Allah menyelamatkan manusia melalui Kristus yang dikorbankan. Tidak ada jalan dan cara lain, juga semua upaya manusia adalah sia-sia. Melalui karya Kristus, mulai dari taman Getsemani, bukit Golgota, kubur Yesus yang kosong sampai terangkatnya ke sorga. Semua ritual persembahan korban disempurnakan, nubuatan tentang Mesias yang menyelamatkan umat manusia digenapkan. Dengan membawa darah-Nya sendiri, sebagai ganti darah domba jantan dan darah anak lembu, Kristus masuk ke ruang kudus dan mempersembahkan diri-Nya sebagai persembahan yang kudus dan tak bercacat, menyucikan semua orang yang percaya kepada-Nya, sekali untuk selama-lamanya.

dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal. Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup. (Ibrani 9:12-14)

Makna Darah (Kristus)

Korban persembahan adalah sesuatu yang Allah karuniakan kepada manusia, yakni pemberian dari Allah bagi kebutuhan manusia. Allah yang punya kemampuan untuk menyelamatkan manusia dan manusia yang membutuhkan keselamatan bagi dirinya. Jadi bukan pemberian manusia kepada Allah, sebab bagaimana mungkin, manusia yang berdosa dan tidak berdaya mampu mempersembahkan kepada Allah yang kudus dan berkuasa?

Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa. (Imamat 17:11)

Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: "Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. (Wahyu 5:9)

Dari ayat-ayat di atas, dalam Imamat 17:11 dan juga di Wahyu 5:9, dapat ditemukan dua penjelasan mengenai makna darah dan kurban persembahan. Yaitu tentang konsep pendamaian, oleh karena ada penebusan, redemption dan konsep pengganti, substitution.

Pertama, maksud dari darah itu ialah untuk mengadakan pendamaian. Sebab setiap kata yang diterjemahkan menjadi pendamaian adalah dimaksudkan sebagai membayar harga, suatu harga untuk penebusan. Upah dosa ialah maut. Orang yang berdosa tidak dapat menghadap Allah yang Maha Kudus. Dosa membuat orang terpisah dari Allah, dan pisah dari Allah berarti kematian. Tetapi bila harga tersebut, hukuman dan kematian, dibayar lunas melalui kematian dengan darah tercurah, maka terjadilah pendamaian, recontiliation, hubungan Allah dan manusia dipulihkan kembali.

Kepada siapakah pembayaran tersebut diberikan? Darah mengadakan pendamaian dengan menyediakan harga yang cukup untuk membayar lunas hutang dosa di hadapan Allah, suatu nilai penghukuman yang tersedia dan telah dilunasi oleh penghukuman oleh yang menanggungnya, yaitu Kristus yang menanggung hukuman manusia yang berdosa.

Kedua. Bahwa darah dapat menjadi perantara pendamaian dengan nyawa. Ulangan 19:21, menyatakan tentang “nyawa ganti nyawa”, artinya nyawa sebagai pembayaran atas nyawa. Darah berarti kematian, pemusnahan kehidupan atau nyawa. Dalam persembahan kurban nyawa dimusnahkan, darah yang tertumpah merupakan tanda telah diambilnya nyawa bagi pembayaran dosa-dosa orang yang bersalah dan bagi nyawanya yang telah ternoda oleh dosa. Persembahan hewan sebagai kurban menyatakan prinsip tersebut di atas dengan penggenapan sepenuhnya dalam kematian Tuhan Yesus Kristus.

Darah Dalam Lintasan Sejarah Manusia

Darah perjanjian, melalui Kristus yang akan datang, dari generasi ke generasi telah membuktikan kuasa Allah yang sangat luar biasa. Darah adalah satu-satunya jalan pendamaian antara manusia dengan Allah. Berikut adalah beberapa catatan tentang kuasa darah dalam sejarah lintasan kehidupan manusia.

1. Adam dan Hawa (Kejadian 3:15-21)

Ketika Allah menggantikan daun pohon ara yang dipakai manusia untuk menutupi ketelanjangannya dengan kulit binatang. Ketika itulah Allah memberikan pengajaran kepada manusia, bahwa ketelanjangan lambang dari dosa-dosa tidak dapat diselesaikan dengan cara dan kekuatan manusia. Usaha manusia seperti kain kotor dan tidak mungkin menutupi kekotoran dosa. Hanya persembahan korban, Kristus yang dikorbankan, dosa dapat dihapuskan, hubungan manusia dengan Allah dipulihkan.

2. Kain dan Habel (Kejadian 4:1-16)

Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah, sedangkan Habil mempesembahkan korban persembahan anak sulung kambing dombanya. Tuhan Allah menolak persembahan Kain dan menerima korban persembahan Habil.

Allah menolak korban persembahan Kain oleh karena Kain mencoba mengantikan persembahan korban tanpa tertumpahnya darah. Allah menolak persembahan hasil bumi Kain, upaya-upaya dan kekuatan manusia, dan menerima persembahan korban Habel, karena ia mempersembahkan dengan korban, tertumpahnya darah, tepat seperti yang Allah ajarkan kepada Adam.

3. Henokh (Kejadian 5:21-24)

Henokh diangkat hidup-hidup oleh Allah, kembali kepada Tuhan Allah tanpa melalui proses kematian fisik. Dan yang membuat Henokh diangkat Allah hidup-hidup, adalah karena Henokh hidup bergaul dengan Tuhan Allah.

Makna darah, sebagaimana penjelasan di atas adalah pendamaian, relasi manusia dengan Allah dipulihkan kembali. Dapat dipastikan bahwa alasan Henokh dapat bergaul karib dengan Allah, karena persembahan korban dengan tertumpahnya darah. Karena itu, Henokh diangkat hidup-hidup oleh Tuhan Allah.

4. Nuh dan Keluarganya (Kejadian 6:9-22; 7:24)

Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.

Di hadapan Allah Nuh adalah orang benar dan tidak bercela. Dan Nuh bergaul akrab dengan Allah. Status itulah yang menjadikan Nuh dan bahkan seluruh keluarganya, istri, ketiga anak dan menantunya, diselamatkan dari penghukuman Allah atas manusia yang dipenuhi dosa.

Seperti Henokh, demikian juga Nuh dan keluarganya hidup bergaul dengan Allah. Dan dapat dipastikan, yang menyebabkan mereka dapat hidup karib, punya hubungan sangat erat, dengan Tuhan Allah adalah karena korban persembahan yang benar, tertumpahnya darah korban, yang dipersembahkan oleh Nuh dan keluarganya. Dan oleh karena korban, tertumpahnya darah, itulah, maka keselamatan terjadi atas Nuh dan seisi rumahnya.

5. Abraham (Kejadian 15 - 17)

Predikat terbesar yang disandang Abraham adalah bapa orang beriman, dan lewat iman itulah Abraham juga disebut sebagai bapa segala orang benar. Abraham menjadi orang benar bukan karena perbuatannya, tetapi ia benar oleh karena iman, percaya kepada janji Allah tentang Israel, keturunan Abraham sebagai bangsa pilihan yang puncaknya pada lahirnya Mesias yang dijadikan korban bagi keselamatan orang-orang pilhan Allah.

Tuhan Allah menandai perjanjian-Nya dengan Abraham melalui dua tanda yang Tuhan ajarkan untuk Abraham melakukannya dengan setia. Pertama, mezbah korban bakaran dan kedua dengan perjanjian sunat bagi anak laki-laki, yaitu dengan dikerat kulit khatannya.

Firman TUHAN kepadanya: "Ambillah bagi-Ku seekor lembu betina berumur tiga tahun, seekor kambing betina berumur tiga tahun, seekor domba jantan berumur tiga tahun, seekor burung tekukur dan seekor anak burung merpati." Diambilnyalah semuanya itu bagi TUHAN, …(Kejadian 15:9-10)

Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu. Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal. (Kejadian 17:12-13)

Iman Abraham dinyatakan dalam kesetiaannya terhadap dua hal di atas, yang intinya mengalirnya darah. Abraham selalu mendirikan mezbah persembahan korban di setiap tempat dimana Abraham tinggal dan sunat bagi semua laki-laki seisi rumahnya. Melalui mezbah dan sunat itulah, janji Allah tentang keselamatan melalui tertumpahnya darah, iman percaya Abraham dinyatakan, dan melalui mezbah dan sunat itu juga janji tentang Mesias yang akan datang terus diwartakan.

6. Musa dan Bangsa Israel

Musa dan segenap bangsa Israel, pada waktu mereka berada di tanah perbudakan Mesir, mempunyai banyak pengalaman mujizat ajaib dengan beberapa diantaranya berkaitan dengan kuasa darah, korban persembahan melalui darah hewan yang selalu menunjuk pada darah Kristus. Salah satu diantaranya adalah peristiwa paskah.

Paskah, atau pesakh dalam bahasa Ibrani artinya melewatkan, pass over. Salah satu makna darah adalah menyelamatkan dari ancaman kematian, sebab kematian pihak lain telah menggantikannya (Keluaran 12:13,27). Darah yang dioleskan pada jenang pintu bangsa Israel memberikan tanda bahwa nyawa yang lain telah menggantikan hukuman atas rumah tersebut.

7. Kristus Yesus

Melalui puncak kehidupan pelayanan Yesus Kristus, persembahan korban dengan ditandai oleh darah, melalui peristiwa Golgota dengan sempurna telah digenapkan. Lewat tanda darah Kristus yang “dioleskan” pada setiap jenang pintu hati orang yang percaya, ancaman hukuman mati, maut, dibatalkan, oleh karena darah, nyawa Kristus telah menggantikannya.

Melalui Kristus, Imam Besar yang membawa darah-Nya sendiri masuk ke ruang kudus, menjadikan semua yang percaya, juga sampai di ruang kudus, sebab oleh iman mereka semua menjadi kudus. Layak untuk menghadap tahta hadirat Allah yang kudus.

dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal. Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup. (Ibrani 9:12-14)

Kuasa Darah Kristus

Alkitab Perjanjian Baru mencatat beberapa istilah yang menunjuk tentang kuasa dari darah Yesus bagi orang percaya, yaitu:
1. Darah Yesus adalah alat pembasuhan dosa manusia (1 Yohanes 1:7).
2. Darah Yesus adalah alat pembenaran bagi manusia berdosa di hadapan Allah (Roma 5:9).
3. Darah Yesus sebagai alat penebusan (Efesus 1:7, Roma 5:9-10).
4. Darah Yesus sebagai alat pendamaian manusia dengan Allah yang kudus (Kolose 1:20, Roma 3:25).
5. Darah Yesus merupakan jembatan yang olehnya manusia berjalan menuju Allah (Efesus 2:13).
6. Darah Yesus membersihkan hati nurani manusia yang berdosa (Ibrani 9:13).
7. Darah Yesus sebagai alat penyucian (Ibrani 13:12).
8. Adanya persekutuan antara manusia dengan Allah melalui darah Yesus (1 Korintus 10:16).
9. Darah Yesus juga disebut sebagai darah perjanjian kekal (Ibrani 13:20). Orang percaya dapat menjadi imam dan raja, itu karena darah Yesus (Wahyu 1:5, 5:9-10).
10. Darah Yesus merupakan senjata yang ampuh untuk menghancurkan iblis (Wahyu 12:11).
11. Manusia memperoleh kehidupan kekal hanya melalui darah Yesus (Yohanes 6:53-63).
12. Proses penyempurnaan hidup kekristenan kita, tidak terlepas dari darah Yesus (Ibrani 6:1-2, 7:11-19).

Tubuh dan Darah Kristus

Betapa besar dan mulianya kuasa darah Yesus yang merupakan darah perjanjian bagi manusia untuk memperdamaikan manusia dengan Allah. Karena itu Paulus, dan juga Kristus sebelum Ia disalib, mengingatkan kepada gereja Tuhan untuk memperingati korban Yesus ini melalui perjamuan kudus, dengan cara makan roti yang merupakan tubuh Kristus serta meminum anggur yang merupakan darah Kristus (I Korintus 11:23-25).

Pengajaran Paulus, juga Kristus sendiri, mengenai perjamuan kudus dimaksudkan untuk meningkatkan makna perjamuan itu dengan jalan mengkaitkannya dengan maksud penyelamatan Allah. Perjamuan kudus mengingatkan dan sekaligus memberitakan kematian Kristus bagi pendamaian melalui penebusan dan penggantian Kristus yang tidak berdosa bagi manusia yang penuh dosa. (1 Korintus 11:26)

Pergunakan waktu ini dengan baik sebab keselamatan yang Allah berikan melalui korban Anak-Nya, Yesus Kristus Tuhan, itu ada batasnya yaitu mengenai suatu jumlah yang telah Allah tentukan bagi kita orang-orang yang memperoleh kasih karunia-Nya jangan sampai kita tidak masuk hitungan dari jumlah yang Allah sudah tetapkan. (Roma 11:25)

Sebagai catatan akhir yang sangat penting bagi setiap umat manusia. “Bahwa darah Yesus Kristus tersedia dan berkuasa bagi keselamatan dan pendamaian seluruh umat manusia, tetapi hanya efektif bagi mereka yang percaya kepada-Nya.”

Yesus Pemimpinku Yg Sempurna

Pdt. Abraham Alex Tanuseputra
(Bulletin Sinode Edisi III, Tahun II, 2005)

Janganlah pula kamu disebut pemimpin,
karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. (Matius 23:10)

Pdt. Abraham Alex TanuseputraTahun 2005 adalah tahun monumental dalam perjalanan pelayanan saya di dunia ini. Kasih karunia-Nya begitu besar, sehingga saya bisa memasuki tahun ke 40 dalam pelayanan. Untuk itu, saya mengambil waktu secara khusus merenungkan perjalanan pelayanan sampai dengan hari ini. Banyak hal yang Tuhan ungkapkan untuk saya mengerti arti pelayanan selama 40 tahun ini. Pengertian-pengertian yang menjadikan saya takjub, kagum dan semakin percaya bahwa Dia-lah, Tuhan Yesus Kristus yang membawa dan mempercayai saya berada di dalam ladang pekerjaan-Nya.

Dari berbagai pengertian atau understanding yang Tuhan bukakan, satu di antaranya membuat saya terharu dalam sukacita. Yakni understanding tentang cara Tuhan, pada waktu Ia membawa saya masuk ke dalam kehendak-Nya yang luar biasa, yaitu cara Tuhan yang selalu “memaksa” saya. Dia membawa saya kepada suatu keadaan di mana saya tidak dapat menghindar atau lari dari keadaan itu. Saya tidak dapat mundur dan “harus” mengerjakannya.

Sejujurnya, kenyataan seperti ini seringkali terjadi dalam pelayanan saya. Kemudian, saya suka melakukan tawar-menawar kepada Tuhan, “Kalau boleh saya tidak ingin mengerjakan hal itu….” Bahkan hampir dalam semua peristiwa penting, saya mentah-mentah menolaknya.
Tetapi seperti saya katakan, Dia selalu “memaksa”. Saya menghindar, Dia mendesak terus. Saya menolak, tetapi semakin “keras” Dia “memaksa” saya, sehingga akhirnya saya takluk, menerima dan melakukan kehendak-Nya.

Ketika saya menolak panggilan Tuhan, melalui pendeta Djao Tze Kwang, panggilan itu kemudian diteguhkan lagi oleh pendeta EB Stube. Saya dipanggil menjadi hamba Tuhan dan melayani pekerjaan pelayanan-Nya. Dalam waktu tidak lama saya mengalami musibah, saya menabrak anak kecil hingga nyaris mati. Orang tua anak yang saya tabrak mengancam akan membunuh saya jika anaknya tidak tertolong dan mati. Saya benar-benar menjadi sangat takut. Tetapi ketika saya, melalui doa semalam-malaman, menyatakan menerima panggilan-Nya, bersedia menjadi hamba-Nya, kemudian saya melihat mujizat besar. Anak yang sudah sekarat dihidupkan Tuhan Yesus dan mengalami kesembuhan yang ajaib.

Begitu juga ketika Tuhan meminta saya untuk mulai melayani di desa-desa sekitar kota Mojokerto, di penjara-penjara tahanan politik, lalu Tuhan minta saya pindah dari Mojokerto ke Surabaya. Mulanya saya dan keluarga merasa berat. Karena pada waktu itu, pelayanan saya di kota Mojokerto mulai tertata. Pembangunan gedung gereja dengan 250 tempat duduk baru saja selesai, rasanya mulai sedikit lega. Awalnya saya menolak pindah, karena di Mojokerto sudah punya rumah, dan pelayanan mulai berjalan baik. Surabaya masih tanda tanya besar buat saya, apalagi saya tidak punya rumah di Surabaya. Bagaimana dengan kehidupan saya dan keluarga di Surabaya?
Tetapi, Tuhan yang menjadi boss saya tetap mengatakan “tinggalkan semua dan pergi ke Surabaya!” Pada waktu saya menolak, Andrew, anak saya yang ketiga yang sudah sembuh dari sakitnya dan bisa berjalan kembali, tiba-tiba kambuh dan tidak bisa berjalan lagi.

Di meja makan, sekali lagi saya berunding dengan isteri untuk kemungkinan pindah ke Surabaya, dan kami mengambil kata sepakat, “Ya Tuhan! Saya mau pindah ke Surabaya.” Ketika saya dan isteri menyatakan mau pindah Surabaya, tiba-tiba terdengar suara seperti sesuatu terjatuh di kamar Andrew. Saya kaget, saya pikir Andrew, jatuh dari tempat tidurnya… Tetapi, Puji Tuhan, mujizat terjadi, ketika saya dan isteri menuju kamar Andrew, saya melihat Andew sedang berjalan. Haleluya! Ketaatan membawa mujizat dan kesembuhan.
Awal di Surabaya, saya dan keluarga harus mengalami banyak pergumulan. Setelah berpindah-pindah, akhirnya Tuhan bawa saya ke Manyar. Mulai dari tujuh orang di garasi mobil, pindah di dalam rumah, ke gereja Awning, gereja Manyar, kemudian ke Graha Bethany Nginden, dan sekarang “memaksa” saya mengerjakan suatu proyek, yang oleh rekan-rekan saya disebut impossible project:Menara Doa Jakarta. Ketika Tuhan sampaikan proyek ini, saya tegas-tegas menolaknya, sebab membayangkan proyek dengan anggaran Rp 2,5 triliun, saya benar-benar “gemetar”, apalagi untuk mengerjakannya. Itulah sebabnya saya benar-benar menolaknya. Di Singapura, kepada rekan yang handle Menara Doa Jakarta, saya katakan, “Tentang Menara Doa Jakarta tolong lupakan saja, sebab saya tidak akan menanganinya.” Seperti peristiwa-peristiwa lainnya, begitu saya menolak, tidak ada angin dan tidak ada hujan, tiba-tiba badai besar melanda kehidupan keluarga saya.
Saya diingatkan Tuhan tentang peristiwa Yunus ketika menolak tugas pelayanan ke Niniwe, menolak dan pergi jalan-jalan ke Tarsis. Angin ribut dan badai menghantam kapal yang ditumpangi. Oleh nahkoda dan penumpang Yunus di lempar ke laut kemudian masuk perut ikan. Tuhan berkata kepada saya: “Kalau kamu obey (taat) the Lord, kamu akan keluar dari mulut ikan. Tetapi kalau tidak obey, kamu akan keluar dari belakang!”
Saya kaget, kalau keluar dari bawah, artinya saya jadi kotoran? Kalau begitu lebih baik saya bertobat, nurut saja kehendak-Nya. Dan Puji Tuhan, begitu saya menjamah kembali proyek Menara Doa Jakarta, badai besar seketika itu juga menjadi reda dan semua persoalan diselesaikan secara ajaib oleh Tuhan.

Puji Tuhan! Setiap apa yang saya tolak, oleh karena memang sangat menakutkan, tampaknya tidak masuk akal, dan sangat mustahil. Ketika saya mengatakan: “kehendak-Mulah yang terjadi”, saya menerimanya. Maka perkara yang sepertinya tidak masuk akal, menakutkan, dibuat-Nya menjadi keberhasilan, dan mujizat terjadi. Apa yang tidak mungkin dibuat menjadi sangat mungkin. Jika Tuhan yang memerintah, Dia juga yang bertanggung jawab. Tuhan yang memanggil, Tuhan juga yang melengkapi. Dia yang memulai dengan baik, Dia juga yang akan melanjutkannya sampai selesai sempurna seperti yang dikehendaki-Nya.(Filipi 1:6)

Dari semua pengalaman dan “perlakuan” Tuhan Yesus yang “memaksa” saya untuk saya menerima dan mengerjakan kehendak-Nya, akhirnya saya mengerti bahwa Tuhan Yesus melakukan semuanya itu bukan hanya karena Ia sangat mengasihi saya. Tetapi lebih dari itu, Tuhan Yesus ingin saya melayani seperti Dia melayani Bapa. smart and perfect, dengan cerdas dan sempurna. Karena itu, dengan kasih dan kesabaran-Nya yang luar biasa Tuhan menuntun dan melatih saya menjadi smart and perfect.
Setahap demi setahap, dimulai dari perkara-perkara yang kecil, ke perkara yang lebih besar, seterusnya sampai ke perkara yang lebih lagi dan lebih lagi. Semuanya itu bukan karena kekuatan saya, tetapi Tuhan Yesus yang mengerjakannya. Saya hanya memberi respon, mengikuti semua yang Dia kehendaki untuk saya mengerjakannya.
Seperti rasul Paulus yang menempatkan mengikut Kristus sebagai konsep dasar pelayanannya: Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus. (1 Korintus 11:1) Tanpa saya sadari, sebenarnya konsep hanya mengikuti Kristus itu juga menjadi prinsip pelayanan yang Tuhan ajarkan untuk saya melakukannya. Bukan saya, tetapi Tuhan Yesus Kristus saja yang berperan penuh untuk semua karya-Nya dalam hidup dan pelayanan saya.

Sekali lagi, saya hanya menyampaikan respon saja. Mulai dari gereja-gereja di desa-desa di sekitar Mojokerto, gereja di kota Mojokerto, di Bethany Manyar Rejo, hampir seribu gereja di Indonesia dan beberapa di luar negeri, di Graha Bethany Nginden, dan sekarang di Menara Doa Jakarta.
Dari understanding tersebut, saya menjadi semakin yakin dengan apa yang sering saya sampaikan kepada rekan-rekan sepelayanan. Bahwa tidak seorang pun patut untuk menyebut dirinya pemimpin, saya juga bukan pemimpin. Dia-lah, yaitu Mesias, Tuhan Yesus Kristus sang pemimpin saya. Saya hanyalah hamba yang mengikuti tapak langkah karya-Nya dengan mengerjakan bagian saya di ladang pelayanan-Nya . Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. (Matius 23:10)
Pemahaman tentang ketaatan mengikuti langkah pelayanan Tuhan Yesus sebagai strategi dalam pelayanan, adalah garis besar yang saya bagikan kepada hamba-hamba Tuhan, rekan-rekan sepelayanan dalam ladang Tuhan yang ingin mengalami keberhasilan. Bukan berarti saya telah berhasil, tetapi itulah rahasia yang Tuhan ungkapkan selama 40 tahun dalam pelayanan, saya sendiri juga akan terus berjuang sampai di garis akhir.
Pada dasarnya, tidak ada kata kunci sukses lain dalam pelayanan selain mengikuti langkah-langkah pelayanan Tuhan Yesus. Sebuah perjalanan pelayanan sukses Tuhan Yesus, dari padang gurun ketika Ia dicobai iblis sampai di taman Getsemani, menjadi alur utama uraian kesaksian perjalanan, pasang-surut, pelayanan saya selama 40 tahun. Tonggak perjalanan satu generasi yang memberikan pencerahan tentang makna penting-nya menjadikan Tuhan Yesus sebagai satu-satunya pola dalam pengabdian pelayanan semua hamba-hamba pilhan Allah.

Ada lima pokok pengertian yang saya akan bagikan melalui tulisan ini.
Pertama, penegasan kembali bahwa melayani Tuhan adalah kasih karunia Tuhan, yaitu panggilan suci atas orang-orang pilihan-Nya. Hanya oleh anugerah dan kasih karunia-Nya saja, saya yang aslinya lemah dan penuh dengan kekurangan menjadi hamba Tuhan dan melayani Dia.
Kedua tentang kuasa atau, power, dalam penguasaan diri, pokok penting yang selalu menjadi kendala dalam pelayanan. Harus saya katakan sejujurnya, juga dalam pasang-surut pelayanan saya. Semua rekan-rekan saya di pelayanan mengenal betul keadaan saya, bahwa saya seringkali “meledak-ledak”, tetapi bersyukur ada Roh Kudus, khususnya melalui istri saya, yang selalu menolong saya, ngerem saya untuk saya tetap berada dalam jalur penguasaan diri.
Ketiga, kuasa dalam ketaatan, the power of obey the Lord, suatu bentuk ketaatan total dan tanpa syarat yang mendatang kuasa bagi kebutuhan dalam pelayanan. Berbeda dengan penguasaan diri yang orientasinya dari diri sendiri dan hubungannya lebih banyak ke situasi dan keadaan sekitar.
Obey the Lord berbicara tentang hubungan antara diri sendiri dengan Tuhan, diri sendiri yang telah menyatakan komitmennya sebagai hamba yang siap menerima perintah, dengan Tuhan yang menjadi Tuan yang membagi-bagi pekerjaan atas hamba-hamba-Nya. Yang setia pada komitmennya, taat, akan dilengkapi kuasa dari tempat yang maha tinggi. Tidak taat, tidak setia pada komitmennya, tidak akan diberi perlengkapan apapun. Yang taat dilengkapi, tetapi yang tidak taat akan dikurangi.
Keempat adalah the power of relationship, yaitu pembahasan tentang pentingnya membangun relasi kesemua arah yang pada akhirnya terbukti mendatangkan kuasa Allah atas hamba-hamba-Nya yang melayani. Tuhan Allah, setelah penciptaan langit, bumi dan segala isinya, kemudian me-merintahkan manusia ciptaan Allah untuk hanya menguasai alam semesta, dan tidak memerintahkan manusia untuk menguasai manusia yang lain. Kepada sesama manusia Allah memerintakan untuk saling melayani. Membangun hubungan dengan Tuhan dan membangun hubungan dengan sesama manusia, bukan dengan menguasainya, tetapi dengan melayaninya.
Dan yang kelima, adalah kuasa dalam melangkah, the power of action, melangkah sebagai tindakan iman. Seperti yang dikatakan dalam surat Yakobus, iman tanpa perbuatan hakekatnya adalah mati. Seringkali saya katakan, orang boleh punya misi dan visi yang luar biasa, punya perencanaan yang hebat, strategi yang tepat, organisasi yang rapi, program dan manajemen yang rinci. Tetapi tanpa action, maka semua yang direncanakan hanya menjadi mimpi saja. Action mengubah angan-angan yang diawan turun kebumi dan menjadi kenyataan, tindakan mengubah mimpi dalam tidur menjadi realita dalam kehidupan nyata.

Tidak seorangpun sempurna, apalagi saya yang sering lepas dan kadang hampir-hampir keluar dari jalur yang Tuhan ajarkan untuk saya berada di dalamnya. Tetapi sekali lagi puji syukur bagi-Nya!, melalui kuasa Roh Kudus, Ia memampukan saya masuk kembali dalam tiga jalur sebagaimana diatas. Ketika saya hampir-hampir tidak dapat menguasai diri, dan tidak obey, Roh Kudus yang ada di dalam saya menginsyafkan.
Saya bertobat dan masuk lagi dalam penguasaan diri dan obey the Lord, dan pada saat itulah, saat dimana saya menguasai diri dan taat kepada perintah-Nya, maka kuasa dan pengurapan Allah melimpah dan memampukan saya untuk mengerjakan perintah yang Tuhan minta untuk saya menyelesaikannya.
Saya sadar saya punya banyak kelemahan dan kekurangan, bahkan banyak orang yang jauh lebih punya kemampuan dibanding dengan saya. Tetapi ketika saya terus berada dalam penguasaan diri, obey the Lord, membangun dan memelihara hubungan dengan Tuhan dan sesama, ketika saya melangkah sesuai pewahyuan-Nya. Maka pada saat itulah janji Tuhan untuk melengkapi hamba-hamba-Nya, saya membuktikan, benar-benar digenapi. Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya. (1 Petrus 5:10)
Seperti manusia yang lainnya, saya jauh dari sempurna. Diatas janji Tuhan, saya yakin, saya yang tidak akan sempurna akan terus diproses, sampai Ia yang sempurna menyempurnakan hidup dan pelayanan saya. Oleh karena itulah, tidak ada kalimat yang lebih tepat untuk saya katakan selain: “Bukan saya yang berhasil, tetapi Tuhan Yesus yang berhasil membawa saya menyelesaikan karya-karya-Nya. Dan bukan saya yang excellent, smart and perfect, tetapi Dia, Tuhan Yesus Kristus my Excellent Leader yang smart and perfect.