PRIORITAS TERTINGGI
Yunus 3:1-5,10 Mazmur 62:6-13 I Korintus 7:29-31 Markus 1:14-20
Dalam hidup ini sudah acapkali kita dibikin kecewa oleh alat yang macet; sepeda motor, mobil, pesawat telpon, komputer, sampai spidol! Semua ada di depan mata, bahkan ada dalam tangan kita, tapi tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Mereka sedikit pun tidak peduli kepada kita yang sedang kecewa berat dan mendongkol. Maklumlah mereka itu hanya mesin, benda mati, dan rongsokan! Bagaimana kalau yang tidak mau menjalankan tugas itu adalah manusia? Dan secara terang-terangan berani menolak perintah Tuhan?
Firman Tuhan hari ini menyebut-nyebut nama seorang nabi Tuhan yang terkenal, yaitu nabi Yunus. Ada dua hal yang membuat dia menjadi terkenal, yaitu karena melarikan diri dari hadapan Tuhan ketika mendapat perintah ke Niniwe, dan yang kedua karena dia pernah berada dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam. Yunus diperintahkan oleh Tuhan untuk menegur dan menyuruh penduduk Niniwe agar bertobat, berarti perintah yang tidak berlebihan sebab sesuai dengan profesinya sebagai seorang nabi. Melaksanakan perintah Tuhan dan mendukung rencanaNya yang mulia sesungguhnya merupakan prioritas tertinggi bagi manusia, terlebih bagi seorang nabi seperti Yunus itu. Tapi mengapa Yunus sampai menolak perintah Tuhan? Sebab dia tidak rela jika bangsa Asyur itu meninggalkan kejahatannya dan bertobat, sebaiknya dihukum saja oleh Tuhan. Jadi Yunus merasa lebih bijaksana dari pada Tuhan! Saudara, jika seorang hamba sudah berani menolak perintah tuannya, dan merasa melebihi tuannya, apakah ia masih patut dipertahankan? Reaksi Tuhan atas pembangkangan Yunus mungkin membuat Yunus menjadi semakin terkenal, sebab Tuhan tidak membiarkan ikan besar itu memangsanya tapi menyuruh agar memuntahkan Yunus ke darat dalam keadaan selamat, kemudian untuk ke dua kalinya Tuhan memerintahkan Yunus pergi ke Niniwe! Saudara, apa yang dapat kita pelajari di sini? Pertama, Tuhan sangat memahami hambaNya, karena Ia adalah Bapa yang maha pemaham. Ia mengerti sedalam-dalamnya pikiran dan perasaan Yunus yang amat sulit menerima keputusan Tuhan. Bukankah Tuhan sendiri mengatakan bahwa penduduk Niniwe kejahatannya sudah sampai ke Tuhan?(1:2). Berarti sudah sangat adil jika mereka dibinasakan saja seperti penduduk Sodom dan Gomora.Tapi mengapa Tuhan begitu lunak hati, malah membuka kesempatan bagi keselamatan dan kebahagiaan bangsa yang sudah bejad itu? Setelah mendapat perintah yang ke dua tentunya Yunus semakin mengenal “ keanehan Tuhan”, dan Tuhan sendiri tentunya menyadari bahwa rencanaNya menyelamatkan penduduk Niniwe itu memang sulit diterima oleh siap pun juga. Saudara, jangan kita merasa lebih baik dari penduduk Niniwe, katakanlah bahwa juga tidak masuk akal jika Kristus Yesus sampai dihadirkan bagi keselamatan dan kebahagiaan kita! Kedua, Tuhan sangat menekuni rencanaNya. Maka Ia berfirman untuk kedua kalinya agar Yunus berangkat ke Niniwe. Di fatsal 4 kita juga melihat betapa Tuhan begitu telatennya menyadarkan Yunus mengenai kasihNya kepada semua bangsa, sehingga mereka perlu diselamatkan. Tuhan berdaulat atas segala bangsa di dunia, dan kedaulatanNya bukan untuk menguasai tapi mengasihi. Maka sejak zaman dulu sudah menyuruh hambanya memberitakan firman, dan dalam Yesus Kristus kita akan menerima kuasa Roh Kudus untuk menjadi saksi Tuhan sampai ke ujung bumi.(Kisah Rasul 1:8). Waktu itu Yunus selaku nabi dan hamba Tuhan harus memprioritaskan tugas pewarta dengan pemahaman yang benar, kerelaan dan sukacita.Ketiga, Pemberitaan Firman Tuhan (Injil) selalu penuh tantangan tapi juga pendampingan Tuhan. Gejolak di hati mempertimbangkan perintah Tuhan , merupakan tantangan awal yang kadang paling berat. Menghadapi rasa malas (Yunus yang harus berkeliling di kota Niniwe yang besar,Yunus 1:2), rasa takut sebab resiko yang tidak kecil (Syukur bahwa raja Asyur mau terima peringatan Yunus dan ikut bertobat, bagaimana jika marah dan membantai Yunus), Rasul Paulus dijebloskan dalam penjara,Yunus dalam perut ikan. Tapi selalu akan ada pendampingan Tuhan, yang semakin mengakrabkan hubungan kita dengan Tuhan yang setiawan itu.
Sangat menarik bahwa injil Markus mencatat Tuhan Yesus mengawali pemberitaan Injil Allah segera sesudah Yohanes Pembaptis ditangkap oleh raja Herodes, karena menyampaikan kebenaran Tuhan dalam bentuk teguran yang keras atas kejahatan yang dilakukan raja itu. Yesus Kristus siap melanjutkan bahkan meningkatkan perjuangan Yohanes Pembaptis. Ia tidak gentar walau juga bakal di hadang segala resiko sebagai pewarta dan utusan BapaNya. Yesus Kristus bahkan dengan semangat yang tinggi menyingsingkan lengan baju mengumpulkan orang-orang sederhana untuk menjadi para rasul, murid-murid yang dipersiapkan sebagai saksi mata dalam kerajaanNya. Sebenarnya Tuhan Yesus bisa mencari dari kalangan atas atau terpelajar, tapi di sini kita membaca perhatianNya justeru kepada para nelayan. Mungkin karena orang-orang ini sudah biasa dengan pekerjaan penangkapan (ikan), maka akan lebih cocok untuk ke depannya, melakukan penangkapan jiwa manusia ke dalam jala kasih Kristus. Kemungkinan lain, justeru kesederhanaan mereka diperlukan oleh Tuhan Yesus untuk mencelikkan mata dunia bahwa dalam Kerajaan Allah kita jangan mengandalkan kemampuan manusia.Di kemudian hari ketika para rasul memiliki berbagai kemampuan, menyembuhkan orang sakit mengusir setan dan berkhotbah, maka orang-orang dunia akan tercengang serta menengok siapa yang berada di belakang mereka itu! Tuhan Yesus memilih orang-orang sederhana sebagai murid-muridNya, karena Tuhan Yesus sendiri juga tampil sebagai sosok orang biasa dan mengetahui bahwa dalam dunia ini sangat banyak orang sederhana yang hidup menderita. Pemikiran Yesus memang berbeda dengan pemikiran orang-orang dunia.Sekarang ada baiknya jika kita sejenak mencermati perbedaan diantara Yesus dan Yunus. Untuk memberitakan firman tiap-tiap kali Yunus perlu diperintahkan lagi oleh Allah, tapi Yesus Kristus satu kali diutus oleh Bapa selanjutnya Ia proaktip melangkah ke segala arah. Yunus ke Niniwe, Yesus ke semua kota dan secara roh ke seluruh dunia sampai kepada akhir zaman (Matius 28:20). Yunus tiga hari tiga malam dalam perut ikan, Yesus Kristus dalam rahim bumi (Matius 12:40). Yunus dimuntahkan untuk memenuhi perintah yang kedua dari Allah, Yesus Kristus dibangkitkan untuk memberitakan kemenanganNya. Yunus memprioritaskan kepentingan dan pendapatnya sendiri, Yesus Kristus memprioritaskan rencana dan pekerjaan BapaNya di atas segala-galanya.
Lalu apa yang kita baca di I Korintus 7 tadi? Anjuran Rasul Paulus kelihatan sangat aneh: Yang beristeri harus berlaku seolah tidak beristeri, yang menangis seolah tidak menangis, yang bergembira seolah tidak bergembira, yang membeli seolah tidak memiliki apa yang dibeli. Paulus mengatakan bahwa waktu kita singkat, hanya sisa sedikit. Dunia yang kita kenal ini akan berlalu. Inilah teologia bergegas, para gembala segera pergi ke kandang seperti anjuran para malaekat, sampai mereka meninggalkan domba-dombanya. Orang Majus mencari Anak Raja yang lahir itu, sementara bintang besar masih bersinar di angkasa. Simon dan Andreas, Yokobus dan Yohanes dengan segera menyambut panggilan Tuhan Yesus, tanpa memikirkan jala bahkan ayahnya! (Markus 1:20). Harta dan keluarga, pekerjaan , hobi dan apa pun milik kita tidak boleh menjadi perintang atau berhala yang menghalangi ibadah serta pelayanan kita. Sebaliknya dari itu harus dapat menjadi penopang dan pendorong bagi pelayanan kita. Kita berada dalam kurun waktu yang terbatas, segalanya sedapat mungkin diminimalis, kita harus pandai memprioritaskan segala sesuatu, tapi prioritas tertinggi adalah kerajaan Allah. Segala yang berhubungan dengan Kerajaan Allah, termasuk pemberitaan Injil Kerajaan Allah harus didahulukan dan diutamakan, sebab maha penting. Dengarlah apa yang dikatakan Rasul Paulus di I Korintus 9:16 “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” Mari kita berkata dalam hati kita masing-masing demikian:” Demi mengasihi Allah aku bersedia memberitakan InjilNya. Tetapi juga, demi mengasihi sesama manusia, agar mareka selamat dan bahagia maka aku akan terus memberitakan Injil.”
Akhirnya Saudara, dalam Mazmur 62 kita diingatkan bahwa hanya dekat Allah saja kita merasa tenang. Mengapa demikian? Sebab hanya dalam Allah ada keselamatan, yaitu keselamatan seutuhnya, keselamatan dalam Yesus Kristus. Mari kita pertahankan sampai akhir hayat, dan mari kita beritakan sebagai Injil sukacita kepada sesama yang kita jumpai di sepanjang jalan hidup kita. Ketahuilah, semakin banyak kita wartakan, semakin banyak yang diselamatkan, dan akan semakin bersukacitalah kita!
Dunia ini sedang kehilangan kasih,maka dari itu mari kita mencoba untuk belajar tentang kasih.Karena hanya kasihlah yang sanggup mengubah hati kita,perbuatan kita,cara berfikir kita,dsb. Oleh ciguangok@gmail.Com
Selasa, 27 Oktober 2009
PENGABDIAN ABADI
PENGABDIAN ABADI
Yes. 40:21-31; Mzm. 147:1-11; I Kor. 9:16-23; Mark. 1:29-39
Pengantar
Apakah yang akan kita lakukan setelah kita mengalami suatu pertolongan dari Tuhan sehingga kita dapat terbebas dari suatu penderitaan atau masalah yang begitu berat? Respon kita dapat bermacam-macam seperti muncul perasaan: bersyukur, sukacita, lega, bahagia dan terbuka harapan serta masa depan yang baru. Namun semua perasaan dan ungkapan yang positif tersebut barulah merupakan awal dari proses kehidupan kita selanjutnya. Sebab karya keselamatan Allah yang telah kita alami tersebut seharusnya makin mendorong diri kita untuk mengabdikan hidup kita seutuhnya bagi Dia. Pertolongan Allah yang telah kita alami seharusnya menjadi dasar utama bagi kita untuk melayani Dia dengan segenap hati kita. Berita inilah yang disampaikan oleh Yes. 40 kepada umat Israel yang waktu itu berada di akhir masa pembuangan di Babel. Nabi Yesaya mengajak umat Israel untuk merefleksikan pengalaman masa pembuangan yang begitu lama di Babel sebagai bentuk hukuman Allah atas dosa-dosa yang telah mereka lakukan. Apabila tak lama lagi mereka akan bebas dari pembuangan di Babel sama sekali bukan karena hasil usaha dan strategi cerdas manusia. Kelepasan mereka dari Babel bukan karena mereka memiliki kemampuan diplomasi dan “bargaining power” politis dengan para pejabat kerajaan Babel. Juga bukan karena pertolongan dari raja Koresy dari Persia yang berhasil mengalahkan kerajaan Babel pada tahun 536 sM. Tetapi sesungguhnya pembebasan mereka dari pembuangan di Babel karena karya keselamatan dan kasih karunia dari Allah. Tepatnya Allah berkenan memakai raja Koresy untuk menjadi alat pembebas dari kekuasaan raja Nebukadnezar sebab Allah telah mengampuni dosa-dosa mereka. Di Yes. 40:1-2, firman Tuhan: “Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu, tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN dua kali lipat karena segala dosanya”. Dasar yang utama dari pembebasan dari Babel adalah karena Allah telah berkenan mengampuni dosa mereka. Pembebasan dan keselamatan mereka semata-mata karena kasih-karunia Allah.
Motivasi pengabdian karena pengalaman bersyukur atas kasih-karunia Allah tentu sangat berbeda dengan seseorang yang melakukan suatu pelayanan sekedar sebagai kewajiban belaka. Sebab tugas pelayanan yang dilakukan karena sekedar suatu kewajiban akan dihayati sebagai suatu beban. Tugas tersebut tidak akan dilakukan dengan sepenuh hati. Karena itu mereka yang menghayati tugas pelayanan sebagai suatu beban tidak akan pernah mampu bersukacita, mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan dan tantangan, serta tidak akan memiliki ide-ide yang kreatif untuk mengembangkan tugas pelayanan yang dipercayakan kepadanya. Bukankah begitu banyak di antara kita yang menghayati tugas pelayanan yang dipercayakan Tuhan kepada kita hanya dihayati sebagai suatu kewajiban belaka? Dengan sikap mental yang demikian tidak mengherankan jikalau kita sering tidak tahan uji, mudah menyerah dan kehilangan semangat ketika kita menghadapi kesulitan, hambatan dan penolakan. Penyebab utama dari sikap kita yang mudah menyerah dan kehilangan semangat bukan karena munculnya begitu banyak kesulitan, hambatan dan penolakan saat kita melayani pekerjaan Tuhan; tetapi karena motivasi kita tidak didasari oleh perasaan bersyukur atas kasih-karunia Allah yang menyelamatkan kita. Jika demikian esensi yang lebih mendalam dari persoalan spiritualitas kita adalah sejauh mana kita secara personal telah mengalami karya keselamatan Allah dalam kehidupan kita? Pada sisi lain, bagaimana jika ternyata tidak setiap anggota jemaat dalam perjalanan kehidupannya belum pernah mengalami karya keselamatan Allah? Bukankah tidak setiap anggota jemaat yang dibaptis-sidi didasarkan kepada pengalaman personal dengan Tuhan? Beberapa kasus dijumpai di mana para anggota jemaat dibaptis-sidi karena “paksaan” dari keluarga dan lingkungannya. Dalam situasi demikian, makna baptisan-sidi yang mereka terima sebenarnya bukan murni karena respon mereka terhadap karya keselamatan Allah. Itu sebabnya mereka tidak terlalu terbeban untuk mengabdikan diri dengan melayani pekerjaan Tuhan. Tetapi yang lebih penting kini kita perlu terus-menerus belajar memahami makna dan tujuan hidup ini agar kita dapat mengabdi kepada Tuhan dengan sepenuh hati. Untuk itu kita perlu bertanya lebih dahulu: “Siapakah aku di tengah-tengah alam semesta ini?”
Arahkanlah Matamu Ke Langit
Di Yes. 40:25-26, Allah mengajak umatNya untuk melihat keagungan dan kemuliaanNya yang terpancar di alam semesta ini. Firman Tuhan: “Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus. Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satupun tiada yang tak hadir, oleh sebab Ia maha kuasa dan maha kuat”. Dari penelitian teknologi telekomunikasi pada masa kini kita makin disadarkan akan keluasan jagad raya yang telah diciptakan oleh Allah. Ternyata dalam alam semesta ini terdapat sekitar tiga triliun bintang dalam galaksi yang terbesar. Pada umumnya setiap galaksi berisi 200 hingga 300 milyar bintang, sementara galaksi kecil memiliki 100 milyar bintang. Sedangkan jumlah galaksi di alam semesta sekitar 300 milyar. Dengan jumlah galaksi yang sedemikian banyak sehingga sangat sulit untuk dihitung dengan alat kalkulator, maka kita dapat melihat bahwa planet bumi sebenarnya hanya seukuran 1 titik maha kecil dalam alam semesta ini. Kalau demikian seberapa besar ukuran manusia? Jangan terkejut kalau kita hanya berukuran lebih kecil dari “mikro-organisme” seperti: virus dan bakteri yang hanya dapat dilihat oleh mikroskop elektkron. Karena itu ketika diri kita merasa hebat dan besar, maka “arahkanlah matamu ke langit”. Ketika kita merasa enggan melayani Allah yang adalah pemilik dan penguasa alam semesta yang tak terbatas ini, lihatlah ke langit! Kesadaran akan posisi diri kita di alam semesta sangat diperlukan karena kehadiran kita di dunia ini sesungguhnya bukanlah suatu peristiwa yang kebetulan. Allah telah merencanakan kehidupan dan kehadiran kita agar kita mempermuliakan namaNya dengan bersedia menjadi hambaNya.
Walau dari sudut ukuran kita sama sekali tidak berarti, tetapi sangat ajaib Allah berkenan memandang kita begitu berarti bagiNya. Firman Tuhan: “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau” (Yes. 43:4a). Tetapi pengalaman hidup sehari-hari justru kita sering merasa Allah tidak peduli dengan diri kita, sebab kita terus-menerus didera oleh berbagai macam persoalan dan penderitaan. Demikian pula sikap umat Israel yang merasa Allah tidak peduli dan membiarkan mereka dihancurkan oleh kerajaan Babel dan dibuang di Babel selama 50 tahun lebih. Di Yes. 40:27, mereka mengungkapkan kekesalannya kepada Tuhan: Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: "Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?" Mereka melupakan satu kenyataan, yaitu dosa dan pemberontakan mereka melawan Allah yang menyebabkan Allah kemudian menyerahkan mereka kepada kerajaan Babel. Walaupun demikian Allah tetap menyayangi mereka dengan kasih yang tidak pernah putus-putusnya. Anugerah Allah senantiasa menopang mereka sehingga Dia terus-menerus memberi kekuatan dan semangat baru bagi umat yang kehilangan harapan. Allah yang perkasa dan maha-kuasa ternyata sangat peduli dengan umat yang hidupnya seperti rumput (Yes. 40:6). Dengan keadaan umat yang berkeluh-kesah dan merasa haknya tidak diperhatikan oleh Allah, maka Allah kemudian berfirman: “Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya” (Yes. 40:28-29). Kasih Allah sungguh tak terperikan, tanpa syarat dan terus-bekerja melampaui seluruh kelemahan serta keberdosaan kita. Sehingga Dia terus berkenan menopang keberlangsungan alam semesta dan kehidupan kita di planet bumi ini. Padahal menurut perhitungan, seandainya planet bumi ini hancur dan lenyap, tidak akan menimbulkan sesuatu yang berarti bagi tatanan galaksi di alam semesta. Jagad raya ini terlalu luas dan sangat kompleks tak terbatas, sehingga kehilangan satu planet bernama bumi termasuk umat manusia sebenarnya bukan hal yang luar-biasa. Tetapi kasih Allah yang sungguh luar-biasa. Allah yang adalah sang Pencipta dan Pemelihara alam semesta berkenan “mengabdikan” diriNya untuk memelihara dan menyelamatkan manusia. Dengan pemahaman teologis ini, nabi Yesaya memberikan orientasi dan pemaknaan hidup yang baru terhadap umat Israel agar mereka sungguh-sungguh mempermuliakan nama Allah dan menjadi para hambaNya yang setia. Sehingga dalam keadaan yang sangat sulit dan penuh derita mereka tidak akan pernah tergoda untuk mengabdikan dirinya atau menyembah kepada “ilah lain” seperti dewa Marduk yang sangat dipuja oleh penduduk kerajaan Babel. Allah menantang umatNya: “Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus” (Yes. 40:25).
Menjadi Hamba Bagi Semua Orang
Umat yang menyadari makna pelayanan kepada Allah sebagai suatu kehormatan akan bersedia menjadi pembawa kabar baik bagi sesamanya (bdk. Yes. 40:9). Mereka akan dengan sukacita menjadi seorang abdi Allah untuk senantiasa memberitakan pekerjaan Allah yang sungguh ajaib dan menyelamatkan kehidupan setiap umatNya (Mzm. 147:3-6). Apalagi mereka kemudian mengenal karya keselamatan Allah di dalam Yesus Kristus. Maka pastilah mereka akan mencurahkan seluruh waktu, tenaga, pikiran, dan hidup mereka untuk memberitakan karya keselamatan Allah yang agung itu. Alasan inilah yang mendasari rasul Paulus untuk memberitakan Injil Kristus. Bagi rasul Paulus tugas memberitakan Injil pada hakikatnya suatu kehormatan dan kemuliaan yang telah dipercayakan oleh Allah kepadanya. Sehingga dia melakukan tugas pemberitaan Injil sebagai suatu keharusan yang datang dari lubuk hatinya yang paling dalam: “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (I Kor. 9:16). Pengabdian diri itulah yang menyebabkan rasul Paulus tidak ingin memperoleh kehormatan dan pujian apapun selain dipercaya oleh Allah untuk memberitakan Injil Kristus. Bahkan rasul Paulus sama sekali tidak pernah mengharapkan upah untuk kerja kerasnya dalam memberitakan Injil. Padahal kita tahu bahwa rasul Paulus telah mencurahkan seluruh tenaga, pemikiran yang sangat mendalam dan mempertaruhkan hidupnya selama dia mengabdikan diri sebagai pelayan Kristus. Tetapi sama sekali haknya untuk memperoleh upah dilepaskan oleh rasul Paulus dengan penuh kerelaan. Sebab bagi rasul Paulus makna upah yang paling mulia dalam kehidupan ini adalah: “Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil” (I Kor. 9:18).
Selaku abdi Kristus, selain rasul Paulus tidak pernah menuntut upah, dia juga ingin menjadikan dirinya sangat efektif untuk membawa sesama bagi Kristus. Itu sebabnya secara sadar dan sukarela rasul Paulus mau menjadikan dirinya hamba bagi semua orang supaya dia dapat memenangkan sebanyak mungkin orang (I Kor. 9:19). Di manapun rasul Paulus berada dia ingin menyelami seseorang sesuai dengan keberadaan orang tersebut agar dia dapat memberitakan Injil yang sesuai dengan konteksnya. Tepatnya dalam tugasnya untuk memberitakan Injil rasul Paulus berupaya untuk senantiasa berempati dan mengindentifikasi dirinya di tempat sesamanya berada sehingga dia dapat membawa mereka kepada Kristus. Itu sebabnya rasul Paulus berkata: “Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka” ( I Kor. 9:22). Dengan demikian makna pengabdian bagi rasul Paulus bukan sekedar suatu kemungkinan untuk tidak memperoleh upah yang bersifat materi; tetapi lebih dari pada itu yaitu suatu spiritualitas yang bersedia menjadikan dirinya hamba bagi semua orang agar mereka memperoleh keselamatan di dalam Yesus Kristus. Jadi makna pengabdian sejati tidak pernah menuntut tetapi selalu bersedia melepaskan apa yang menjadi haknya secara sukarela, dan juga bersedia melepaskan kepentingan diri sehingga dia melayani setiap sesamanya dengan segenap hati. Tetapi bagaimanakah dengan spiritualitas hidup yang kita jalani sebagai seorang abdi Allah dalam menenuaikan pekerjaan atau pelayanan yang telah dipercayakan Kristus kepada kita? Bukankah kita lebih sering banyak menuntut kepada Allah dan sesama, yaitu cenderung menuntut untuk memperoleh upah secara “materi” dan upah secara “rohaniah”? Tuntutan upah secara “materi” adalah ketika kita sangat mengharapkan untuk memperoleh penghargaan berupa uang bagi pelayanan yang kita anggap telah dilakukan secara profesional dan sepenuh hati. Sedang tuntutan upah secara rohaniah adalah saat kita mengharap penghargaan dan pujian dari sesama sehingga kita bersikap alergi terhadap semua kritik atau celaan. Padahal dengan latar-belakang spiritualitas yang demikian, sesungguhnya kita belum pernah dapat menjadikan diri kita sebagai hamba bagi semua orang. Lebih tepat secara sadar atau tidak sadar kita lebih sering menjadikan sesama yang kita layani sebagai hamba untuk kepentingan diri kita.
Efisien Waktu Dan Efektivitas Tugas
Ciri khas dari kesaksian Injil Markus adalah mengisahkan pelayanan Tuhan Yesus dengan keterangan “euthus” yang artinya: “dengan segera”, “sekarang juga” (immediately). Artinya Injil Markus mau menjelaskan bahwa pelayanan Yesus ditandai oleh kesadaran akan waktu yang serba terbatas sehingga dilakukan oleh Tuhan Yesus secara efisien. Di Mark. 1:29 dimunculkan perkataan “euthus” yang tidak terlihat dalam terjemahan Alkitab terbitan LAI. Padahal seharusnya bunyi terjemahan Mark. 1:29 adalah: “Dan dengan segera sekeluarnya Yesus dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas”. Sehingga dalam Mark. 1:29-39 kita dapat menyaksikan karya penyelamatan Kristus yang beraneka-ragam hanya dalam satu hari saja! Tuhan Yesus dalam mengabdikan diriNya selaku Messias yang kudus dari Allah sungguh-sungguh efektif dalam menyatakan karya keselamatan Allah. Dia menyembuhkan ibu mertua Petrus, lalu Dia menyembuhkan semua orang yang datang dengan berbagai macam penyakit dan kerasukan setan, kemudian pagi-pagi benar saat hari masih gelap Yesus berdoa, setelah itu Yesus pergi memberitakan Injil ke kota-kota terdekat. Semua tugas pelayanan itu diselesaikan oleh Tuhan Yesus secara efektif namun tetap efisien dalam waktu. Jadi Injil Markus mau menyaksikan Tuhan Yesus tidak memiliki waktu untuk bersenang-senang bagi diriNya sendiri. Tetapi pada sisi lain Dia juga bukan tipe orang yang mudah dikejar-kejar oleh waktu dan pekerjaan. Itu sebabnya di tengah-tengah pelayanan yang selalu dikerumuni oleh orang banyak, Tuhan Yesus tetap menyisihkan waktu yang khusus untuk berdoa kepada BapaNya. Tuhan Yesus tahu secara persis kapan Dia harus bertindak untuk menyembuhkan atau melepaskan seseorang dari kuasa setan, dan kapan Dia harus berdiam diri dan berkontemplasi. Dengan demikian, dalam mengabdikan diriNya Tuhan Yesus tidak sekedar melakukan suatu tindakan yang sifatnya “aktivisme”, tetapi semuanya ditempatkan kerangka waktu dan perencanaan Allah. Efisiensi waktu dalam pelayananNya didasarkan kepada ketaatan Dia melakukan kehendak BapaNya yang di sorga. Dengan demikian Tuhan Yesus sungguh-sungguh telah memerankan tugas pelayananNya dengan pengabdian yang sempurna kepada Allah.
Makna pengabdian diri yang seutuhnya kepada Allah terkait langsung dengan pola pengelolaan waktu secara efisien namun tetap menghasilkan pelayanan yang efektif yaitu pelayanan yang berdaya guna bagi banyak orang. Ketika pelayanan kita selalu fokus, yaitu tertuju hanya kepada kemuliaan Kristus dan kehendak Allah maka kita tidak akan mudah menyia-nyiakan waktu untuk bermanja diri dan memikirkan kepentingan diri sendiri. Namun yang kita lakukan justru karena kita sering kurang fokus untuk mengabdikan diri secara penuh. Panggilan untuk mengabdikan diri kepada Allah di sana-sini masih disertai oleh egoisme diri, sehingga secara kuantitatif pelayanan kita memang cukup banyak (bervariasi) tetapi sebenarnya hubungan atau relasi kita dengan Allah tidaklah harmonis. Kita sering mengklaim sedang melakukan pekerjaan atau program Allah, tetapi hati kita jauh dari kasih kepada Allah. Itu sebabnya secara fisik kelihatannya kita sangat sibuk melakukan pekerjaan Tuhan, tetapi sebenarnya kita lakukan untuk melayani diri sendiri. Pelayanan sering dijadikan pelarian/kompensasi. Bukankah lebih terhormat kita dianggap sedang pelayanan kepada Tuhan dari pada kita dianggap tidak memiliki kegiatan apapun? Jika demikian makna pelayanan dan pengabdian diri sering dipakai untuk menyembunyikan kekurangan dan kelemahan diri. Tetapi tidaklah demikian yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Tugas memberitakan Injil dan karya keselamatan Allah sungguh-sungguh dijadikan oleh Tuhan Yesus sebagai misi utamaNya. Itu sebabnya Tuhan Yesus berkata: "Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang" (Mark. 1:38). Jadi pernyataan Tuhan Yesus yang berkata: “karena untuk itu Aku telah datang” dapat juga kita terapkan dalam kehidupan kita sebagai seorang abdi Allah, yaitu “karena untuk itu aku lahir dan hidup”. Dengan sikap demikian, kehidupan kita akan selalu fokus untuk melakukan karya keselamatan Kristus.
Panggilan
Pelayanan sebagai wujud pengabdian diri perlu dilandasi oleh kesadaran iman bahwa sebenarnya diri kita begitu kecil di tengah-tengah alam semesta yang tak terbatas ini. Tetapi Allah berkenan memakai kita untuk melayaniNya. Bahkan di dalam Kristus, Allah yang tak terbatas bersedia menjadi terbatas agar Dia dapat menjangkau dan menyelamatkan kita. Karena itu sebagai orang yang diselamatkan oleh kasih dan anugerah Allah, kita dipanggil untuk rela menjadi hamba bagi semua orang agar kita dapat memenangkan hati mereka bagi kemuliaan Allah. Jika demikian, apakah kita sungguh-sungguh mau menggunakan waktu yang disediakan oleh Tuhan secara efisien? Apakah pelayanan kita hanya berfokus kepada kemuliaan Kristus? Dan apabila kita sering merasa lemah dan tak berdaya, ingatlah bahwa Allah akan senantiasa menopang kita. Allah berfirman: “Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” (Yes. 40:31). Amin.
Yes. 40:21-31; Mzm. 147:1-11; I Kor. 9:16-23; Mark. 1:29-39
Pengantar
Apakah yang akan kita lakukan setelah kita mengalami suatu pertolongan dari Tuhan sehingga kita dapat terbebas dari suatu penderitaan atau masalah yang begitu berat? Respon kita dapat bermacam-macam seperti muncul perasaan: bersyukur, sukacita, lega, bahagia dan terbuka harapan serta masa depan yang baru. Namun semua perasaan dan ungkapan yang positif tersebut barulah merupakan awal dari proses kehidupan kita selanjutnya. Sebab karya keselamatan Allah yang telah kita alami tersebut seharusnya makin mendorong diri kita untuk mengabdikan hidup kita seutuhnya bagi Dia. Pertolongan Allah yang telah kita alami seharusnya menjadi dasar utama bagi kita untuk melayani Dia dengan segenap hati kita. Berita inilah yang disampaikan oleh Yes. 40 kepada umat Israel yang waktu itu berada di akhir masa pembuangan di Babel. Nabi Yesaya mengajak umat Israel untuk merefleksikan pengalaman masa pembuangan yang begitu lama di Babel sebagai bentuk hukuman Allah atas dosa-dosa yang telah mereka lakukan. Apabila tak lama lagi mereka akan bebas dari pembuangan di Babel sama sekali bukan karena hasil usaha dan strategi cerdas manusia. Kelepasan mereka dari Babel bukan karena mereka memiliki kemampuan diplomasi dan “bargaining power” politis dengan para pejabat kerajaan Babel. Juga bukan karena pertolongan dari raja Koresy dari Persia yang berhasil mengalahkan kerajaan Babel pada tahun 536 sM. Tetapi sesungguhnya pembebasan mereka dari pembuangan di Babel karena karya keselamatan dan kasih karunia dari Allah. Tepatnya Allah berkenan memakai raja Koresy untuk menjadi alat pembebas dari kekuasaan raja Nebukadnezar sebab Allah telah mengampuni dosa-dosa mereka. Di Yes. 40:1-2, firman Tuhan: “Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu, tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN dua kali lipat karena segala dosanya”. Dasar yang utama dari pembebasan dari Babel adalah karena Allah telah berkenan mengampuni dosa mereka. Pembebasan dan keselamatan mereka semata-mata karena kasih-karunia Allah.
Motivasi pengabdian karena pengalaman bersyukur atas kasih-karunia Allah tentu sangat berbeda dengan seseorang yang melakukan suatu pelayanan sekedar sebagai kewajiban belaka. Sebab tugas pelayanan yang dilakukan karena sekedar suatu kewajiban akan dihayati sebagai suatu beban. Tugas tersebut tidak akan dilakukan dengan sepenuh hati. Karena itu mereka yang menghayati tugas pelayanan sebagai suatu beban tidak akan pernah mampu bersukacita, mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan dan tantangan, serta tidak akan memiliki ide-ide yang kreatif untuk mengembangkan tugas pelayanan yang dipercayakan kepadanya. Bukankah begitu banyak di antara kita yang menghayati tugas pelayanan yang dipercayakan Tuhan kepada kita hanya dihayati sebagai suatu kewajiban belaka? Dengan sikap mental yang demikian tidak mengherankan jikalau kita sering tidak tahan uji, mudah menyerah dan kehilangan semangat ketika kita menghadapi kesulitan, hambatan dan penolakan. Penyebab utama dari sikap kita yang mudah menyerah dan kehilangan semangat bukan karena munculnya begitu banyak kesulitan, hambatan dan penolakan saat kita melayani pekerjaan Tuhan; tetapi karena motivasi kita tidak didasari oleh perasaan bersyukur atas kasih-karunia Allah yang menyelamatkan kita. Jika demikian esensi yang lebih mendalam dari persoalan spiritualitas kita adalah sejauh mana kita secara personal telah mengalami karya keselamatan Allah dalam kehidupan kita? Pada sisi lain, bagaimana jika ternyata tidak setiap anggota jemaat dalam perjalanan kehidupannya belum pernah mengalami karya keselamatan Allah? Bukankah tidak setiap anggota jemaat yang dibaptis-sidi didasarkan kepada pengalaman personal dengan Tuhan? Beberapa kasus dijumpai di mana para anggota jemaat dibaptis-sidi karena “paksaan” dari keluarga dan lingkungannya. Dalam situasi demikian, makna baptisan-sidi yang mereka terima sebenarnya bukan murni karena respon mereka terhadap karya keselamatan Allah. Itu sebabnya mereka tidak terlalu terbeban untuk mengabdikan diri dengan melayani pekerjaan Tuhan. Tetapi yang lebih penting kini kita perlu terus-menerus belajar memahami makna dan tujuan hidup ini agar kita dapat mengabdi kepada Tuhan dengan sepenuh hati. Untuk itu kita perlu bertanya lebih dahulu: “Siapakah aku di tengah-tengah alam semesta ini?”
Arahkanlah Matamu Ke Langit
Di Yes. 40:25-26, Allah mengajak umatNya untuk melihat keagungan dan kemuliaanNya yang terpancar di alam semesta ini. Firman Tuhan: “Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus. Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satupun tiada yang tak hadir, oleh sebab Ia maha kuasa dan maha kuat”. Dari penelitian teknologi telekomunikasi pada masa kini kita makin disadarkan akan keluasan jagad raya yang telah diciptakan oleh Allah. Ternyata dalam alam semesta ini terdapat sekitar tiga triliun bintang dalam galaksi yang terbesar. Pada umumnya setiap galaksi berisi 200 hingga 300 milyar bintang, sementara galaksi kecil memiliki 100 milyar bintang. Sedangkan jumlah galaksi di alam semesta sekitar 300 milyar. Dengan jumlah galaksi yang sedemikian banyak sehingga sangat sulit untuk dihitung dengan alat kalkulator, maka kita dapat melihat bahwa planet bumi sebenarnya hanya seukuran 1 titik maha kecil dalam alam semesta ini. Kalau demikian seberapa besar ukuran manusia? Jangan terkejut kalau kita hanya berukuran lebih kecil dari “mikro-organisme” seperti: virus dan bakteri yang hanya dapat dilihat oleh mikroskop elektkron. Karena itu ketika diri kita merasa hebat dan besar, maka “arahkanlah matamu ke langit”. Ketika kita merasa enggan melayani Allah yang adalah pemilik dan penguasa alam semesta yang tak terbatas ini, lihatlah ke langit! Kesadaran akan posisi diri kita di alam semesta sangat diperlukan karena kehadiran kita di dunia ini sesungguhnya bukanlah suatu peristiwa yang kebetulan. Allah telah merencanakan kehidupan dan kehadiran kita agar kita mempermuliakan namaNya dengan bersedia menjadi hambaNya.
Walau dari sudut ukuran kita sama sekali tidak berarti, tetapi sangat ajaib Allah berkenan memandang kita begitu berarti bagiNya. Firman Tuhan: “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau” (Yes. 43:4a). Tetapi pengalaman hidup sehari-hari justru kita sering merasa Allah tidak peduli dengan diri kita, sebab kita terus-menerus didera oleh berbagai macam persoalan dan penderitaan. Demikian pula sikap umat Israel yang merasa Allah tidak peduli dan membiarkan mereka dihancurkan oleh kerajaan Babel dan dibuang di Babel selama 50 tahun lebih. Di Yes. 40:27, mereka mengungkapkan kekesalannya kepada Tuhan: Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: "Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?" Mereka melupakan satu kenyataan, yaitu dosa dan pemberontakan mereka melawan Allah yang menyebabkan Allah kemudian menyerahkan mereka kepada kerajaan Babel. Walaupun demikian Allah tetap menyayangi mereka dengan kasih yang tidak pernah putus-putusnya. Anugerah Allah senantiasa menopang mereka sehingga Dia terus-menerus memberi kekuatan dan semangat baru bagi umat yang kehilangan harapan. Allah yang perkasa dan maha-kuasa ternyata sangat peduli dengan umat yang hidupnya seperti rumput (Yes. 40:6). Dengan keadaan umat yang berkeluh-kesah dan merasa haknya tidak diperhatikan oleh Allah, maka Allah kemudian berfirman: “Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya” (Yes. 40:28-29). Kasih Allah sungguh tak terperikan, tanpa syarat dan terus-bekerja melampaui seluruh kelemahan serta keberdosaan kita. Sehingga Dia terus berkenan menopang keberlangsungan alam semesta dan kehidupan kita di planet bumi ini. Padahal menurut perhitungan, seandainya planet bumi ini hancur dan lenyap, tidak akan menimbulkan sesuatu yang berarti bagi tatanan galaksi di alam semesta. Jagad raya ini terlalu luas dan sangat kompleks tak terbatas, sehingga kehilangan satu planet bernama bumi termasuk umat manusia sebenarnya bukan hal yang luar-biasa. Tetapi kasih Allah yang sungguh luar-biasa. Allah yang adalah sang Pencipta dan Pemelihara alam semesta berkenan “mengabdikan” diriNya untuk memelihara dan menyelamatkan manusia. Dengan pemahaman teologis ini, nabi Yesaya memberikan orientasi dan pemaknaan hidup yang baru terhadap umat Israel agar mereka sungguh-sungguh mempermuliakan nama Allah dan menjadi para hambaNya yang setia. Sehingga dalam keadaan yang sangat sulit dan penuh derita mereka tidak akan pernah tergoda untuk mengabdikan dirinya atau menyembah kepada “ilah lain” seperti dewa Marduk yang sangat dipuja oleh penduduk kerajaan Babel. Allah menantang umatNya: “Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus” (Yes. 40:25).
Menjadi Hamba Bagi Semua Orang
Umat yang menyadari makna pelayanan kepada Allah sebagai suatu kehormatan akan bersedia menjadi pembawa kabar baik bagi sesamanya (bdk. Yes. 40:9). Mereka akan dengan sukacita menjadi seorang abdi Allah untuk senantiasa memberitakan pekerjaan Allah yang sungguh ajaib dan menyelamatkan kehidupan setiap umatNya (Mzm. 147:3-6). Apalagi mereka kemudian mengenal karya keselamatan Allah di dalam Yesus Kristus. Maka pastilah mereka akan mencurahkan seluruh waktu, tenaga, pikiran, dan hidup mereka untuk memberitakan karya keselamatan Allah yang agung itu. Alasan inilah yang mendasari rasul Paulus untuk memberitakan Injil Kristus. Bagi rasul Paulus tugas memberitakan Injil pada hakikatnya suatu kehormatan dan kemuliaan yang telah dipercayakan oleh Allah kepadanya. Sehingga dia melakukan tugas pemberitaan Injil sebagai suatu keharusan yang datang dari lubuk hatinya yang paling dalam: “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (I Kor. 9:16). Pengabdian diri itulah yang menyebabkan rasul Paulus tidak ingin memperoleh kehormatan dan pujian apapun selain dipercaya oleh Allah untuk memberitakan Injil Kristus. Bahkan rasul Paulus sama sekali tidak pernah mengharapkan upah untuk kerja kerasnya dalam memberitakan Injil. Padahal kita tahu bahwa rasul Paulus telah mencurahkan seluruh tenaga, pemikiran yang sangat mendalam dan mempertaruhkan hidupnya selama dia mengabdikan diri sebagai pelayan Kristus. Tetapi sama sekali haknya untuk memperoleh upah dilepaskan oleh rasul Paulus dengan penuh kerelaan. Sebab bagi rasul Paulus makna upah yang paling mulia dalam kehidupan ini adalah: “Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil” (I Kor. 9:18).
Selaku abdi Kristus, selain rasul Paulus tidak pernah menuntut upah, dia juga ingin menjadikan dirinya sangat efektif untuk membawa sesama bagi Kristus. Itu sebabnya secara sadar dan sukarela rasul Paulus mau menjadikan dirinya hamba bagi semua orang supaya dia dapat memenangkan sebanyak mungkin orang (I Kor. 9:19). Di manapun rasul Paulus berada dia ingin menyelami seseorang sesuai dengan keberadaan orang tersebut agar dia dapat memberitakan Injil yang sesuai dengan konteksnya. Tepatnya dalam tugasnya untuk memberitakan Injil rasul Paulus berupaya untuk senantiasa berempati dan mengindentifikasi dirinya di tempat sesamanya berada sehingga dia dapat membawa mereka kepada Kristus. Itu sebabnya rasul Paulus berkata: “Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka” ( I Kor. 9:22). Dengan demikian makna pengabdian bagi rasul Paulus bukan sekedar suatu kemungkinan untuk tidak memperoleh upah yang bersifat materi; tetapi lebih dari pada itu yaitu suatu spiritualitas yang bersedia menjadikan dirinya hamba bagi semua orang agar mereka memperoleh keselamatan di dalam Yesus Kristus. Jadi makna pengabdian sejati tidak pernah menuntut tetapi selalu bersedia melepaskan apa yang menjadi haknya secara sukarela, dan juga bersedia melepaskan kepentingan diri sehingga dia melayani setiap sesamanya dengan segenap hati. Tetapi bagaimanakah dengan spiritualitas hidup yang kita jalani sebagai seorang abdi Allah dalam menenuaikan pekerjaan atau pelayanan yang telah dipercayakan Kristus kepada kita? Bukankah kita lebih sering banyak menuntut kepada Allah dan sesama, yaitu cenderung menuntut untuk memperoleh upah secara “materi” dan upah secara “rohaniah”? Tuntutan upah secara “materi” adalah ketika kita sangat mengharapkan untuk memperoleh penghargaan berupa uang bagi pelayanan yang kita anggap telah dilakukan secara profesional dan sepenuh hati. Sedang tuntutan upah secara rohaniah adalah saat kita mengharap penghargaan dan pujian dari sesama sehingga kita bersikap alergi terhadap semua kritik atau celaan. Padahal dengan latar-belakang spiritualitas yang demikian, sesungguhnya kita belum pernah dapat menjadikan diri kita sebagai hamba bagi semua orang. Lebih tepat secara sadar atau tidak sadar kita lebih sering menjadikan sesama yang kita layani sebagai hamba untuk kepentingan diri kita.
Efisien Waktu Dan Efektivitas Tugas
Ciri khas dari kesaksian Injil Markus adalah mengisahkan pelayanan Tuhan Yesus dengan keterangan “euthus” yang artinya: “dengan segera”, “sekarang juga” (immediately). Artinya Injil Markus mau menjelaskan bahwa pelayanan Yesus ditandai oleh kesadaran akan waktu yang serba terbatas sehingga dilakukan oleh Tuhan Yesus secara efisien. Di Mark. 1:29 dimunculkan perkataan “euthus” yang tidak terlihat dalam terjemahan Alkitab terbitan LAI. Padahal seharusnya bunyi terjemahan Mark. 1:29 adalah: “Dan dengan segera sekeluarnya Yesus dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas”. Sehingga dalam Mark. 1:29-39 kita dapat menyaksikan karya penyelamatan Kristus yang beraneka-ragam hanya dalam satu hari saja! Tuhan Yesus dalam mengabdikan diriNya selaku Messias yang kudus dari Allah sungguh-sungguh efektif dalam menyatakan karya keselamatan Allah. Dia menyembuhkan ibu mertua Petrus, lalu Dia menyembuhkan semua orang yang datang dengan berbagai macam penyakit dan kerasukan setan, kemudian pagi-pagi benar saat hari masih gelap Yesus berdoa, setelah itu Yesus pergi memberitakan Injil ke kota-kota terdekat. Semua tugas pelayanan itu diselesaikan oleh Tuhan Yesus secara efektif namun tetap efisien dalam waktu. Jadi Injil Markus mau menyaksikan Tuhan Yesus tidak memiliki waktu untuk bersenang-senang bagi diriNya sendiri. Tetapi pada sisi lain Dia juga bukan tipe orang yang mudah dikejar-kejar oleh waktu dan pekerjaan. Itu sebabnya di tengah-tengah pelayanan yang selalu dikerumuni oleh orang banyak, Tuhan Yesus tetap menyisihkan waktu yang khusus untuk berdoa kepada BapaNya. Tuhan Yesus tahu secara persis kapan Dia harus bertindak untuk menyembuhkan atau melepaskan seseorang dari kuasa setan, dan kapan Dia harus berdiam diri dan berkontemplasi. Dengan demikian, dalam mengabdikan diriNya Tuhan Yesus tidak sekedar melakukan suatu tindakan yang sifatnya “aktivisme”, tetapi semuanya ditempatkan kerangka waktu dan perencanaan Allah. Efisiensi waktu dalam pelayananNya didasarkan kepada ketaatan Dia melakukan kehendak BapaNya yang di sorga. Dengan demikian Tuhan Yesus sungguh-sungguh telah memerankan tugas pelayananNya dengan pengabdian yang sempurna kepada Allah.
Makna pengabdian diri yang seutuhnya kepada Allah terkait langsung dengan pola pengelolaan waktu secara efisien namun tetap menghasilkan pelayanan yang efektif yaitu pelayanan yang berdaya guna bagi banyak orang. Ketika pelayanan kita selalu fokus, yaitu tertuju hanya kepada kemuliaan Kristus dan kehendak Allah maka kita tidak akan mudah menyia-nyiakan waktu untuk bermanja diri dan memikirkan kepentingan diri sendiri. Namun yang kita lakukan justru karena kita sering kurang fokus untuk mengabdikan diri secara penuh. Panggilan untuk mengabdikan diri kepada Allah di sana-sini masih disertai oleh egoisme diri, sehingga secara kuantitatif pelayanan kita memang cukup banyak (bervariasi) tetapi sebenarnya hubungan atau relasi kita dengan Allah tidaklah harmonis. Kita sering mengklaim sedang melakukan pekerjaan atau program Allah, tetapi hati kita jauh dari kasih kepada Allah. Itu sebabnya secara fisik kelihatannya kita sangat sibuk melakukan pekerjaan Tuhan, tetapi sebenarnya kita lakukan untuk melayani diri sendiri. Pelayanan sering dijadikan pelarian/kompensasi. Bukankah lebih terhormat kita dianggap sedang pelayanan kepada Tuhan dari pada kita dianggap tidak memiliki kegiatan apapun? Jika demikian makna pelayanan dan pengabdian diri sering dipakai untuk menyembunyikan kekurangan dan kelemahan diri. Tetapi tidaklah demikian yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Tugas memberitakan Injil dan karya keselamatan Allah sungguh-sungguh dijadikan oleh Tuhan Yesus sebagai misi utamaNya. Itu sebabnya Tuhan Yesus berkata: "Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang" (Mark. 1:38). Jadi pernyataan Tuhan Yesus yang berkata: “karena untuk itu Aku telah datang” dapat juga kita terapkan dalam kehidupan kita sebagai seorang abdi Allah, yaitu “karena untuk itu aku lahir dan hidup”. Dengan sikap demikian, kehidupan kita akan selalu fokus untuk melakukan karya keselamatan Kristus.
Panggilan
Pelayanan sebagai wujud pengabdian diri perlu dilandasi oleh kesadaran iman bahwa sebenarnya diri kita begitu kecil di tengah-tengah alam semesta yang tak terbatas ini. Tetapi Allah berkenan memakai kita untuk melayaniNya. Bahkan di dalam Kristus, Allah yang tak terbatas bersedia menjadi terbatas agar Dia dapat menjangkau dan menyelamatkan kita. Karena itu sebagai orang yang diselamatkan oleh kasih dan anugerah Allah, kita dipanggil untuk rela menjadi hamba bagi semua orang agar kita dapat memenangkan hati mereka bagi kemuliaan Allah. Jika demikian, apakah kita sungguh-sungguh mau menggunakan waktu yang disediakan oleh Tuhan secara efisien? Apakah pelayanan kita hanya berfokus kepada kemuliaan Kristus? Dan apabila kita sering merasa lemah dan tak berdaya, ingatlah bahwa Allah akan senantiasa menopang kita. Allah berfirman: “Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” (Yes. 40:31). Amin.
AKU PERCAYA ALLAH MENOLONG
AKU PERCAYA ALLAH MENOLONG
II Raj. 5:1-14; Mzm. 30; I Kor. 9:24-27; Mark. 1:40-45
Pengantar
Lepra termasuk penyakit kulit yang disebabkan oleh bakteri: “Mycobacterium leprae”. Tidak mengherankan jikalau masyarakat di manapun berada sangat takut untuk bersentuhan dengan penderita lepra. Sebab penyakit lepra dianggap mudah menular dan juga dapat mengakibatkan cacat jasmani kepada penderitanya. Akibatnya penderita lepra sepanjang zaman sering dikucilkan dari pergaulan masyarakat. Pada zaman dahulu penderita lepra umumnya lebih menderita lagi, sebab mereka harus mengenakan pakaian yang tercabik-cabik dengan rambut yang terurai. Apabila mereka bertemu dengan orang yang sehat, maka mereka harus berseru-seru: “Najis, najis!” (Im. 13:45-46). Kita tidak dapat membayangkan keadaan fisik dan penampilan penderita lepra yang begitu buruk dan mengerikan. Keadaan tubuh yang tidak utuh, wajah yang rusak oleh penyakit dan penderitaan, ditambah dengan pakaian yang harus tercabik-cabik dan rambut yang kusut terurai. Karena itu penyakit lepra sering diidentikkan sebagai penyakit kutukan atau hukuman dari Tuhan. Tetapi syukurlah penyakit lepra pada masa kini telah ditemukan obatnya, yaitu: “Multi Drug Therapy” (MDT), sehingga penderita lepra pada masa kini tidak harus menerima stigma sebagai penyandang penyakit kutukan dan diasingkan dari pergaulan dengan anggota masyarakat.
Apabila penyandang lepra pada zaman dahulu diasingkan dari pergaulan masyarakat, maka timbul pertanyaan berkenaan dengan tokoh Naaman yang disebut sebagai penderita lepra. Di kitab II Raj. 5 dikisahkan bagaimana Naaman tetap dapat tinggal di rumah bersama anggota keluarganya. Tampaknya penyakit lepra yang disandang oleh Naaman saat itu belum tergolong parah. Sebagaimana kita ketahui bahwa penyakit lepra sebenarnya berkembang-biak sangat lambat, sehingga gejalanya baru muncul minimal 1 tahun setelah terinfeksi. Jadi penyakit lepra baru akan muncul pada tahun kelima sampai ketujuh. Gejala dan tanda yang muncul tergantung kepada respon kekebalan atau stamina penderita. Tetapi bagaimanapun juga orang-orang di sekitar Naaman mengetahui bahwa dia sedang mengidap gejala penyakit lepra. Sehingga Naaman akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan para prajurit dan pegawainya. Walau Naaman disebut sebagai seorang panglima perang yang terpandang dan sangat disayangi oleh raja Aram, tetapi keadaan penyakitnya akan menghalangi dia untuk bergaul dengan siapapun juga. Mereka akan merasa jijik dan takut untuk bersentuhan langsung dengan Naaman. Kemenangan perang yang berhasil diraih oleh Naaman sehingga membawa keharuman bagi bangsanya, yaitu Aram tidak akan mengubah keadaan psikologis orang banyak yang tetap merasa takut dan jijik saat mereka bersentuhan dengan Naaman. Seperti halnya kita juga akan merasa jijik dan takut untuk bersalaman dengan seorang panglima ABRI, bahkan dengan seorang presiden sekalipun apabila dia mengidap penyakit lepra. Dengan kata lain, Naaman tetap merasa dirinya tersingkir dan sangat sulit untuk berkomunikasi secara wajar. Tentunya sebagai seorang pembesar yang sangat terkemuka di kerajaan Aram, Naaman telah berupaya untuk berobat untuk menyembuhkan penyakitnya. Semua ahli medis pada zaman itu mungkin telah dikerahkan untuk menyembuhkan penyakit lepra yang diderita oleh Naaman. Tetapi tidak satupun di antara para ahli medis zaman itu yang berhasil menolong dan menyembuhkan Naaman. Sampai suatu hari dia mendengar dari isterinya, bahwa anak perempuan yang menjadi budak di rumahnya berkata: "Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya" (II Raj. 5:3).
Walaupun informasi tersebut hanya dikemukakan oleh seorang anak perempuan Israel yang menjadi budak di rumahnya, tetapi bagi Naaman informasi tersebut telah membangkitkan suatu pengharapan. Dia segera minta izin dari raja Aram, yaitu raja Ben Hadad dengan membawa persembahan sepuluh talenta perak dan enam ribu syikal emas dan sepuluh potong pakaian kepada raja Israel yaitu raja Yoram (849-842 sM). Bila dikurs, maka persembahan yang dibawa oleh Naaman bernilai sekitar $ 700.000 (= Rp. 7.700.000.000,-). Suatu jumlah yang sangat fantastis sebagai simbolisasi harapan yang begitu besar bagi Naaman untuk segera memperoleh kesembuhan dari nabi Elisa. Tetapi bagi raja Israel, permohonan dan persembahan Naaman tersebut dianggap sebagai upaya politis agar terjadi konflik antara Aram dengan Israel. Karena raja Israel merasa tidak sanggup untuk menolong dan menyembuhkan penyakit lepra yang diidap oleh Naaman.
Nabi Elisa Mencari Kehormatan Diri Sendiri?
Raja Yoram di Israel begitu putus-asa karena dia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menyembuhkan Naaman. Saat itulah nabi Elisa memberi solusi agar Naaman datang ke rumahnya. Kata nabi Elisa: "Mengapa engkau mengoyakkan pakaianmu? Biarlah ia datang kepadaku, supaya ia tahu bahwa ada seorang nabi di Israel" (II Raj. 5:8). Apa yang ingin dilakukan oleh nabi Elisa untuk menyembuhkan Naaman ternyata sama sekali bukan karena dia ingin menyelamatkan reputasi raja Yoram. Tetapi nabi Elisa mau menyembuhkan Naaman dengan suatu alasan, yaitu: “supaya ia tahu bahwa ada seorang nabi di Israel" . Ungkapan nabi Elisa tersebut sepertinya mau menyatakan bahwa kehadiran dan perannya sebagai seorang nabi Israel begitu penting sehingga mampu menggeser kewajiban nabi Elisa sebagai seorang warga-negara yang baik untuk menyelamatkan reputasi dan keselamatan raja Yoram di hadapan raja tetangganya, yaitu raja Aram. Jika demikian, apakah tujuan Elisa menyembuhkan Naaman hanya bertujuan agar dia memperoleh kehormatan diri sendiri yatu agar dia dapat dikagumi oleh kerajaan dan rakyat Aram bahwa dia seorang nabi? Jika memang benar demikian, alasan dan tindakan nabi Elisa tersebut sebenarnya tidak beda jauh dengan praktek para “nabi palsu” yang mencari kehormatan bagi dirinya sendiri. Bandingkan dengan sikap Tuhan Yesus ketika Dia menyembuhkan seorang yang sakit kusta: "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka" (Mark. 1:44). Dalam konteks ini jelas Tuhan Yesus tidak menginginkan karya mukjijat penyembuhanNya diketahui oleh orang banyak. Tuhan Yesus tidak menghendaki orang yang telah disembuhkan dari penyakit kustanya mempublikasikan kepada banyak orang. Dia ingin tetap tersembunyi. Wilhelm Wrede menyebut sikap Yesus tersebut sebagai "Messianic Secret" (rahasia Messianis). Wrede berkata: “according to which "Jesus…keeps His Messiahship a secret so long as He is upon earth, and while He reveals Himself to His disciples (as distinct from the people), He remains unintelligible even to them”.
Sikap nabi Elisa tersebut perlu kita pahami dalam konteks bahwa saat itu dia sedang menyampaikan pesan kepada Naaman yang belum percaya atau sama sekali tidak mengenal Yahweh, Allah Israel. Itu sebabnya nabi Elisa sama sekali tidak menyinggung nama Yahweh sebagai sumber keselamatan dan kesembuhan kepada Naaman. Selain itu nabi Elisa juga tidak pernah menjumpai secara langsung saat Naaman datang ke rumahnya. Nabi Elisa hanya mengirim pembantunya sebagai utusan yang menyampaikan agar Naaman pergi ke sungai Yordan dan membenamkan tubuhnya sebanyak 7 kali, maka dia akan sembuh. Dia ingin tetap tersembunyi. Dengan sikap nabi Elisa tersebut telah menunjukkan bahwa dia tidak pernah menganggap dirinya orang penting dan dikenal secara pribadi sebagai seorang nabi Allah. Bandingkan sikap kita kalau kita berjumpa dengan pejabat penting. Kita ingin supaya dia menyimpan kartu nama atau nomor hand-phone kita. Padahal dari segi yang lain, sikap nabi Ellisa tersebut sebenarnya sangat mengecewakan Naaman. Sebagai seorang panglima perang kerajaan Aram sesungguhnya Naaman sangat kesal dengan sikap nabi Elisa yang tidak mau menjumpai dan menyambut dia secara langsung. Sesungguhnya Naaman merasa dirinya kurang dihargai oleh nabi Elisa. Apalagi dia kini hanya disuruh mandi dan membenamkan tubuhnya di sungai Yordan sebanyak 7 kali. Padahal dia sangat mengharapkan nabi Elisa mau menjumpai dia dengan mengucapkan suatu rumusan doa dan melakukan suatu tindakan ritual untuk menyembuhkan penyakitnya. Dalam hal ini Naaman lebih mengharapkan “therapeutic gesture”, bukan suatu: “healing at a distance”. Apalagi dia ketahui bahwa sungai Yordan di Israel tidak lebih baik dari pada sungai-sungai di kerajaan Aram yaitu sungai Abana, sungai Parpar dan sungai-sungai Damsyik. Masakan dia datang dari jauh dengan membawa persembahan yang sangat mahal ternyata sekarang dia hanya disuruh mandi di sungai Yordan. Penghalang terbesar yang dialami oleh Naaman dan kebanyakan orang adalah suatu pola pikir dan keyakinan (“world view”) yang bersifat tetap dan pasti secara subyektif, sehingga telah menutup kemungkinan yang sebenarnya sangat sederhana untuk dilakukan. Justru para pembantu Naaman yang mampu melihat suatu kemungkinan baru untuk dicoba dan dilaksanakan. Para pembantu Naaman berkata: “Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah bapak akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: Mandilah dan engkau akan menjadi tahir" (II Raj. 5:13). Mereka telah membantu untuk membuka mata rohani Naaman agar dia melaksanakan apa yang diperintahkan oleh nabi Elisa.
Bukan Sekedar “Kesederhanaan Proses”
Karya keselamatan Allah tidak akan bekerja secara efektif ketika pola pikir dan pola keyakinan kita masih terbelenggu oleh apa yang kita inginkan dari pada melaksanakan apa yang diinginkan oleh Allah. Padahal apa yang diinginkan oleh Allah tidak senantiasa berupa hal-hal yang sulit dan tak terjangkau. Dia hanya menghendaki kita untuk melakukan sesuatu yang kadang-kadang sangat sederhana, begitu alami dan “ekonomis”. Tetapi justru kita sering menghendaki sesuatu yang lebih rumit, ritualisme yang sangat mahal dan prosedur yang begitu birokratis. Namun pada sisi lain perlu diingatkan bahwa kesembuhan yang dialami oleh Naaman juga bukan karena “kesederhanaan proses” yaitu hanya dengan mandi di sungai Yordan sebanyak 7 kali. Sebab sungai Yordan pada dirinya tidak dapat menyembuhkan orang. Kekuatan penyembuh dari Allah terjadi ketika kita taat dan percaya kepadaNya. Sikap inilah yang dilakukan oleh seorang penderita kusta yang datang kepada Tuhan Yesus: Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir (Mark. 1:40-42). Tepatnya kita sering terperangkap oleh pola pikir dan pola keyakinan yang terlalu mengagung-agungkan ritualisme yang berbelat-belit; tetapi juga kita sering terperangkap oleh pola pikir dan pola keyakinan yang maunya menyederhanakan proses yang seharusnya ditempuh. Tetapi dengan kedua sikap tersebut ternyata kehidupan kita tidak dilandasi oleh sikap taat yang tanpa syarat untuk melakukan apa yang difirmankan Allah kepada kita. Seandainya Naaman waktu itu tidak memiliki para pembantu yang mampu mencerahkan mata rohaninya, maka dia akan kembali ke Aram dengan kesal dan geram sebab penyakit lepranya tidak akan pernah tersembuhkan. Lebih penting lagi, Naaman tidak akan pernah menyatakan pengakuan imannya setelah dia disembuhkan, yaitu: "Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel” (II Raj. 5:15). Yang dipuji dan dipermuliakan oleh Naaman bukanlah perkataan nabi Elisa yang manjur, tetapi Allah Israel. Hal ini terjadi karena para pembantunya telah menolong dia untuk melaksanakan apa yang diperintahkan nabi Elisa kepadanya.
Jika demikian, kita diingatkan betapa penting makna pergaulan dengan teman-teman dan komunitas yang mampu memberi pencerahan iman kepada kita. Keterbatasan wawasan dan ketidak-dewasaan iman sering membuat kita hidup seperti “katak dalam tempurung” rohaniah. Kita merasa telah memiliki seperangkap “kebenaran Allah” yang cukup lengkap, tetapi “kebenaran Allah” tersebut ternyata tidak memampukan kita untuk menangkap dan mentaati esensi yang paling utama yaitu ketaatan dan kesetiaan. Tetapi pada sisi lain kehidupan kita kadang-kadang penuh dengan paradoks yang menyedihkan. Kita dapat jumpai begitu banyak orang yang sangat taat sampai mati karena keyakinannya yang begitu dangkal dan picik yaitu dengan menyederhanakan proses menarik kesimpulan dan mengambil keputusan. Misalnya karena tempat café dianggap sebagai tempat berkumpul orang-orang “kafir” yang akan berbuat maksiat, maka mereka merelakan diri untuk menjadi pelaku bom bunuh diri. Atau sebaliknya kita akan bersikap sangat taat karena merasa diri mampu berpikir “luas” (“kompleks”), “pintar” dan sangat prosedural sebagaimana yang dilakukan oleh Naaman, tetapi kita tidak mampu membaca atau menafsirkan realitas kehidupan secara alami dan sederhana sehingga kebenaran Allah yang dinyatakan tidak berhasil kita tangkap dan laksanakan secara efisien. Karena itu akan semakin bertambah malangnya diri kita jikalau kita tidak pernah memiliki teman atau komunitas yang mampu mencerahkan mata rohaniah kita, sebaliknya teman atau komunitas yang mendangkalkan iman kita. Tentunya kedangkalan dan kebodohan rohaniah kita tersebut makin bertambah-tambah sebab penyakit rohaniah kita makin tidak tersembuhkan. Penderitaan dan pergumulan kita pada akhirnya tidak akan dapat membawa pengakuan iman seperti yang dilakukan oleh Naaman (II Raj. 5:15) yang memulihkan dirinya secara utuh, yaitu: penyembuhan teologis (theological healing), penyembuhan fisik (physical healing), dan penyembuhan relasional (relational healing). Pemazmur yang telah mengalami pertolongan dan pemulihan dari Allah juga berkata: “TUHAN, Allahku, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan Engkau telah menyembuhkan aku. TUHAN, Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan aku di antara mereka yang turun ke liang kubur” (Mzm. 30:3-4). Mata rohaniah pemazmur akhirnya tercelik, sehingga dia dapat menyatakan dengan lugas bahwa hanya Allah Tuhan saja yang mampu menyelamatkan dia.
Ketaatan Yang Terlatih
Pencerahan iman yang mendorong kita untuk mentaati kehendak Allah perlu terus dilatih sedemikian rupa agar menjadi gaya hidup dan perilaku dalam seluruh karakter kita. Tepatnya kita perlu terus melatih diri kita sedemikian rupa agar senantiasa memiliki mata rohaniah yang terus tercelik sehingga kita dapat mentaati kehendak Allah setiap waktu dan tidak pernah terputus. Pengakuan iman yang menyatakan: “Aku percaya Allah menolong” bukan hanya sekedar suatu pernyataan kredo di suatu momen tertentu saja saat kita disembuhkan dan dipulihkan, tetapi juga harus dinyatakan di saat kita belum menemukan pertolongan Allah secara nyata. Demikian pula hal pertumbuhan iman kita juga tidak mungkin selalu tergantung dari pertolongan teman-teman dan komunitas kita yang diharapkan dapat memberi pencerahan rohaniah. Sebab Allah menghendaki diri kita menjadi para pemain handal yang mampu bertarung untuk memperoleh kemenangan iman. Untuk itu kita dipanggil untuk terus melatih rohaniah kita sedemikian rupa agar kita mampu menguasai diri, dan mengubah kelemahan diri menjadi sumber kekuatan. Di I Kor. 9:25-27 rasul Paulus berkata: “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak”. Apa yang dikemukakan oleh rasul Paulus menyadarkan kita bahwa ternyata dia sama sekali tidak mau menggunakan pengalaman pertobatannya di Damsyik, baptisannya, panggilannya sebagai seorang rasul dan karya pelayanan yang telah terukir indah di berbagai tempat sebagai satu-satunya dasar untuk keselamatannya. Rasul Paulus tidak mau tergoda untuk melihat berbagai “masa lalu” yang telah dilewati secara luar biasa. Tetapi dia senantiasa mengarahkan diri ke depan dengan terus melatih dan menguasai dirinya sedemikian rupa agar dia kelak jangan sampai ditolak oleh Kristus! Dengan demikian sikap rasul Paulus untuk mengikut Kristus bukan hanya dihayati pada saat dia memerlukan pertolonganNya saja. Sebaliknya makna mengikut Kristus dia hayati sebagai respon iman yang terus dibaharui dari hari ke hari. Bukankah kita sering secara intensif dan penuh kesungguhan hati datang kepada Kristus hanya pada saat kita sakit dan mengalami kegagalan total?
Memang setiap orang yang menderita sakit seperti Naaman atau seorang penderita lepra perlu mencari dan datang kepada Kristus untuk disembuhkan. Sebab melalui sakit dan penderitaan yang kita alami, sering dipakai oleh Allah agar kita dapat menemukan anugerah dan pemulihan dari Allah. Tetapi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana setelah kita disembuhkan dan dipulihkan oleh Kristus? Apakah kita tetap mampu menyatakan dalam setiap aspek kehidupan bahwa “Aku percaya Allah menolong”? Bukankah kita sering kembali kepada anggapan diri sebagai orang yang tahu banyak tentang kehendak dan rencana Allah sehingga kita gagal untuk mentaati firmanNya yang sebenarnya cukup “sederhana” dan realistis untuk dilakukan? Kita mungkin cukup intensif belajar tentang berbagai “teologi” dan aktif dalam pelayanan gerejawi, tetapi dalam hidup sehari-hari ternyata kita sering gagal untuk mengimani Kristus sebagai Juru-selamat. Atau sebaliknya kita terbiasa hidup serba praktis, ekonomis dan efisien sehingga kita alergi dengan cara kerja Allah dengan prosesNya yang cukup melelahkan. Padahal dengan cara kerja Allah yang demikian, sesungguhnya Dia sedang memproses, menempa dan memurnikan diri kita.
Panggilan
Pengakuan “Aku percaya Allah menolong” hanya dapat diwujudkan dalam sikap taat yang dinyatakan setiap saat baik pada waktu kita sakit maupun sehat, saat kita gagal maupun sukses. Untuk itu kita perlu senantiasa membaharui diri agar paradigma atau pola pikir dan keyakinan kita bersifat terbuka dengan pola kerja Allah. Sehingga kita senantiasa mengikuti dan melaksanakan apa yang Allah kehendaki, dan bukan berupaya mengatur atau mengendalikan Allah untuk melakukan apa yang kita kehendaki. Kendala yang sering menghambat kepekaan rohani kita sering disebabkan karena kita merasa telah memiliki banyak pengetahuan, sehingga kita sangat sulit menerima cara kerja Allah yang sebenarnya cukup sederhana dan praktis. Kendala yang lain justru sebaliknya! Kita terbiasa melakukan segala sesuatu serba praktis, ekonomis dan efisien sehingga kita sering tidak sabar untuk mengikuti proses dan pola kerja Allah yang kadang-kadang cukup meletihkan. Padahal proses dan pola kerja Allah tersebut bertujuan makin memurnikan dan mendewasakan rohani kita. Jika demikian, bagaimanakah sikap saudara? Apakah sikap saudara seperti Naaman? Atau hidup kita seperti para pembantu Naaman yang mampu mencelikkan mata rohani Naaman? Berbahagialah jika kita memiliki sikap rohani seperti rasul Paulus yang mau terus melatih diri agar tetap hidup murni dan kudus sampai pada akhirnya. Amin.
II Raj. 5:1-14; Mzm. 30; I Kor. 9:24-27; Mark. 1:40-45
Pengantar
Lepra termasuk penyakit kulit yang disebabkan oleh bakteri: “Mycobacterium leprae”. Tidak mengherankan jikalau masyarakat di manapun berada sangat takut untuk bersentuhan dengan penderita lepra. Sebab penyakit lepra dianggap mudah menular dan juga dapat mengakibatkan cacat jasmani kepada penderitanya. Akibatnya penderita lepra sepanjang zaman sering dikucilkan dari pergaulan masyarakat. Pada zaman dahulu penderita lepra umumnya lebih menderita lagi, sebab mereka harus mengenakan pakaian yang tercabik-cabik dengan rambut yang terurai. Apabila mereka bertemu dengan orang yang sehat, maka mereka harus berseru-seru: “Najis, najis!” (Im. 13:45-46). Kita tidak dapat membayangkan keadaan fisik dan penampilan penderita lepra yang begitu buruk dan mengerikan. Keadaan tubuh yang tidak utuh, wajah yang rusak oleh penyakit dan penderitaan, ditambah dengan pakaian yang harus tercabik-cabik dan rambut yang kusut terurai. Karena itu penyakit lepra sering diidentikkan sebagai penyakit kutukan atau hukuman dari Tuhan. Tetapi syukurlah penyakit lepra pada masa kini telah ditemukan obatnya, yaitu: “Multi Drug Therapy” (MDT), sehingga penderita lepra pada masa kini tidak harus menerima stigma sebagai penyandang penyakit kutukan dan diasingkan dari pergaulan dengan anggota masyarakat.
Apabila penyandang lepra pada zaman dahulu diasingkan dari pergaulan masyarakat, maka timbul pertanyaan berkenaan dengan tokoh Naaman yang disebut sebagai penderita lepra. Di kitab II Raj. 5 dikisahkan bagaimana Naaman tetap dapat tinggal di rumah bersama anggota keluarganya. Tampaknya penyakit lepra yang disandang oleh Naaman saat itu belum tergolong parah. Sebagaimana kita ketahui bahwa penyakit lepra sebenarnya berkembang-biak sangat lambat, sehingga gejalanya baru muncul minimal 1 tahun setelah terinfeksi. Jadi penyakit lepra baru akan muncul pada tahun kelima sampai ketujuh. Gejala dan tanda yang muncul tergantung kepada respon kekebalan atau stamina penderita. Tetapi bagaimanapun juga orang-orang di sekitar Naaman mengetahui bahwa dia sedang mengidap gejala penyakit lepra. Sehingga Naaman akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan para prajurit dan pegawainya. Walau Naaman disebut sebagai seorang panglima perang yang terpandang dan sangat disayangi oleh raja Aram, tetapi keadaan penyakitnya akan menghalangi dia untuk bergaul dengan siapapun juga. Mereka akan merasa jijik dan takut untuk bersentuhan langsung dengan Naaman. Kemenangan perang yang berhasil diraih oleh Naaman sehingga membawa keharuman bagi bangsanya, yaitu Aram tidak akan mengubah keadaan psikologis orang banyak yang tetap merasa takut dan jijik saat mereka bersentuhan dengan Naaman. Seperti halnya kita juga akan merasa jijik dan takut untuk bersalaman dengan seorang panglima ABRI, bahkan dengan seorang presiden sekalipun apabila dia mengidap penyakit lepra. Dengan kata lain, Naaman tetap merasa dirinya tersingkir dan sangat sulit untuk berkomunikasi secara wajar. Tentunya sebagai seorang pembesar yang sangat terkemuka di kerajaan Aram, Naaman telah berupaya untuk berobat untuk menyembuhkan penyakitnya. Semua ahli medis pada zaman itu mungkin telah dikerahkan untuk menyembuhkan penyakit lepra yang diderita oleh Naaman. Tetapi tidak satupun di antara para ahli medis zaman itu yang berhasil menolong dan menyembuhkan Naaman. Sampai suatu hari dia mendengar dari isterinya, bahwa anak perempuan yang menjadi budak di rumahnya berkata: "Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya" (II Raj. 5:3).
Walaupun informasi tersebut hanya dikemukakan oleh seorang anak perempuan Israel yang menjadi budak di rumahnya, tetapi bagi Naaman informasi tersebut telah membangkitkan suatu pengharapan. Dia segera minta izin dari raja Aram, yaitu raja Ben Hadad dengan membawa persembahan sepuluh talenta perak dan enam ribu syikal emas dan sepuluh potong pakaian kepada raja Israel yaitu raja Yoram (849-842 sM). Bila dikurs, maka persembahan yang dibawa oleh Naaman bernilai sekitar $ 700.000 (= Rp. 7.700.000.000,-). Suatu jumlah yang sangat fantastis sebagai simbolisasi harapan yang begitu besar bagi Naaman untuk segera memperoleh kesembuhan dari nabi Elisa. Tetapi bagi raja Israel, permohonan dan persembahan Naaman tersebut dianggap sebagai upaya politis agar terjadi konflik antara Aram dengan Israel. Karena raja Israel merasa tidak sanggup untuk menolong dan menyembuhkan penyakit lepra yang diidap oleh Naaman.
Nabi Elisa Mencari Kehormatan Diri Sendiri?
Raja Yoram di Israel begitu putus-asa karena dia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menyembuhkan Naaman. Saat itulah nabi Elisa memberi solusi agar Naaman datang ke rumahnya. Kata nabi Elisa: "Mengapa engkau mengoyakkan pakaianmu? Biarlah ia datang kepadaku, supaya ia tahu bahwa ada seorang nabi di Israel" (II Raj. 5:8). Apa yang ingin dilakukan oleh nabi Elisa untuk menyembuhkan Naaman ternyata sama sekali bukan karena dia ingin menyelamatkan reputasi raja Yoram. Tetapi nabi Elisa mau menyembuhkan Naaman dengan suatu alasan, yaitu: “supaya ia tahu bahwa ada seorang nabi di Israel" . Ungkapan nabi Elisa tersebut sepertinya mau menyatakan bahwa kehadiran dan perannya sebagai seorang nabi Israel begitu penting sehingga mampu menggeser kewajiban nabi Elisa sebagai seorang warga-negara yang baik untuk menyelamatkan reputasi dan keselamatan raja Yoram di hadapan raja tetangganya, yaitu raja Aram. Jika demikian, apakah tujuan Elisa menyembuhkan Naaman hanya bertujuan agar dia memperoleh kehormatan diri sendiri yatu agar dia dapat dikagumi oleh kerajaan dan rakyat Aram bahwa dia seorang nabi? Jika memang benar demikian, alasan dan tindakan nabi Elisa tersebut sebenarnya tidak beda jauh dengan praktek para “nabi palsu” yang mencari kehormatan bagi dirinya sendiri. Bandingkan dengan sikap Tuhan Yesus ketika Dia menyembuhkan seorang yang sakit kusta: "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka" (Mark. 1:44). Dalam konteks ini jelas Tuhan Yesus tidak menginginkan karya mukjijat penyembuhanNya diketahui oleh orang banyak. Tuhan Yesus tidak menghendaki orang yang telah disembuhkan dari penyakit kustanya mempublikasikan kepada banyak orang. Dia ingin tetap tersembunyi. Wilhelm Wrede menyebut sikap Yesus tersebut sebagai "Messianic Secret" (rahasia Messianis). Wrede berkata: “according to which "Jesus…keeps His Messiahship a secret so long as He is upon earth, and while He reveals Himself to His disciples (as distinct from the people), He remains unintelligible even to them”.
Sikap nabi Elisa tersebut perlu kita pahami dalam konteks bahwa saat itu dia sedang menyampaikan pesan kepada Naaman yang belum percaya atau sama sekali tidak mengenal Yahweh, Allah Israel. Itu sebabnya nabi Elisa sama sekali tidak menyinggung nama Yahweh sebagai sumber keselamatan dan kesembuhan kepada Naaman. Selain itu nabi Elisa juga tidak pernah menjumpai secara langsung saat Naaman datang ke rumahnya. Nabi Elisa hanya mengirim pembantunya sebagai utusan yang menyampaikan agar Naaman pergi ke sungai Yordan dan membenamkan tubuhnya sebanyak 7 kali, maka dia akan sembuh. Dia ingin tetap tersembunyi. Dengan sikap nabi Elisa tersebut telah menunjukkan bahwa dia tidak pernah menganggap dirinya orang penting dan dikenal secara pribadi sebagai seorang nabi Allah. Bandingkan sikap kita kalau kita berjumpa dengan pejabat penting. Kita ingin supaya dia menyimpan kartu nama atau nomor hand-phone kita. Padahal dari segi yang lain, sikap nabi Ellisa tersebut sebenarnya sangat mengecewakan Naaman. Sebagai seorang panglima perang kerajaan Aram sesungguhnya Naaman sangat kesal dengan sikap nabi Elisa yang tidak mau menjumpai dan menyambut dia secara langsung. Sesungguhnya Naaman merasa dirinya kurang dihargai oleh nabi Elisa. Apalagi dia kini hanya disuruh mandi dan membenamkan tubuhnya di sungai Yordan sebanyak 7 kali. Padahal dia sangat mengharapkan nabi Elisa mau menjumpai dia dengan mengucapkan suatu rumusan doa dan melakukan suatu tindakan ritual untuk menyembuhkan penyakitnya. Dalam hal ini Naaman lebih mengharapkan “therapeutic gesture”, bukan suatu: “healing at a distance”. Apalagi dia ketahui bahwa sungai Yordan di Israel tidak lebih baik dari pada sungai-sungai di kerajaan Aram yaitu sungai Abana, sungai Parpar dan sungai-sungai Damsyik. Masakan dia datang dari jauh dengan membawa persembahan yang sangat mahal ternyata sekarang dia hanya disuruh mandi di sungai Yordan. Penghalang terbesar yang dialami oleh Naaman dan kebanyakan orang adalah suatu pola pikir dan keyakinan (“world view”) yang bersifat tetap dan pasti secara subyektif, sehingga telah menutup kemungkinan yang sebenarnya sangat sederhana untuk dilakukan. Justru para pembantu Naaman yang mampu melihat suatu kemungkinan baru untuk dicoba dan dilaksanakan. Para pembantu Naaman berkata: “Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah bapak akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: Mandilah dan engkau akan menjadi tahir" (II Raj. 5:13). Mereka telah membantu untuk membuka mata rohani Naaman agar dia melaksanakan apa yang diperintahkan oleh nabi Elisa.
Bukan Sekedar “Kesederhanaan Proses”
Karya keselamatan Allah tidak akan bekerja secara efektif ketika pola pikir dan pola keyakinan kita masih terbelenggu oleh apa yang kita inginkan dari pada melaksanakan apa yang diinginkan oleh Allah. Padahal apa yang diinginkan oleh Allah tidak senantiasa berupa hal-hal yang sulit dan tak terjangkau. Dia hanya menghendaki kita untuk melakukan sesuatu yang kadang-kadang sangat sederhana, begitu alami dan “ekonomis”. Tetapi justru kita sering menghendaki sesuatu yang lebih rumit, ritualisme yang sangat mahal dan prosedur yang begitu birokratis. Namun pada sisi lain perlu diingatkan bahwa kesembuhan yang dialami oleh Naaman juga bukan karena “kesederhanaan proses” yaitu hanya dengan mandi di sungai Yordan sebanyak 7 kali. Sebab sungai Yordan pada dirinya tidak dapat menyembuhkan orang. Kekuatan penyembuh dari Allah terjadi ketika kita taat dan percaya kepadaNya. Sikap inilah yang dilakukan oleh seorang penderita kusta yang datang kepada Tuhan Yesus: Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir (Mark. 1:40-42). Tepatnya kita sering terperangkap oleh pola pikir dan pola keyakinan yang terlalu mengagung-agungkan ritualisme yang berbelat-belit; tetapi juga kita sering terperangkap oleh pola pikir dan pola keyakinan yang maunya menyederhanakan proses yang seharusnya ditempuh. Tetapi dengan kedua sikap tersebut ternyata kehidupan kita tidak dilandasi oleh sikap taat yang tanpa syarat untuk melakukan apa yang difirmankan Allah kepada kita. Seandainya Naaman waktu itu tidak memiliki para pembantu yang mampu mencerahkan mata rohaninya, maka dia akan kembali ke Aram dengan kesal dan geram sebab penyakit lepranya tidak akan pernah tersembuhkan. Lebih penting lagi, Naaman tidak akan pernah menyatakan pengakuan imannya setelah dia disembuhkan, yaitu: "Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel” (II Raj. 5:15). Yang dipuji dan dipermuliakan oleh Naaman bukanlah perkataan nabi Elisa yang manjur, tetapi Allah Israel. Hal ini terjadi karena para pembantunya telah menolong dia untuk melaksanakan apa yang diperintahkan nabi Elisa kepadanya.
Jika demikian, kita diingatkan betapa penting makna pergaulan dengan teman-teman dan komunitas yang mampu memberi pencerahan iman kepada kita. Keterbatasan wawasan dan ketidak-dewasaan iman sering membuat kita hidup seperti “katak dalam tempurung” rohaniah. Kita merasa telah memiliki seperangkap “kebenaran Allah” yang cukup lengkap, tetapi “kebenaran Allah” tersebut ternyata tidak memampukan kita untuk menangkap dan mentaati esensi yang paling utama yaitu ketaatan dan kesetiaan. Tetapi pada sisi lain kehidupan kita kadang-kadang penuh dengan paradoks yang menyedihkan. Kita dapat jumpai begitu banyak orang yang sangat taat sampai mati karena keyakinannya yang begitu dangkal dan picik yaitu dengan menyederhanakan proses menarik kesimpulan dan mengambil keputusan. Misalnya karena tempat café dianggap sebagai tempat berkumpul orang-orang “kafir” yang akan berbuat maksiat, maka mereka merelakan diri untuk menjadi pelaku bom bunuh diri. Atau sebaliknya kita akan bersikap sangat taat karena merasa diri mampu berpikir “luas” (“kompleks”), “pintar” dan sangat prosedural sebagaimana yang dilakukan oleh Naaman, tetapi kita tidak mampu membaca atau menafsirkan realitas kehidupan secara alami dan sederhana sehingga kebenaran Allah yang dinyatakan tidak berhasil kita tangkap dan laksanakan secara efisien. Karena itu akan semakin bertambah malangnya diri kita jikalau kita tidak pernah memiliki teman atau komunitas yang mampu mencerahkan mata rohaniah kita, sebaliknya teman atau komunitas yang mendangkalkan iman kita. Tentunya kedangkalan dan kebodohan rohaniah kita tersebut makin bertambah-tambah sebab penyakit rohaniah kita makin tidak tersembuhkan. Penderitaan dan pergumulan kita pada akhirnya tidak akan dapat membawa pengakuan iman seperti yang dilakukan oleh Naaman (II Raj. 5:15) yang memulihkan dirinya secara utuh, yaitu: penyembuhan teologis (theological healing), penyembuhan fisik (physical healing), dan penyembuhan relasional (relational healing). Pemazmur yang telah mengalami pertolongan dan pemulihan dari Allah juga berkata: “TUHAN, Allahku, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan Engkau telah menyembuhkan aku. TUHAN, Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan aku di antara mereka yang turun ke liang kubur” (Mzm. 30:3-4). Mata rohaniah pemazmur akhirnya tercelik, sehingga dia dapat menyatakan dengan lugas bahwa hanya Allah Tuhan saja yang mampu menyelamatkan dia.
Ketaatan Yang Terlatih
Pencerahan iman yang mendorong kita untuk mentaati kehendak Allah perlu terus dilatih sedemikian rupa agar menjadi gaya hidup dan perilaku dalam seluruh karakter kita. Tepatnya kita perlu terus melatih diri kita sedemikian rupa agar senantiasa memiliki mata rohaniah yang terus tercelik sehingga kita dapat mentaati kehendak Allah setiap waktu dan tidak pernah terputus. Pengakuan iman yang menyatakan: “Aku percaya Allah menolong” bukan hanya sekedar suatu pernyataan kredo di suatu momen tertentu saja saat kita disembuhkan dan dipulihkan, tetapi juga harus dinyatakan di saat kita belum menemukan pertolongan Allah secara nyata. Demikian pula hal pertumbuhan iman kita juga tidak mungkin selalu tergantung dari pertolongan teman-teman dan komunitas kita yang diharapkan dapat memberi pencerahan rohaniah. Sebab Allah menghendaki diri kita menjadi para pemain handal yang mampu bertarung untuk memperoleh kemenangan iman. Untuk itu kita dipanggil untuk terus melatih rohaniah kita sedemikian rupa agar kita mampu menguasai diri, dan mengubah kelemahan diri menjadi sumber kekuatan. Di I Kor. 9:25-27 rasul Paulus berkata: “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak”. Apa yang dikemukakan oleh rasul Paulus menyadarkan kita bahwa ternyata dia sama sekali tidak mau menggunakan pengalaman pertobatannya di Damsyik, baptisannya, panggilannya sebagai seorang rasul dan karya pelayanan yang telah terukir indah di berbagai tempat sebagai satu-satunya dasar untuk keselamatannya. Rasul Paulus tidak mau tergoda untuk melihat berbagai “masa lalu” yang telah dilewati secara luar biasa. Tetapi dia senantiasa mengarahkan diri ke depan dengan terus melatih dan menguasai dirinya sedemikian rupa agar dia kelak jangan sampai ditolak oleh Kristus! Dengan demikian sikap rasul Paulus untuk mengikut Kristus bukan hanya dihayati pada saat dia memerlukan pertolonganNya saja. Sebaliknya makna mengikut Kristus dia hayati sebagai respon iman yang terus dibaharui dari hari ke hari. Bukankah kita sering secara intensif dan penuh kesungguhan hati datang kepada Kristus hanya pada saat kita sakit dan mengalami kegagalan total?
Memang setiap orang yang menderita sakit seperti Naaman atau seorang penderita lepra perlu mencari dan datang kepada Kristus untuk disembuhkan. Sebab melalui sakit dan penderitaan yang kita alami, sering dipakai oleh Allah agar kita dapat menemukan anugerah dan pemulihan dari Allah. Tetapi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana setelah kita disembuhkan dan dipulihkan oleh Kristus? Apakah kita tetap mampu menyatakan dalam setiap aspek kehidupan bahwa “Aku percaya Allah menolong”? Bukankah kita sering kembali kepada anggapan diri sebagai orang yang tahu banyak tentang kehendak dan rencana Allah sehingga kita gagal untuk mentaati firmanNya yang sebenarnya cukup “sederhana” dan realistis untuk dilakukan? Kita mungkin cukup intensif belajar tentang berbagai “teologi” dan aktif dalam pelayanan gerejawi, tetapi dalam hidup sehari-hari ternyata kita sering gagal untuk mengimani Kristus sebagai Juru-selamat. Atau sebaliknya kita terbiasa hidup serba praktis, ekonomis dan efisien sehingga kita alergi dengan cara kerja Allah dengan prosesNya yang cukup melelahkan. Padahal dengan cara kerja Allah yang demikian, sesungguhnya Dia sedang memproses, menempa dan memurnikan diri kita.
Panggilan
Pengakuan “Aku percaya Allah menolong” hanya dapat diwujudkan dalam sikap taat yang dinyatakan setiap saat baik pada waktu kita sakit maupun sehat, saat kita gagal maupun sukses. Untuk itu kita perlu senantiasa membaharui diri agar paradigma atau pola pikir dan keyakinan kita bersifat terbuka dengan pola kerja Allah. Sehingga kita senantiasa mengikuti dan melaksanakan apa yang Allah kehendaki, dan bukan berupaya mengatur atau mengendalikan Allah untuk melakukan apa yang kita kehendaki. Kendala yang sering menghambat kepekaan rohani kita sering disebabkan karena kita merasa telah memiliki banyak pengetahuan, sehingga kita sangat sulit menerima cara kerja Allah yang sebenarnya cukup sederhana dan praktis. Kendala yang lain justru sebaliknya! Kita terbiasa melakukan segala sesuatu serba praktis, ekonomis dan efisien sehingga kita sering tidak sabar untuk mengikuti proses dan pola kerja Allah yang kadang-kadang cukup meletihkan. Padahal proses dan pola kerja Allah tersebut bertujuan makin memurnikan dan mendewasakan rohani kita. Jika demikian, bagaimanakah sikap saudara? Apakah sikap saudara seperti Naaman? Atau hidup kita seperti para pembantu Naaman yang mampu mencelikkan mata rohani Naaman? Berbahagialah jika kita memiliki sikap rohani seperti rasul Paulus yang mau terus melatih diri agar tetap hidup murni dan kudus sampai pada akhirnya. Amin.
TERANG YANG BERCAHAYA DALAM HATI KITA
TERANG YANG BERCAHAYA DALAM HATI KITA
II Raj. 2:1-12; Mzm. 50:1-6; II Kor. 4:3-6; Mark. 9:2-9
Pengantar
Hampir setiap orang takjub dengan keindahan kupu-kupu saat dia terbang dengan sayapnya yang elok. Tetapi kita akan lebih takjub lagi saat kita memperhatikan proses terjadinya “metamorphose” (perubahan bentuk) seekor kupu-kupu. Pertama-tama kupu akan bertelur, kemudian telur yang menempel di suatu daun akan berubah menjadi ulat. Setelah itu ulat menjadi besar dan memanjang. Ulat tersebut kemudian berubah menjadi kepompong (pupa atau chrysalis). Setelah beberapa lama, dari kepompong tersebut akan keluar seekor kupu-kupu yang sangat indah. Kita tidak pernah menduga dari ulat yang umumnya sangat menjijikkan bagi sebagian besar wanita dan kepompong yang buruk bentuknya suatu kelak akan berubah menjadi seekor kupu-kupu yang cantik. Sangat menarik, bahwa istilah “transfigurasi” sebenarnya berasal dari istilah “metamorfosa” yang di dalam teks Alkitab Yunani disebut dengan “metemorphethe” atau “metamorpheo”. Istilah “metemorphete” atau “transfigurasi” disaksikan oleh Alkitab dan dikenakan pada diri Tuhan Yesus. Di Mark. 9:2 disebutkan bahwa Tuhan Yesus mengajak ketiga muridNya yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes di sebuah gunung yang tinggi, yaitu: “Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaianNya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu” (Mark. 9:2b-3). Dalam peristiwa transfigurasi tersebut tubuh fisik Tuhan Yesus berubah secara menyeluruh. Tubuh manusiawiNya memancarkan cahaya kemuliaan Allah. Lebih dari pada itu Dia berubah rupa secara rohaniah. Tampaknya apa yang dikatakan oleh rasul Paulus tentang tubuh kebangkitan di Kor. 15:49 secara prinsipial didasarkan kepada diri Kristus yang sejak semula memiliki tubuh rohaniah, sebab dinyatakan: “Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi”. Sehingga suatu kelak kita akan mengenakan rupa sorgawi karena Kristus berkenan mengubah kefanaan dan kehinaan diri kita dalam kemuliaanNya. Dengan demikian, panggilan umat percaya adalah hidup sesuai dengan Kristus pada saat ini agar bersama Kristus kita juga dimuliakan dalam kehidupan kekal.
Panggilan hidup yang terus menerus menyerupai Kristus menginspirasi Thomas à Kempis (1380 - 1471) sehingga dia menulis sebuah buku yang berjudul: De imitatione Christi (“The Imitation of Christ”) yang dipublikasikan pada tahun 1418 dalam bahasa Latin. Tulisan Thomas à Kempis tentang “Serupa dengan Kristus” tersebut diterima dan sangat dihargai baik oleh gereja-gereja Protestan dan gereja Roma Katolik. Bahkan John Wesley dan John Newton menyatakan bahwa kehidupan pertobatan mereka dipengaruhi oleh pemikiran Thomas à Kempis yang menguraikan makna “Serupa dengan Kristus”. Dasar pemikiran dari Thomas à Kempis sebenarnya didasarkan pada ucapan Tuhan Yesus yang menyatakan "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup" (Yoh. 8:12). Thomas à Kempis berkata: “HE WHO follows Me, walks not in darkness," says the Lord. By these words of Christ we are advised to imitate His life and habits, if we wish to be truly enlightened and free from all blindness of heart. Let our chief effort, therefore, be to study the life of Jesus Christ” (“Dengan berpegang kepada ucapan dan ajaran Tuhan Yesus tersebut kita wajib mengikuti kehidupan Kristus dan seluruh perbuatanNya, jika kita berkehendak untuk memperoleh pencerahan dan bebas dari seluruh kebutaan hati. Usaha utama kita adalah harus mempelajari kehidupan Kristus”). Bagi Thomas à Kempis, pengajaran Kristus lebih agung dari pada semua nasihat atau pengajaran para orang kudus manapun. Sehingga barangsiapa yang hidup dalam Roh Kristus akan memperoleh roti manna yang tersembunyi. Kegagalan kita untuk mendengar sabda Tuhan Yesus karena kehidupan kita tidak memiliki rohNya. Tetapi barangsiapa yang berkehendak untuk mendengar dengan sungguh-sungguh seluruh pengajaran Kristus, maka mereka akan menerapkan pola hidup Kristus dalam keseluruhan hidupnya. Namun satu hal yang pasti Thomas à Kempis juga berhasil membuktikan seluruh pemikiran “Serupa dengan Kristus” dalam kehidupan pribadinya. Itu sebabnya tulisan Thomas à Kempis mempunyai kekuatan dan pengaruh yang luar biasa bagi setiap pembacanya. Dia bukan sekedar seorang pastor dan penulis yang biasa, tetapi seseorang yang telah berubah karena hidupnya diubah oleh Kristus. Tulisannya memancarkan cahaya kemuliaan Kristus yang adalah Anak Allah.
Diteguhkan oleh 2 Nabi Besar Perjanjian Lama
Tidak semua murid diajak oleh Tuhan Yesus untuk melihat kemuliaanNya sebagai Anak Allah. Sebab yang diajak oleh Tuhan Yesus naik ke suatu gunung yang tinggi hanyalah Petrus, Yohanes dan Yakobus. Mereka adalah orang-orang yang termasuk “lingkaran dalam” (an inner circle) dari para murid Yesus yang berjumlah 12 orang. Melalui peristiwa transfigurasi tersebut Tuhan Yesus memperkenalkan jati-diriNya sebagai Anak Allah yang mulia sehingga seluruh tubuhNya diselubungi oleh cahaya sorgawi. Lebih tepat tubuh manusiawiNya saat peristiwa transfigurasi berubah menjadi tubuh sorgawi. Petrus, Yohanes dan Yakobus juga melihat kehadiran Musa dan Elia saat Kristus berubah rupa dalam kemuliaanNya. Bukankah Musa dan Elia adalah para nabi yang sangat terkemuka dalam kisah di Perjanjian Lama? Musa adalah satu-satunya nabi yang diperkenankan oleh Allah untuk berbicara muka dengan muka dengan Allah (Kel. 33:11), sehingga wajahNya bercahaya (Kel. 34:29). Akibatnya orang-orang Israel tidak dapat tahan saat mereka berhadapan dengan Musa, sehingga mereka meminta agar Musa menyelubungi mukanya (Kel. 34:35). Sedang nabi Elia adalah nabi yang diperkenankan oleh Allah untuk menurunkan api dari langit (I Raj. 18:36-38). Lebih dari pada itu nabi Elia adalah salah satu nabi yang tidak mengalami kematian secara fisik, tetapi bersama dengan tubuhnya dia diangkat ke sorga (II Raj. 2:11-12) sebagaimana yang pernah dialami oleh Henokh (Kej. 5:24). Dengan peristiwa pengangkatan Elia ke sorga bersama dengan tubuhnya, Allah telah mempermuliakan Elia dengan caraNya yang sangat khusus. Ini berarti dalam peristiwa transfigurasi Tuhan Yesus di atas gunung, ke-Messias-anNya sebagai Anak Allah telah diteguhkan secara sah oleh kehadiran Musa dan Elia. Bukankah hukum Taurat menyatakan bahwa suatu perkara tidak akan disangsikan jikalau telah didukung oleh 2 orang saksi? (Ul. 19:15). Bahkan melalui transfigurasi tersebut kita diingatkan pula bahwa Musa yang dikuburkan secara rahasia oleh Allah, dan Elia yang diangkat ke sorga oleh Allah pada hakikatnya mau menyatakan bahwa realitas bumi dan langit telah disatukan dalam inkarnasi dan pelayanan Kristus.
Kehadiran Musa dan Elia dalam peristiwa transfigurasi Yesus bukanlah sekedar suatu peristiwa penampakan dari roh mereka saat Yesus menyatakan kemuliaanNya, tetapi juga Musa dan Elia hadir untuk mempercakapkan sesuatu yang sangat penting dengan Yesus. Injil Markus dan Injil Matius tidak menjelaskan isi percakapan Yesus dengan Musa dan Elia. Tetapi Injil Lukas memberi penjelasan yaitu: “berbicara tentang tujuan kepergianNya yang akan digenapiNya di Yerusalem” (Luk. 9:31). Namun satu hal yang pasti Injil Matius dan Injil Markus menyatakan bahwa Tuhan Yesus mengingatkan para murid dengan sungguh-sungguh agar mereka tidak menyampaikan kepada siapapun juga sebelum Dia dibangkitkan dari antara orang mati (Mat. 17:9; Mark. 9:9). Bukankah peristiwa transfigurasi tersebut juga menunjuk kepada tubuh kebangkitan Kristus setelah Dia wafat disalibkan? Sering kita diombang-ambingkan dengan masalah tubuh kebangkitan Kristus. Masakan tubuh fisik Kristus dapat bangkit dalam kemuliaan dan kemudian dapat menembus dinding ruangan di mana para muridNya berada? Mereka menyimpulkan maka pastilah yang bangkit hanyalah roh Kristus dan bukan tubuh fisikNya. Jawaban tersebut sangat logis. Dalam peristiwa transfigurasiNya Tuhan Yesus melalui Injil Markus hendak menyatakan kepada umat bahwa tubuh kebangkitanNya kelak identik dengan tubuh kemuliaanNya sebagaimana dilihat oleh Petrus, Yohanes dan Yakobus. Ini berarti sebenarnya misteri tubuh kebangkitan Kristus sedikit banyak telah disingkapkan dalam peristiwa transfigurasiNya di atas gunung. Karena itu Allah dalam peristiwa transfigurasi Yesus juga menyatakan: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia" (Mark. 9:7). Allah bukan hanya menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah, tetapi kita juga dipanggil untuk sungguh-sungguh mau mendengarkan perkataanNya. Kita dipanggil untuk tidak meragukan keabsahan Yesus sebagai Messias dan Anak Allah yang mulia. Dasar iman yang demikian akan mempersekutukan diri kita dengan diri Tuhan Yesus. Yang mana persekutuan kita dengan Kristus tersebut juga akan mentransformasikan kehidupan kita untuk makin serupa dengan Dia. Sehingga kita bukan sekedar kagum dan terpesona dengan cahaya kemuliaan Kristus, tetapi lebih dari pada itu dalam persekutuan dengan Kristus kita makin dimampukan untuk memancarkan cahaya kemuliaan Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Selubung Bagi Mereka Yang Akan Binasa
Dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita tidak akan pernah melihat peristiwa transfigurasi Kristus sebagaimana yang disaksikan oleh Petrus, Yohanes dan Yakobus. Tetapi kita dimungkinkan untuk melihat kemuliaan Kristus melalui berita Injil atau firman Allah yang disaksikan oleh Alkitab. Kita bersyukur pada kini berita Alkitab makin tersebar melalui berbagai macam cara, misalnya: melalui pencetakan dan penerbitan, melalui internet, televisi, radio, khotbah dan berbagai pemberitaan firman. Tetapi apakah berbagai media komunikasi tersebut secara otomatis dapat membuka mata rohani banyak orang dalam pembaharuan hidup untuk serupa dengan Kristus? Tentunya jawabannya adalah: tidak otomatis! Sebab seluruh berita Alkitab tersebut membutuhkan respon iman dari setiap orang yang mendengarnya. Bahkan kita harus senantiasa memberi respon dalam setiap aspek kehidupan dan setiap momen hidup kita agar kehidupan kita makin diubahkan untuk serupa dengan Kristus. Dengan demikian respon iman kita terhadap berita yang disampaikan oleh Alkitab haruslah senantiasa bersifat dinamis dan eksistensial. Jadi tidaklah cukup bagi kita untuk mengaku percaya kepada Kristus di suatu momen, tetapi kemudian kita lengah dan kehilangan iman di momen atau kesempatan yang lain. Bukankah kita sering bersikap lengah dan kehilangan iman di berbagai momen kehidupan kita? Bahkan tidak jarang terjadi beberapa orang anggota jemaat sampai akhir hidupnya lebih memilih untuk meninggalkan Kristus. Betapa mudahnya bagi kita tertutup oleh selubung ketidakpercayaan kepada Kristus, sehingga kita tidak mampu melihat lagi kuasa dan kemuliaanNya sebagai Anak Allah. Di II Kor. 4:3-4 rasul Paulus berkata: “Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah”.
Beberapa orang menafsirkan ucapan rasul Paulus tersebut untuk menunjuk orang-orang yang tidak percaya dan menolak Kristus selaku Tuhan dan Juru-selamatnya. Tentunya tafsiran tersebut tidaklah terlalu keliru. Sebab surat rasul Paulus kepada jemaat Korintus tersebut dilatar-belakangi oleh pengalamannya saat dia memberitakan Injil di Troas dan di Makedonia (II Kor. 2:12-13) yang mana sebagian orang mau menerima berita yang disampaikan, dan sebagian lain menolaknya (II Kor. 2:15-16). Tetapi selubung yang menutupi mata rohani sebenarnya tidak hanya terbatas kepada orang-orang yang tidak percaya kepada Kristus, tetapi juga dapat menutupi mata rohani dari orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai umat Allah yaitu kepada mereka yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini. Bukankah dalam kehidupan sehari-hari, pikiran kita lebih banyak dibutakan oleh ilah zaman ini seperti: pola berpikir konsumerisme, sikap hidup yang hedonis (mencari kenikmatan dalam berbagai bentuk), kecenderungan yang egoistis, perasaan diri yang superior terhadap orang lain, upaya mengeksploitasi orang lain, secara sengaja mengembangkan sikap tamak, berlaku kejam dan sewenang-wenang kepada sesama. Dalam hal ini makna memiliki pikiran Kristus sering hanya diartikan manakala kita memiliki pikiran “dogmatis” tentang Kristus, tetapi kita sangat miskin memiliki pola mental yang etis sebagaimana yang telah dipancarkan oleh Kristus dalam seluruh kehidupanNya. Itu sebabnya kita sering gagal untuk mempraktekkan makna “Imitatio Christi”. Hidup kita tidak pernah mampu berubah secara kualitatif karena kita menolak untuk diubahkan oleh Kristus. Karena hati kita telah berpaling dan terbelenggu oleh kuasa ilah zaman ini, maka kehidupan kita memancarkan gambar dan rupa dari kuasa dunia walaupun secara dogmatis kita memiliki pengetahuan yang cukup kaya dan luas tentang Kristus.
Selubung yang menutupi mata rohani kita sering begitu lekat dan menyatu dengan kepribadian kita, sehingga kita sering tidak mampu bersikap obyektif dan kritis terhadap diri sendiri. Itu sebabnya yang kita kembangkan adalah mekanisme mempertahankan diri sendiri (defence of mechanism), bukan: sikap koreksi diri (self-correction). Sehingga ketika Kristus berkenan membuka selubung yang telah terkristalisasi dalam kepribadian kita, maka kepribadian kita akan dioperasi olehNya yang memungkinkan kita memperoleh pencerahan iman untuk melihat kemuliaan Kristus. Jika demikian apakah kita bersedia diterangi oleh cahaya Kristus dan memperkenankan Dia untuk membuka seluruh selubung yang menutupi mata rohani kita?
Kesetiaan Yang Berbuahkan Berkat
Saat nabi Elia akan diangkat ke sorga disebutkan dia senantiasa didampingi oleh nabi Elisa. Setiap nabi Elia menyuruh Elisa tetap tinggal di suatu tempat dan tidak mengikuti dia seperti di Betel, Yerikho dan Yordan ternyata Elisa lebih memilih mengikuti nabi Elia dan tidak mau meninggalkan dia sedikitpun juga. Sikap nabi Elisa tersebut mencerminkan kesetiaan seorang murid yang tetap ingin di samping gurunya, sehingga dia berkata: "Demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau" (II Raj. 2:2, 4, 6). Inilah kelebihan dari sikap nabi Elisa, yaitu kesetiaan dan kasih yang begitu tinggi kepada nabi Elia, gurunya. Karena itu tidaklah mengherankan ketika nabi Elia mengajukan pertanyaan kepada nabi Elisa, yaitu: "Mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu, sebelum aku terangkat dari padamu" (II Raj. 2:9), nabi Elisa tidak mau meminta apapun juga selain: “Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu”. Nabi Elisa hanya mengharapkan kekuatan roh yang telah dianugerahkan Allah kepada Elia agar dia dapat menenuaikan tugasnya sebagai nabi Allah. Permintaan nabi Elisa tersebut sebenarnya merupakan pemenuhan dari perintah Allah kepada nabi Elia (I Raj. 19:16). Allah telah menunjukkan kepada nabi Elia seorang calon penggantinya yang baik dan setia, sehingga ketika nabi Elia diangkat ke sorga, Allah berkenan membuka mata Elisa untuk menyaksikannya. Itu sebabnya nabi Elisa diperkenankan untuk memperoleh kekuatan dan wibawa kenabian dari nabi Elia (bdk. II Raj. 2:10-13). Itu sebabnya dalam seluruh karya nabi Elisa kita dapat melihat betapa besar kuasa Allah dinyatakan sebagaimana Allah pernah menyertai dan memberkati nabi Elia. Demikian pula nabi Elisa diperlengkapi oleh Allah dengan berbagai kuasa mukjizat untuk menyelamatkan banyak orang yang menderita.
Apabila kesetiaan nabi Elisa dinyatakan agar dia dapat diperlengkapi dengan kuasa Allah, tidaklah demikian sikap Petrus pada saat dia menyaksikan peristiwa transfigurasi Kristus. Petrus berkata kepada Tuhan Yesus agar dia diperkenankan mendirikan 3 kemah yaitu untuk Tuhan Yesus, nabi Musa dan nabi Elia, demikian: "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia” (Mark. 9:5). Petrus ingin tetap bersama dengan Kristus, nabi Musa dan Elia di atas gunung itu. Sepertinya Petrus tidak ingin turun dari gunung untuk mendampingi Kristus dalam menenuaikan tugasNya yang utama yaitu menderita dan disalibkan. Kesetiaan yang dipraktekkan oleh Petrus adalah kesetiaan yang pasif dan tetap berada dalam zona aman. Tetapi ketika dia menghadapi tekanan yang dianggap mengganggu rasa amannya, Petrus segera berubah menjadi orang yang tidak segan menyangkal Tuhan Yesus di hadapan orang banyak. Bukankah sikap kesetiaan kita kepada Tuhan Yesus seperti Petrus? Kita akan tetap setia kepada Kristus selama kita masih berada di zona aman, tetapi saat kita diperhadapkan oleh sesuatu yang sulit dan berbahaya maka kita segera berubah menjadi orang-orang yang menyangkalNya. Untuk itu kita perlu meneladani sikap nabi Elisa yang sedikitpun tidak mau meninggalkan nabi Elia sampai pada akhirnya. Sehingga ketika nabi Elia telah pergi dan diangkat ke sorga, nabi Elisa tetap melanjutkan tugas pelayanan nabi Elia dengan setia. Cahaya kemuliaan yang dipancarkan oleh Allah dalam peristiwa nabi Elia diangkat ke sorga tetap terpancar dalam seluruh pelayanan nabi Elisa.
Panggilan
Cahaya kemuliaan Kristus yang disaksikan oleh Alkitab dan pemberitaan firman, bahkan juga dalam berbagai peristiwa hidup sehari-hari seharusnya makin memproses diri kita untuk semakin serupa dengan Dia. Selaku umat percaya kita terpanggil senantiasa terbuka untuk “dioperasi” oleh kuasa Allah sehingga seluruh selubung yang menutupi mata rohani kita disingkapkan. Penyingkapan seluruh selubung kita akan bekerja semakin efektif, manakala kita mau meresponnya dengan sikap iman yang setia kepada Kristus. Dengan demikian mata rohaniah kita tidak lagi dibutakan oleh ilah-ilah zaman ini, tetapi diterangi oleh cahaya kemuliaan Kristus sehingga hidup kita senantiasa dapat memancarkan kemuliaanNya. Amin.
II Raj. 2:1-12; Mzm. 50:1-6; II Kor. 4:3-6; Mark. 9:2-9
Pengantar
Hampir setiap orang takjub dengan keindahan kupu-kupu saat dia terbang dengan sayapnya yang elok. Tetapi kita akan lebih takjub lagi saat kita memperhatikan proses terjadinya “metamorphose” (perubahan bentuk) seekor kupu-kupu. Pertama-tama kupu akan bertelur, kemudian telur yang menempel di suatu daun akan berubah menjadi ulat. Setelah itu ulat menjadi besar dan memanjang. Ulat tersebut kemudian berubah menjadi kepompong (pupa atau chrysalis). Setelah beberapa lama, dari kepompong tersebut akan keluar seekor kupu-kupu yang sangat indah. Kita tidak pernah menduga dari ulat yang umumnya sangat menjijikkan bagi sebagian besar wanita dan kepompong yang buruk bentuknya suatu kelak akan berubah menjadi seekor kupu-kupu yang cantik. Sangat menarik, bahwa istilah “transfigurasi” sebenarnya berasal dari istilah “metamorfosa” yang di dalam teks Alkitab Yunani disebut dengan “metemorphethe” atau “metamorpheo”. Istilah “metemorphete” atau “transfigurasi” disaksikan oleh Alkitab dan dikenakan pada diri Tuhan Yesus. Di Mark. 9:2 disebutkan bahwa Tuhan Yesus mengajak ketiga muridNya yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes di sebuah gunung yang tinggi, yaitu: “Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaianNya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu” (Mark. 9:2b-3). Dalam peristiwa transfigurasi tersebut tubuh fisik Tuhan Yesus berubah secara menyeluruh. Tubuh manusiawiNya memancarkan cahaya kemuliaan Allah. Lebih dari pada itu Dia berubah rupa secara rohaniah. Tampaknya apa yang dikatakan oleh rasul Paulus tentang tubuh kebangkitan di Kor. 15:49 secara prinsipial didasarkan kepada diri Kristus yang sejak semula memiliki tubuh rohaniah, sebab dinyatakan: “Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi”. Sehingga suatu kelak kita akan mengenakan rupa sorgawi karena Kristus berkenan mengubah kefanaan dan kehinaan diri kita dalam kemuliaanNya. Dengan demikian, panggilan umat percaya adalah hidup sesuai dengan Kristus pada saat ini agar bersama Kristus kita juga dimuliakan dalam kehidupan kekal.
Panggilan hidup yang terus menerus menyerupai Kristus menginspirasi Thomas à Kempis (1380 - 1471) sehingga dia menulis sebuah buku yang berjudul: De imitatione Christi (“The Imitation of Christ”) yang dipublikasikan pada tahun 1418 dalam bahasa Latin. Tulisan Thomas à Kempis tentang “Serupa dengan Kristus” tersebut diterima dan sangat dihargai baik oleh gereja-gereja Protestan dan gereja Roma Katolik. Bahkan John Wesley dan John Newton menyatakan bahwa kehidupan pertobatan mereka dipengaruhi oleh pemikiran Thomas à Kempis yang menguraikan makna “Serupa dengan Kristus”. Dasar pemikiran dari Thomas à Kempis sebenarnya didasarkan pada ucapan Tuhan Yesus yang menyatakan "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup" (Yoh. 8:12). Thomas à Kempis berkata: “HE WHO follows Me, walks not in darkness," says the Lord. By these words of Christ we are advised to imitate His life and habits, if we wish to be truly enlightened and free from all blindness of heart. Let our chief effort, therefore, be to study the life of Jesus Christ” (“Dengan berpegang kepada ucapan dan ajaran Tuhan Yesus tersebut kita wajib mengikuti kehidupan Kristus dan seluruh perbuatanNya, jika kita berkehendak untuk memperoleh pencerahan dan bebas dari seluruh kebutaan hati. Usaha utama kita adalah harus mempelajari kehidupan Kristus”). Bagi Thomas à Kempis, pengajaran Kristus lebih agung dari pada semua nasihat atau pengajaran para orang kudus manapun. Sehingga barangsiapa yang hidup dalam Roh Kristus akan memperoleh roti manna yang tersembunyi. Kegagalan kita untuk mendengar sabda Tuhan Yesus karena kehidupan kita tidak memiliki rohNya. Tetapi barangsiapa yang berkehendak untuk mendengar dengan sungguh-sungguh seluruh pengajaran Kristus, maka mereka akan menerapkan pola hidup Kristus dalam keseluruhan hidupnya. Namun satu hal yang pasti Thomas à Kempis juga berhasil membuktikan seluruh pemikiran “Serupa dengan Kristus” dalam kehidupan pribadinya. Itu sebabnya tulisan Thomas à Kempis mempunyai kekuatan dan pengaruh yang luar biasa bagi setiap pembacanya. Dia bukan sekedar seorang pastor dan penulis yang biasa, tetapi seseorang yang telah berubah karena hidupnya diubah oleh Kristus. Tulisannya memancarkan cahaya kemuliaan Kristus yang adalah Anak Allah.
Diteguhkan oleh 2 Nabi Besar Perjanjian Lama
Tidak semua murid diajak oleh Tuhan Yesus untuk melihat kemuliaanNya sebagai Anak Allah. Sebab yang diajak oleh Tuhan Yesus naik ke suatu gunung yang tinggi hanyalah Petrus, Yohanes dan Yakobus. Mereka adalah orang-orang yang termasuk “lingkaran dalam” (an inner circle) dari para murid Yesus yang berjumlah 12 orang. Melalui peristiwa transfigurasi tersebut Tuhan Yesus memperkenalkan jati-diriNya sebagai Anak Allah yang mulia sehingga seluruh tubuhNya diselubungi oleh cahaya sorgawi. Lebih tepat tubuh manusiawiNya saat peristiwa transfigurasi berubah menjadi tubuh sorgawi. Petrus, Yohanes dan Yakobus juga melihat kehadiran Musa dan Elia saat Kristus berubah rupa dalam kemuliaanNya. Bukankah Musa dan Elia adalah para nabi yang sangat terkemuka dalam kisah di Perjanjian Lama? Musa adalah satu-satunya nabi yang diperkenankan oleh Allah untuk berbicara muka dengan muka dengan Allah (Kel. 33:11), sehingga wajahNya bercahaya (Kel. 34:29). Akibatnya orang-orang Israel tidak dapat tahan saat mereka berhadapan dengan Musa, sehingga mereka meminta agar Musa menyelubungi mukanya (Kel. 34:35). Sedang nabi Elia adalah nabi yang diperkenankan oleh Allah untuk menurunkan api dari langit (I Raj. 18:36-38). Lebih dari pada itu nabi Elia adalah salah satu nabi yang tidak mengalami kematian secara fisik, tetapi bersama dengan tubuhnya dia diangkat ke sorga (II Raj. 2:11-12) sebagaimana yang pernah dialami oleh Henokh (Kej. 5:24). Dengan peristiwa pengangkatan Elia ke sorga bersama dengan tubuhnya, Allah telah mempermuliakan Elia dengan caraNya yang sangat khusus. Ini berarti dalam peristiwa transfigurasi Tuhan Yesus di atas gunung, ke-Messias-anNya sebagai Anak Allah telah diteguhkan secara sah oleh kehadiran Musa dan Elia. Bukankah hukum Taurat menyatakan bahwa suatu perkara tidak akan disangsikan jikalau telah didukung oleh 2 orang saksi? (Ul. 19:15). Bahkan melalui transfigurasi tersebut kita diingatkan pula bahwa Musa yang dikuburkan secara rahasia oleh Allah, dan Elia yang diangkat ke sorga oleh Allah pada hakikatnya mau menyatakan bahwa realitas bumi dan langit telah disatukan dalam inkarnasi dan pelayanan Kristus.
Kehadiran Musa dan Elia dalam peristiwa transfigurasi Yesus bukanlah sekedar suatu peristiwa penampakan dari roh mereka saat Yesus menyatakan kemuliaanNya, tetapi juga Musa dan Elia hadir untuk mempercakapkan sesuatu yang sangat penting dengan Yesus. Injil Markus dan Injil Matius tidak menjelaskan isi percakapan Yesus dengan Musa dan Elia. Tetapi Injil Lukas memberi penjelasan yaitu: “berbicara tentang tujuan kepergianNya yang akan digenapiNya di Yerusalem” (Luk. 9:31). Namun satu hal yang pasti Injil Matius dan Injil Markus menyatakan bahwa Tuhan Yesus mengingatkan para murid dengan sungguh-sungguh agar mereka tidak menyampaikan kepada siapapun juga sebelum Dia dibangkitkan dari antara orang mati (Mat. 17:9; Mark. 9:9). Bukankah peristiwa transfigurasi tersebut juga menunjuk kepada tubuh kebangkitan Kristus setelah Dia wafat disalibkan? Sering kita diombang-ambingkan dengan masalah tubuh kebangkitan Kristus. Masakan tubuh fisik Kristus dapat bangkit dalam kemuliaan dan kemudian dapat menembus dinding ruangan di mana para muridNya berada? Mereka menyimpulkan maka pastilah yang bangkit hanyalah roh Kristus dan bukan tubuh fisikNya. Jawaban tersebut sangat logis. Dalam peristiwa transfigurasiNya Tuhan Yesus melalui Injil Markus hendak menyatakan kepada umat bahwa tubuh kebangkitanNya kelak identik dengan tubuh kemuliaanNya sebagaimana dilihat oleh Petrus, Yohanes dan Yakobus. Ini berarti sebenarnya misteri tubuh kebangkitan Kristus sedikit banyak telah disingkapkan dalam peristiwa transfigurasiNya di atas gunung. Karena itu Allah dalam peristiwa transfigurasi Yesus juga menyatakan: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia" (Mark. 9:7). Allah bukan hanya menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah, tetapi kita juga dipanggil untuk sungguh-sungguh mau mendengarkan perkataanNya. Kita dipanggil untuk tidak meragukan keabsahan Yesus sebagai Messias dan Anak Allah yang mulia. Dasar iman yang demikian akan mempersekutukan diri kita dengan diri Tuhan Yesus. Yang mana persekutuan kita dengan Kristus tersebut juga akan mentransformasikan kehidupan kita untuk makin serupa dengan Dia. Sehingga kita bukan sekedar kagum dan terpesona dengan cahaya kemuliaan Kristus, tetapi lebih dari pada itu dalam persekutuan dengan Kristus kita makin dimampukan untuk memancarkan cahaya kemuliaan Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Selubung Bagi Mereka Yang Akan Binasa
Dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita tidak akan pernah melihat peristiwa transfigurasi Kristus sebagaimana yang disaksikan oleh Petrus, Yohanes dan Yakobus. Tetapi kita dimungkinkan untuk melihat kemuliaan Kristus melalui berita Injil atau firman Allah yang disaksikan oleh Alkitab. Kita bersyukur pada kini berita Alkitab makin tersebar melalui berbagai macam cara, misalnya: melalui pencetakan dan penerbitan, melalui internet, televisi, radio, khotbah dan berbagai pemberitaan firman. Tetapi apakah berbagai media komunikasi tersebut secara otomatis dapat membuka mata rohani banyak orang dalam pembaharuan hidup untuk serupa dengan Kristus? Tentunya jawabannya adalah: tidak otomatis! Sebab seluruh berita Alkitab tersebut membutuhkan respon iman dari setiap orang yang mendengarnya. Bahkan kita harus senantiasa memberi respon dalam setiap aspek kehidupan dan setiap momen hidup kita agar kehidupan kita makin diubahkan untuk serupa dengan Kristus. Dengan demikian respon iman kita terhadap berita yang disampaikan oleh Alkitab haruslah senantiasa bersifat dinamis dan eksistensial. Jadi tidaklah cukup bagi kita untuk mengaku percaya kepada Kristus di suatu momen, tetapi kemudian kita lengah dan kehilangan iman di momen atau kesempatan yang lain. Bukankah kita sering bersikap lengah dan kehilangan iman di berbagai momen kehidupan kita? Bahkan tidak jarang terjadi beberapa orang anggota jemaat sampai akhir hidupnya lebih memilih untuk meninggalkan Kristus. Betapa mudahnya bagi kita tertutup oleh selubung ketidakpercayaan kepada Kristus, sehingga kita tidak mampu melihat lagi kuasa dan kemuliaanNya sebagai Anak Allah. Di II Kor. 4:3-4 rasul Paulus berkata: “Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah”.
Beberapa orang menafsirkan ucapan rasul Paulus tersebut untuk menunjuk orang-orang yang tidak percaya dan menolak Kristus selaku Tuhan dan Juru-selamatnya. Tentunya tafsiran tersebut tidaklah terlalu keliru. Sebab surat rasul Paulus kepada jemaat Korintus tersebut dilatar-belakangi oleh pengalamannya saat dia memberitakan Injil di Troas dan di Makedonia (II Kor. 2:12-13) yang mana sebagian orang mau menerima berita yang disampaikan, dan sebagian lain menolaknya (II Kor. 2:15-16). Tetapi selubung yang menutupi mata rohani sebenarnya tidak hanya terbatas kepada orang-orang yang tidak percaya kepada Kristus, tetapi juga dapat menutupi mata rohani dari orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai umat Allah yaitu kepada mereka yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini. Bukankah dalam kehidupan sehari-hari, pikiran kita lebih banyak dibutakan oleh ilah zaman ini seperti: pola berpikir konsumerisme, sikap hidup yang hedonis (mencari kenikmatan dalam berbagai bentuk), kecenderungan yang egoistis, perasaan diri yang superior terhadap orang lain, upaya mengeksploitasi orang lain, secara sengaja mengembangkan sikap tamak, berlaku kejam dan sewenang-wenang kepada sesama. Dalam hal ini makna memiliki pikiran Kristus sering hanya diartikan manakala kita memiliki pikiran “dogmatis” tentang Kristus, tetapi kita sangat miskin memiliki pola mental yang etis sebagaimana yang telah dipancarkan oleh Kristus dalam seluruh kehidupanNya. Itu sebabnya kita sering gagal untuk mempraktekkan makna “Imitatio Christi”. Hidup kita tidak pernah mampu berubah secara kualitatif karena kita menolak untuk diubahkan oleh Kristus. Karena hati kita telah berpaling dan terbelenggu oleh kuasa ilah zaman ini, maka kehidupan kita memancarkan gambar dan rupa dari kuasa dunia walaupun secara dogmatis kita memiliki pengetahuan yang cukup kaya dan luas tentang Kristus.
Selubung yang menutupi mata rohani kita sering begitu lekat dan menyatu dengan kepribadian kita, sehingga kita sering tidak mampu bersikap obyektif dan kritis terhadap diri sendiri. Itu sebabnya yang kita kembangkan adalah mekanisme mempertahankan diri sendiri (defence of mechanism), bukan: sikap koreksi diri (self-correction). Sehingga ketika Kristus berkenan membuka selubung yang telah terkristalisasi dalam kepribadian kita, maka kepribadian kita akan dioperasi olehNya yang memungkinkan kita memperoleh pencerahan iman untuk melihat kemuliaan Kristus. Jika demikian apakah kita bersedia diterangi oleh cahaya Kristus dan memperkenankan Dia untuk membuka seluruh selubung yang menutupi mata rohani kita?
Kesetiaan Yang Berbuahkan Berkat
Saat nabi Elia akan diangkat ke sorga disebutkan dia senantiasa didampingi oleh nabi Elisa. Setiap nabi Elia menyuruh Elisa tetap tinggal di suatu tempat dan tidak mengikuti dia seperti di Betel, Yerikho dan Yordan ternyata Elisa lebih memilih mengikuti nabi Elia dan tidak mau meninggalkan dia sedikitpun juga. Sikap nabi Elisa tersebut mencerminkan kesetiaan seorang murid yang tetap ingin di samping gurunya, sehingga dia berkata: "Demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau" (II Raj. 2:2, 4, 6). Inilah kelebihan dari sikap nabi Elisa, yaitu kesetiaan dan kasih yang begitu tinggi kepada nabi Elia, gurunya. Karena itu tidaklah mengherankan ketika nabi Elia mengajukan pertanyaan kepada nabi Elisa, yaitu: "Mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu, sebelum aku terangkat dari padamu" (II Raj. 2:9), nabi Elisa tidak mau meminta apapun juga selain: “Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu”. Nabi Elisa hanya mengharapkan kekuatan roh yang telah dianugerahkan Allah kepada Elia agar dia dapat menenuaikan tugasnya sebagai nabi Allah. Permintaan nabi Elisa tersebut sebenarnya merupakan pemenuhan dari perintah Allah kepada nabi Elia (I Raj. 19:16). Allah telah menunjukkan kepada nabi Elia seorang calon penggantinya yang baik dan setia, sehingga ketika nabi Elia diangkat ke sorga, Allah berkenan membuka mata Elisa untuk menyaksikannya. Itu sebabnya nabi Elisa diperkenankan untuk memperoleh kekuatan dan wibawa kenabian dari nabi Elia (bdk. II Raj. 2:10-13). Itu sebabnya dalam seluruh karya nabi Elisa kita dapat melihat betapa besar kuasa Allah dinyatakan sebagaimana Allah pernah menyertai dan memberkati nabi Elia. Demikian pula nabi Elisa diperlengkapi oleh Allah dengan berbagai kuasa mukjizat untuk menyelamatkan banyak orang yang menderita.
Apabila kesetiaan nabi Elisa dinyatakan agar dia dapat diperlengkapi dengan kuasa Allah, tidaklah demikian sikap Petrus pada saat dia menyaksikan peristiwa transfigurasi Kristus. Petrus berkata kepada Tuhan Yesus agar dia diperkenankan mendirikan 3 kemah yaitu untuk Tuhan Yesus, nabi Musa dan nabi Elia, demikian: "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia” (Mark. 9:5). Petrus ingin tetap bersama dengan Kristus, nabi Musa dan Elia di atas gunung itu. Sepertinya Petrus tidak ingin turun dari gunung untuk mendampingi Kristus dalam menenuaikan tugasNya yang utama yaitu menderita dan disalibkan. Kesetiaan yang dipraktekkan oleh Petrus adalah kesetiaan yang pasif dan tetap berada dalam zona aman. Tetapi ketika dia menghadapi tekanan yang dianggap mengganggu rasa amannya, Petrus segera berubah menjadi orang yang tidak segan menyangkal Tuhan Yesus di hadapan orang banyak. Bukankah sikap kesetiaan kita kepada Tuhan Yesus seperti Petrus? Kita akan tetap setia kepada Kristus selama kita masih berada di zona aman, tetapi saat kita diperhadapkan oleh sesuatu yang sulit dan berbahaya maka kita segera berubah menjadi orang-orang yang menyangkalNya. Untuk itu kita perlu meneladani sikap nabi Elisa yang sedikitpun tidak mau meninggalkan nabi Elia sampai pada akhirnya. Sehingga ketika nabi Elia telah pergi dan diangkat ke sorga, nabi Elisa tetap melanjutkan tugas pelayanan nabi Elia dengan setia. Cahaya kemuliaan yang dipancarkan oleh Allah dalam peristiwa nabi Elia diangkat ke sorga tetap terpancar dalam seluruh pelayanan nabi Elisa.
Panggilan
Cahaya kemuliaan Kristus yang disaksikan oleh Alkitab dan pemberitaan firman, bahkan juga dalam berbagai peristiwa hidup sehari-hari seharusnya makin memproses diri kita untuk semakin serupa dengan Dia. Selaku umat percaya kita terpanggil senantiasa terbuka untuk “dioperasi” oleh kuasa Allah sehingga seluruh selubung yang menutupi mata rohani kita disingkapkan. Penyingkapan seluruh selubung kita akan bekerja semakin efektif, manakala kita mau meresponnya dengan sikap iman yang setia kepada Kristus. Dengan demikian mata rohaniah kita tidak lagi dibutakan oleh ilah-ilah zaman ini, tetapi diterangi oleh cahaya kemuliaan Kristus sehingga hidup kita senantiasa dapat memancarkan kemuliaanNya. Amin.
PUASA: MEMBERLAKUKAN KASIH DAN KEADILAN
PUASA: MEMBERLAKUKAN KASIH DAN KEADILAN
Yes. 58:1-12; Mzm. 51:1-17; II Kor. 5:20b – 6:10; Mat. 6:1-6, 16-21
Pengantar
Hampir sebagian besar gereja-gereja Reformatoris belum memberlakukan hari Rabu Abu sebagai awal dari masa Pra-Paska. Mereka menganggap bahwa ibadah Rabu Abu sebagai suatu ibadah yang diambil alih dari gereja Roma Katolik. Padahal anggapan tersebut tidaklah benar. Ibadah Rabu Abu justru diambil dari ibadah umat Israel kuna di Perjanjian Lama untuk menghayati sikap perendahan diri dan pertobatan di hadapan Allah. Setelah Allah menghukum umat Israel dengan menyerahkannya kepada kekuasaan Babel, maka disebutkan umat Israel menyatakan sikap dengan cara: “Duduklah tertegun di tanah para tua-tua puteri Sion; mereka menabur abu di atas kepala, dan mengenakan kain kabung. Dara-dara Yerusalem menundukkan kepalanya ke tanah” (Rat. 2:10). Dasar teologis umat Israel menabur abu di atas kepala sebenarnya untuk mengingatkan mereka yang telah diciptakan oleh Allah dari debu tanah. Makna manusia diciptakan oleh Allah dari “debu tanah” menunjuk kepada kefanaan, terbatas, lemah dan berdosa. Mereka diingatkan akan hakikat hidupnya yang hanya bersumber kepada kasih dan anugerah Allah, sehingga tidak memiliki dasar sedikitpun untuk bermegah. Apalagi saat mereka menghadapi penderitaan, malapetaka dan kesedihan. Mereka terdorong oleh sikap iman untuk merendahkan diri, mohon pengampunan akan dosa-dosa yang telah diperbuat dan pernyataan pertobatan kepada Allah melalui puasa. Dengan demikian hakikat puasa sebenarnya untuk mengembalikan kesadaran umat kepada tujuan dan makna hidup yang sesungguhnya. Sehingga dengan kesadaran diri yang dinyatakan melalui pertobatan tersebut diharapkan dapat terjalin kembali komunikasi dengan Allah. Kesadaran diri tersebut dilandasi oleh sikap iman, yaitu bahwa pada hakikatnya Allah adalah pengasih, penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia (bdk. Yun. 4:2b); maka pastilah Allah berkenan mengasihi dan mengampuni orang yang merendahkan diri di hadapanNya. Karena itu ibadah puasa kemudian dijadikan bagian liturgi yang dilaksanakan secara khusus dan berkala setiap tahun agar umat dapat secara teratur menghayati keberadaannya yang membutuhkan pengampunan Allah, sehingga mereka tidak lalai merendahkan diri dan senantiasa hidup dalam pertobatan.
Tetapi melaksanakan suatu ibadah puasa secara teratur dan berkala juga dapat mendorong kita untuk melaksanakan sekedar suatu formalitas belaka. Kita dapat terjebak dalam rutinitas ibadah puasa yang terlepas dari proses pembaharuan hidup, sehingga kita tidak sungguh-sungguh merendahkan diri dan bertobat di hadapan Allah. Artinya melalui ibadah puasa yang rutin kita lakukan dapat membuat kita makin membenarkan diri dan menganggap diri lebih baik dari pada sesama yang tidak berpuasa. Akibatnya dengan spiritualitas yang demikian, ibadah puasa bukan lagi menjadi media pembebasan yang mendorong diri kita untuk memberlakukan kasih dan keadilan, tetapi sebaliknya menjadi kristalisasi sikap egoistis dan perasaan superiotas diri. Sehingga selama berpuasa, kita memberlakukan sikap yang sewenang-wenang, berlaku kejam, mengeksploitasi orang lain untuk kepentingan diri, dan tidak peka dengan penderitaan sesama. Kita dapat melihat praktek orang-orang berpuasa di sekeliling kita, yang dengan mudah berubah menjadi beringas dan gemar menghakimi sesama yang dianggap sebagai “penggoda iman”. Mereka menuntut orang lain untuk tidak bekerja menjual makanan dan minuman pada saat mereka berpuasa agar mereka tidak terganggu dan dapat dengan selamat dan lancer menjalankan ibadah puasanya. Padahal hakikat puasa sebenarnya bertujuan agar kita makin mampu mengendalikan hawa-nafsu dan keinginan-keinginan duniawi. Sehingga seandainya kita mampu menyingkirkan semua hal yang dianggap menggoda dan membatalkan puasa, maka sebenarnya kita gagal untuk melatih dan mengendalikan nafsu dalam diri kita. Puasa yang demikian hanya sedikit melatih fisik seseorang untuk sementara tidak makan atau minum, tetapi hati dan jiwanya tetap gagal dalam memberlakukan kasih dan keadilan sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah.
Syaraf Spiritualitas Yang Terputus
Dalam bukunya yang berjudul “Jesus Among Other Gods”, Ravi Zakharias menuturkan pengamatannya ketika dia tinggal di suatu hotel yang berseberangan dengan suatu kuil. Dia mengamati betapa antuasias ribuan orang yang khusuk berdoa di depan kuil tersebut. Manakala mereka sekedar berjalan di depan kuil tersebut maka mereka akan membuat tanda penghormatan seperti menundukkan kepala dan melipat tangan menyembah kepada Tuhan yang ada dalam kuil tersebut. Tetapi setelah beberapa langkah, orang-orang yang sangat khusuk berdoa atau memberi tanda penghormatan religius segera “berjaga-jaga” untuk melihat turis manakah yang dapat mereka perdayai hari itu. Dari upaya menunjukkan gambar telanjang atau menawarkan pelayanan seks dari seorang pelacur hingga menjual jam tangan Rolex palsu. Pada satu pihak mereka jelas sangat khidmat dan hormat kepada hal-hal yang religius, tetapi pada pihak lain mereka tidak segan untuk mempraktekkan berbagai tindakan yang ilegal dan amoral. Tampaknya telah terjadi suatu pemutusan syaraf spiritualitas di bagian leher, sehingga syaraf tersebut tidak mampu menghubungkan otak dengan hati, dan menghubungkan hati dengan tangan serta kaki mereka. Demikian pula yang terjadi dalam kehidupan umat Israel yang disaksikan oleh kitab Yesaya. Di Yes. 58:2 disebutkan: “Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allahnya mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar, mereka suka mendekat menghadap Allah”. Tampaknya umat Israel begitu gigih mencari Allah, sehingga setiap hari mereka berusaha untuk terus menghadap Allah dan mengenal jalan kebenaranNya. Suatu religiusitas yang sangat menyentuh hati. Secara hukum keagamaan, sikap mereka tidak bercela. Begitu sempurna dan sangat khidmat. Tetapi tak lama kemudian mereka berubah sikap, yaitu: “Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi” (Yes. 58:4).
Ketika spiritualitas kita ditandai oleh berbagai kontradiksi, maka segala hal yang tampaknya suci dan penuh khidmat kepada Allah di tempat yang tinggi menjadi tidak berarti lagi. Spiritualitas yang demikian menjadi lumpuh untuk melaksanakan fungsinya yang paling utama yaitu mempermuliakan Allah dengan memberlakukan kasih dan keadilan. Sama seperti ketika syaraf otak kita putus atau pecah karena pendarahan, maka organ-organ tubuh yang terkait menjadi lumpuh (efek dari serangan stroke). Bukankah kita sering gagal untuk menegakkan integritas iman, karena saat syaraf spiritualitas kita terputus sehingga kita hanya mampu bicara tentang Allah hanya dari sudut otak dan intelektualitas, tetapi dalam praktek kita gagal untuk memberlakukan secara etis-moril? Bahkan kadang-kadang sikap kita lebih ekstrem lagi karena mampu menggabungkan suatu tindakan yang sangat religius, dan dalam waktu yang bersamaan kita melakukan apa yang jahat. Umat Israel di Yes. 58:4 disebutkan bahwa mereka mampu berpuasa sekaligus berbantah, berkelahi dan memukul sesama dengan tinju dengan tidak semena-mena. Ini suatu perkawinan karakter yang sangat paradoks, ganjil, dan mustahil namun sekaligus sesuatu yang begitu riel dalam kehidupan sehari-hari. Disebut sebagai suatu paradoks dan mustahil karena memang sebenarnya tidak mungkin mampu disatukan dalam suatu sikap kepribadian seseornag, tetapi nyatanya telah menjadi suatu realitas kehidupan. Makna “keterpecahan batin” ternyata bukan hanya suatu persoalan dari ilmu yang dipelajari oleh psikologi klinis, tetapi juga lebih dalam lagi karena “keterpecahan batin” tersebut seringkali berkembang menjadi “keterpecahan spiritualitas”. Akibatnya kita gigih untuk melakukan sesuatu yang serba bertentangan: tampak hidup saleh sekaligus jahat, beragama sekaligus amoral. Sehingga puasa yang dia lakukan sama sekali tidak berhasil membawa kepada pembaharuan hidup dan penguatan integritas diri. Walaupun dia gemar berpuasa dengan mengenakan kain kabung dan menorehkan abu di dahi atau kepala, namun sama sekali tidak membawa efek perubahan yang berarti dalam kehidupan kita. Ritualitas tetap jalan tapi spiritualitas mandeg. Betapa mengerikan “stroke spiritualitas” dibandingkan dengan efek serangan “stroke fisik” yang hanya melumpuhkan beberapa anggota tubuh kita. Dengan demikian “keterpecahan spiritualitas” sesungguhnya merupakan musuh yang paling berbahaya sebab nilai-nilai kehidupan yang mulia dan benar menjadi terancam serta disia-siakan. Putusnya syaraf spiritualitas akan menyebabkan jalan kebenaran Allah sering diperdaya, dibengkokkan dan dimanipulasi untuk menutupi topeng kepalsuan diri, yaitu kemunafikan.
Pengakuan Dosa Yang Mendamaikan
Kepalsuan diri yang terkristalisasi dengan topeng keagamaan dan kesalehan pada hakikatnya akan semakin menjauhkan manusia dari anugerah dan pengampunan Allah. Sebab kepalsuan diri bukan sekedar karena kita berhasil telah menipu diri sendiri, tetapi juga karena kita telah menipu Allah yang maha-tahu. Orang-orang yang hidup dalam kepalsuan diri senantiasa menganggap mereka telah hidup benar dan karena itu tidak membutuhkan teguran dan pengampunan Allah. Surat I Yoh. 1:10 berkata: “Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita”. Bukankah ketidakmampuan kita untuk mengakui dosa disebabkan karena memang syaraf spiritualitas di otak dan hati telah terputus, sehingga kita sering tidak mampu melihat realitas dosa kita secara utuh? Bahkan sering realitas dosa berhasil kita manipulasi dengan kelicikan atau kelihaian kita dalam membuat “argumentasi teologis” yang tampaknya sangat saleh. Seakan-akan semakin lihai diri kita membuat “argumentasi teologis”, maka realitas dosa yang telah kita lakukan makin dapat dijinakkan dan dinetralisir, lalu seakan-akan hidup kita menjadi benar di hadapan Allah. Padahal tidaklah demikian! Semakin kita lihai membuat “argumentasi teologis” dan pembenaran diri, maka kita akan menjadi musuh Allah. Sebab Allah hanya berkenan kepada orang-orang yang rendah-hati, jujur dan remuk jiwanya saat dia menyadari seluruh dosa atau kesalahannya. Di Mzm. 51, Daud mengungkapkan dan mengakui dosanya di hadapan Allah sehingga dia berkata: “Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu” (Mzm. 51:5-6). Daud dengan penuh kesadaran mengakui seluruh dosanya, bahwa dia telah berdosa dan melakukan apa yang jahat di hadapan Allah. Pengakuan dosa Daud yang lahir dari jiwanya yang remuk pada hakikatnya telah menyingkapkan seluruh topeng kepalsuan dirinya. Daud tidak mau mendustai Allah dengan kelihaian beragumentasi secara teologis dan pembenaran dirinya. Karena itu Daud akhirnya tetap hidup berdamai dengan Allah.
Integritas dan kredibilitas diri kita akan dipulihkan saat kita berhasil berdamai dengan Allah. Di II Kor. 5:20 rasul Paulus berkata: “Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah”. Makna pendamaian dengan Allah hanya mungkin terjadi ketika kita mau mengakui seluruh dosa kita dan menyambut Kristus selaku Juru-selamat yang memulihkan serta yang mampu mengampuni seluruh dosa kita. Dengan perkataan lain, tanpa sikap pengakuan dosa maka tidaklah mungkin tersedia pengampunan. Padahal kita sering mengharap menerima pengampunan yang penuh dari Allah, tetapi tidak disertai oleh sikap pengakuan dosa yang tulus dan menyeluruh. Apakah kita berani mengakui satu persatu setiap dosa yang telah kita lakukan secara rinci atau detil kepada Tuhan? Bukankah ada kecenderungan yang sangat kuat bagi kita untuk mengakui dosa dengan pernyataan atau kalimat yang bersifat umum, misalnya: “Tuhan, kami telah berdosa kepadaMu dalam pikiran, perkataan dan perbuatan atau tingkah-laku kami”. Tetapi kita sangat jarang untuk menguraikan apa yang dimaksud dengan dosa-dosa dalam pikiran termasuk bentuk yang yang telah kita reka atau rancang secara jahat di otak, atau dosa dalam perkataan dengan bentuk konkretnya; dan dosa-dosa dalam perbuatan atau tingkah-laku dengan bentuk atau “kisahnya”. Pengakuan dosa yang gemar menggunakan kalimat-kalimat yang bersifat umum selain bersifat klise, juga dapat menjadi tempat yang aman bagi kita untuk menyembunyikan kesalahan atau dosa yang sebenarnya. Akibatnya dosa yang telah kita perbuat tidak pernah dibereskan secara menyeluruh dan total di hadapan Allah. Dalam konteks ini ibadah puasa seharusnya dipakai sebagai kesempatan khusus bagi kita untuk mengakui dosa secara terbuka di hadapan Allah sambil mengisahkan secara terbuka bagaimanakah jenis dan perbuatan dosa tersebut berulang-ulang kita lakukan. Sehingga puasa yang kita lakukan bukan hanya sekedar mengurangi frekuensi dan kuantitas makan, tetapi juga mampu mengurangi dan mengalahkan sikap pembenaran diri yang telah berurat akar dalam diri kita. Dengan demikian, puasa dapat dipakai menjadi media pengakuan dosa yang mendamaikan antara diri kita dengan Allah berdasarkan anugerahNya. Puasa yang demikian akan menjadi media spiritualitas yang transformatif membebaskan dan menyelamatkan.
Puasa Yang Membebaskan Belenggu
Ibadah Rabu Abu sebagai awal dari masa Pra-Paska yang ditandai dengan puasa selama 40 hari perlu dihayati bukan sekedar suatu rutinitas ibadah, tetapi seharusnya menjadi suatu rangkaian ibadah yang membebaskan kita dari belenggu kelemahan diri dan dosa. Sehingga puasa bukan sekedar suatu pelaksanaan ritual-seremonial, tetapi media perjumpaan Allah dan umat yang telah ditransformasikan untuk melakukan kasih dan keadilan. Allah memanggil umat untuk memberlakukan puasa sebagai media transformasi yang sifatnya memerdekakan setiap sesama yang menderita. Allah berfirman: “Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (Yes. 58:6-7). Jadi yang terpenting bukan segi formalitas ritualitasnya, tetapi bagaimanakah dampak atau efek dari ritualitas puasa yang telah kita laksanakan. Apakah puasa makin mendorong atau memotivasi diri kita untuk peduli dengan mereka yang lapar, miskin, putus-asa dan tak punya rumah? Apakah kita mau membebaskan diri dari zona aman (comfort zone), sehingga kita sungguh-sungguh mampu bersikap konsisten untuk membela hak orang yang tertindas dan teraniaya? Komitmen iman tersebut akan menjadi suatu kenyataan hidup ketika dalam hidup sehari-hari kita tidak pernah tergoda untuk mencari pujian bagi diri kita sendiri sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Farisi pada zaman Tuhan Yesus. Sebab orang-orang Farisi waktu itu sering mengubah air muka saat berpuasa agar dilihat dan dipuji oleh sesamanya (Mat. 6:16). Jadi kita akan mampu berkorban dan menderita bagi sesama yang menderita manakala orientasi hidup kita bukan “money-oriented” atau penghimpun kekayaan; tetapi orientasi hidup kita yang utama adalah bersedia menjadi alat Allah untuk menyatakan kebenaran, keadilan dan pengampunanNya. Itu sebabnya Tuhan Yesus berkata: "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya” (Mat. 6:19).
Berulang-ulang Tuhan Yesus mengaitkan ajaran hal makna berdoa, sedekah dan berpuasa dengan prinsip “ketersembunyian”. Apabila kita berdoa, memberi sedekah dan berpuasa hendaknya dilakukan tanpa diketahui oleh sesama: “Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu" (Mat. 6:18b). Dengan demikian, belenggu hawa-nafsu duniawi yang selalu haus akan pujian dan kristalisasi egoisme akan terpatahkan manakala kita memberlakukan spiritualitas “ketersembunyian”. Sebab makna spiritualitas ketersembunyian pada hakikatnya suatu manifestasi kasih yang dilandasi oleh iman dan integritas diri, sehingga mencegah dia untuk memamerkan kepada publik hal-hal yang seharusnya cukup diketahui dan dinilai oleh Allah. Karena itu spiritualitas ketersembunyian dalam puasa yang dilakukan selama masa Pra-Paska pada hakikatnya merupakan penaklukan atau penyangkalan diri yang mengandalkan sepenuhnya anugerah kasih Allah, sehingga terbukalah ruang spiritualitas yang makin efektif untuk melakukan karya Allah yang membebaskan. Jika demikian, melalui puasa kita makin dimampukan oleh Allah untuk membebaskan diri dari belenggu karakter, kebiasaan, pola hidup, pola pikir dan nafsu duniawi yang menghalangi kita untuk melakukan kehendak Allah. Sehingga kehidupan kita makin dibentuk, dimurnikan dan dikuduskan oleh Allah untuk mencerminkan gambar dan rupaNya: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat. 5:48).
Panggilan
Selama masa Pra-Paska kita selaku umat Allah berkomitmen untuk menyangkal diri dengan berpuasa; namun apakah komitmen kita didasarkan pada sikap yang konsisten? Tanpa sikap yang konsisten, maka puasa kita hanya akan menjadi rangkaian ritualitas, tetapi tidak pernah membawa dampak yang berarti. Padahal melalui puasa, Allah menghendaki diri kita untuk menjadi para pribadi yang makin efektif untuk mematahkan belenggu-belenggu kelaliman, keserakahan dan egoisme diri. Jika demikian, kita terpanggil untuk senantiasa memberlakukan spiritualitas ketersembunyian agar seluruh karya dan pelayanan kita makin efektif dan dikuduskan oleh Allah. Amin.
Yes. 58:1-12; Mzm. 51:1-17; II Kor. 5:20b – 6:10; Mat. 6:1-6, 16-21
Pengantar
Hampir sebagian besar gereja-gereja Reformatoris belum memberlakukan hari Rabu Abu sebagai awal dari masa Pra-Paska. Mereka menganggap bahwa ibadah Rabu Abu sebagai suatu ibadah yang diambil alih dari gereja Roma Katolik. Padahal anggapan tersebut tidaklah benar. Ibadah Rabu Abu justru diambil dari ibadah umat Israel kuna di Perjanjian Lama untuk menghayati sikap perendahan diri dan pertobatan di hadapan Allah. Setelah Allah menghukum umat Israel dengan menyerahkannya kepada kekuasaan Babel, maka disebutkan umat Israel menyatakan sikap dengan cara: “Duduklah tertegun di tanah para tua-tua puteri Sion; mereka menabur abu di atas kepala, dan mengenakan kain kabung. Dara-dara Yerusalem menundukkan kepalanya ke tanah” (Rat. 2:10). Dasar teologis umat Israel menabur abu di atas kepala sebenarnya untuk mengingatkan mereka yang telah diciptakan oleh Allah dari debu tanah. Makna manusia diciptakan oleh Allah dari “debu tanah” menunjuk kepada kefanaan, terbatas, lemah dan berdosa. Mereka diingatkan akan hakikat hidupnya yang hanya bersumber kepada kasih dan anugerah Allah, sehingga tidak memiliki dasar sedikitpun untuk bermegah. Apalagi saat mereka menghadapi penderitaan, malapetaka dan kesedihan. Mereka terdorong oleh sikap iman untuk merendahkan diri, mohon pengampunan akan dosa-dosa yang telah diperbuat dan pernyataan pertobatan kepada Allah melalui puasa. Dengan demikian hakikat puasa sebenarnya untuk mengembalikan kesadaran umat kepada tujuan dan makna hidup yang sesungguhnya. Sehingga dengan kesadaran diri yang dinyatakan melalui pertobatan tersebut diharapkan dapat terjalin kembali komunikasi dengan Allah. Kesadaran diri tersebut dilandasi oleh sikap iman, yaitu bahwa pada hakikatnya Allah adalah pengasih, penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia (bdk. Yun. 4:2b); maka pastilah Allah berkenan mengasihi dan mengampuni orang yang merendahkan diri di hadapanNya. Karena itu ibadah puasa kemudian dijadikan bagian liturgi yang dilaksanakan secara khusus dan berkala setiap tahun agar umat dapat secara teratur menghayati keberadaannya yang membutuhkan pengampunan Allah, sehingga mereka tidak lalai merendahkan diri dan senantiasa hidup dalam pertobatan.
Tetapi melaksanakan suatu ibadah puasa secara teratur dan berkala juga dapat mendorong kita untuk melaksanakan sekedar suatu formalitas belaka. Kita dapat terjebak dalam rutinitas ibadah puasa yang terlepas dari proses pembaharuan hidup, sehingga kita tidak sungguh-sungguh merendahkan diri dan bertobat di hadapan Allah. Artinya melalui ibadah puasa yang rutin kita lakukan dapat membuat kita makin membenarkan diri dan menganggap diri lebih baik dari pada sesama yang tidak berpuasa. Akibatnya dengan spiritualitas yang demikian, ibadah puasa bukan lagi menjadi media pembebasan yang mendorong diri kita untuk memberlakukan kasih dan keadilan, tetapi sebaliknya menjadi kristalisasi sikap egoistis dan perasaan superiotas diri. Sehingga selama berpuasa, kita memberlakukan sikap yang sewenang-wenang, berlaku kejam, mengeksploitasi orang lain untuk kepentingan diri, dan tidak peka dengan penderitaan sesama. Kita dapat melihat praktek orang-orang berpuasa di sekeliling kita, yang dengan mudah berubah menjadi beringas dan gemar menghakimi sesama yang dianggap sebagai “penggoda iman”. Mereka menuntut orang lain untuk tidak bekerja menjual makanan dan minuman pada saat mereka berpuasa agar mereka tidak terganggu dan dapat dengan selamat dan lancer menjalankan ibadah puasanya. Padahal hakikat puasa sebenarnya bertujuan agar kita makin mampu mengendalikan hawa-nafsu dan keinginan-keinginan duniawi. Sehingga seandainya kita mampu menyingkirkan semua hal yang dianggap menggoda dan membatalkan puasa, maka sebenarnya kita gagal untuk melatih dan mengendalikan nafsu dalam diri kita. Puasa yang demikian hanya sedikit melatih fisik seseorang untuk sementara tidak makan atau minum, tetapi hati dan jiwanya tetap gagal dalam memberlakukan kasih dan keadilan sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah.
Syaraf Spiritualitas Yang Terputus
Dalam bukunya yang berjudul “Jesus Among Other Gods”, Ravi Zakharias menuturkan pengamatannya ketika dia tinggal di suatu hotel yang berseberangan dengan suatu kuil. Dia mengamati betapa antuasias ribuan orang yang khusuk berdoa di depan kuil tersebut. Manakala mereka sekedar berjalan di depan kuil tersebut maka mereka akan membuat tanda penghormatan seperti menundukkan kepala dan melipat tangan menyembah kepada Tuhan yang ada dalam kuil tersebut. Tetapi setelah beberapa langkah, orang-orang yang sangat khusuk berdoa atau memberi tanda penghormatan religius segera “berjaga-jaga” untuk melihat turis manakah yang dapat mereka perdayai hari itu. Dari upaya menunjukkan gambar telanjang atau menawarkan pelayanan seks dari seorang pelacur hingga menjual jam tangan Rolex palsu. Pada satu pihak mereka jelas sangat khidmat dan hormat kepada hal-hal yang religius, tetapi pada pihak lain mereka tidak segan untuk mempraktekkan berbagai tindakan yang ilegal dan amoral. Tampaknya telah terjadi suatu pemutusan syaraf spiritualitas di bagian leher, sehingga syaraf tersebut tidak mampu menghubungkan otak dengan hati, dan menghubungkan hati dengan tangan serta kaki mereka. Demikian pula yang terjadi dalam kehidupan umat Israel yang disaksikan oleh kitab Yesaya. Di Yes. 58:2 disebutkan: “Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allahnya mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar, mereka suka mendekat menghadap Allah”. Tampaknya umat Israel begitu gigih mencari Allah, sehingga setiap hari mereka berusaha untuk terus menghadap Allah dan mengenal jalan kebenaranNya. Suatu religiusitas yang sangat menyentuh hati. Secara hukum keagamaan, sikap mereka tidak bercela. Begitu sempurna dan sangat khidmat. Tetapi tak lama kemudian mereka berubah sikap, yaitu: “Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi” (Yes. 58:4).
Ketika spiritualitas kita ditandai oleh berbagai kontradiksi, maka segala hal yang tampaknya suci dan penuh khidmat kepada Allah di tempat yang tinggi menjadi tidak berarti lagi. Spiritualitas yang demikian menjadi lumpuh untuk melaksanakan fungsinya yang paling utama yaitu mempermuliakan Allah dengan memberlakukan kasih dan keadilan. Sama seperti ketika syaraf otak kita putus atau pecah karena pendarahan, maka organ-organ tubuh yang terkait menjadi lumpuh (efek dari serangan stroke). Bukankah kita sering gagal untuk menegakkan integritas iman, karena saat syaraf spiritualitas kita terputus sehingga kita hanya mampu bicara tentang Allah hanya dari sudut otak dan intelektualitas, tetapi dalam praktek kita gagal untuk memberlakukan secara etis-moril? Bahkan kadang-kadang sikap kita lebih ekstrem lagi karena mampu menggabungkan suatu tindakan yang sangat religius, dan dalam waktu yang bersamaan kita melakukan apa yang jahat. Umat Israel di Yes. 58:4 disebutkan bahwa mereka mampu berpuasa sekaligus berbantah, berkelahi dan memukul sesama dengan tinju dengan tidak semena-mena. Ini suatu perkawinan karakter yang sangat paradoks, ganjil, dan mustahil namun sekaligus sesuatu yang begitu riel dalam kehidupan sehari-hari. Disebut sebagai suatu paradoks dan mustahil karena memang sebenarnya tidak mungkin mampu disatukan dalam suatu sikap kepribadian seseornag, tetapi nyatanya telah menjadi suatu realitas kehidupan. Makna “keterpecahan batin” ternyata bukan hanya suatu persoalan dari ilmu yang dipelajari oleh psikologi klinis, tetapi juga lebih dalam lagi karena “keterpecahan batin” tersebut seringkali berkembang menjadi “keterpecahan spiritualitas”. Akibatnya kita gigih untuk melakukan sesuatu yang serba bertentangan: tampak hidup saleh sekaligus jahat, beragama sekaligus amoral. Sehingga puasa yang dia lakukan sama sekali tidak berhasil membawa kepada pembaharuan hidup dan penguatan integritas diri. Walaupun dia gemar berpuasa dengan mengenakan kain kabung dan menorehkan abu di dahi atau kepala, namun sama sekali tidak membawa efek perubahan yang berarti dalam kehidupan kita. Ritualitas tetap jalan tapi spiritualitas mandeg. Betapa mengerikan “stroke spiritualitas” dibandingkan dengan efek serangan “stroke fisik” yang hanya melumpuhkan beberapa anggota tubuh kita. Dengan demikian “keterpecahan spiritualitas” sesungguhnya merupakan musuh yang paling berbahaya sebab nilai-nilai kehidupan yang mulia dan benar menjadi terancam serta disia-siakan. Putusnya syaraf spiritualitas akan menyebabkan jalan kebenaran Allah sering diperdaya, dibengkokkan dan dimanipulasi untuk menutupi topeng kepalsuan diri, yaitu kemunafikan.
Pengakuan Dosa Yang Mendamaikan
Kepalsuan diri yang terkristalisasi dengan topeng keagamaan dan kesalehan pada hakikatnya akan semakin menjauhkan manusia dari anugerah dan pengampunan Allah. Sebab kepalsuan diri bukan sekedar karena kita berhasil telah menipu diri sendiri, tetapi juga karena kita telah menipu Allah yang maha-tahu. Orang-orang yang hidup dalam kepalsuan diri senantiasa menganggap mereka telah hidup benar dan karena itu tidak membutuhkan teguran dan pengampunan Allah. Surat I Yoh. 1:10 berkata: “Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita”. Bukankah ketidakmampuan kita untuk mengakui dosa disebabkan karena memang syaraf spiritualitas di otak dan hati telah terputus, sehingga kita sering tidak mampu melihat realitas dosa kita secara utuh? Bahkan sering realitas dosa berhasil kita manipulasi dengan kelicikan atau kelihaian kita dalam membuat “argumentasi teologis” yang tampaknya sangat saleh. Seakan-akan semakin lihai diri kita membuat “argumentasi teologis”, maka realitas dosa yang telah kita lakukan makin dapat dijinakkan dan dinetralisir, lalu seakan-akan hidup kita menjadi benar di hadapan Allah. Padahal tidaklah demikian! Semakin kita lihai membuat “argumentasi teologis” dan pembenaran diri, maka kita akan menjadi musuh Allah. Sebab Allah hanya berkenan kepada orang-orang yang rendah-hati, jujur dan remuk jiwanya saat dia menyadari seluruh dosa atau kesalahannya. Di Mzm. 51, Daud mengungkapkan dan mengakui dosanya di hadapan Allah sehingga dia berkata: “Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu” (Mzm. 51:5-6). Daud dengan penuh kesadaran mengakui seluruh dosanya, bahwa dia telah berdosa dan melakukan apa yang jahat di hadapan Allah. Pengakuan dosa Daud yang lahir dari jiwanya yang remuk pada hakikatnya telah menyingkapkan seluruh topeng kepalsuan dirinya. Daud tidak mau mendustai Allah dengan kelihaian beragumentasi secara teologis dan pembenaran dirinya. Karena itu Daud akhirnya tetap hidup berdamai dengan Allah.
Integritas dan kredibilitas diri kita akan dipulihkan saat kita berhasil berdamai dengan Allah. Di II Kor. 5:20 rasul Paulus berkata: “Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah”. Makna pendamaian dengan Allah hanya mungkin terjadi ketika kita mau mengakui seluruh dosa kita dan menyambut Kristus selaku Juru-selamat yang memulihkan serta yang mampu mengampuni seluruh dosa kita. Dengan perkataan lain, tanpa sikap pengakuan dosa maka tidaklah mungkin tersedia pengampunan. Padahal kita sering mengharap menerima pengampunan yang penuh dari Allah, tetapi tidak disertai oleh sikap pengakuan dosa yang tulus dan menyeluruh. Apakah kita berani mengakui satu persatu setiap dosa yang telah kita lakukan secara rinci atau detil kepada Tuhan? Bukankah ada kecenderungan yang sangat kuat bagi kita untuk mengakui dosa dengan pernyataan atau kalimat yang bersifat umum, misalnya: “Tuhan, kami telah berdosa kepadaMu dalam pikiran, perkataan dan perbuatan atau tingkah-laku kami”. Tetapi kita sangat jarang untuk menguraikan apa yang dimaksud dengan dosa-dosa dalam pikiran termasuk bentuk yang yang telah kita reka atau rancang secara jahat di otak, atau dosa dalam perkataan dengan bentuk konkretnya; dan dosa-dosa dalam perbuatan atau tingkah-laku dengan bentuk atau “kisahnya”. Pengakuan dosa yang gemar menggunakan kalimat-kalimat yang bersifat umum selain bersifat klise, juga dapat menjadi tempat yang aman bagi kita untuk menyembunyikan kesalahan atau dosa yang sebenarnya. Akibatnya dosa yang telah kita perbuat tidak pernah dibereskan secara menyeluruh dan total di hadapan Allah. Dalam konteks ini ibadah puasa seharusnya dipakai sebagai kesempatan khusus bagi kita untuk mengakui dosa secara terbuka di hadapan Allah sambil mengisahkan secara terbuka bagaimanakah jenis dan perbuatan dosa tersebut berulang-ulang kita lakukan. Sehingga puasa yang kita lakukan bukan hanya sekedar mengurangi frekuensi dan kuantitas makan, tetapi juga mampu mengurangi dan mengalahkan sikap pembenaran diri yang telah berurat akar dalam diri kita. Dengan demikian, puasa dapat dipakai menjadi media pengakuan dosa yang mendamaikan antara diri kita dengan Allah berdasarkan anugerahNya. Puasa yang demikian akan menjadi media spiritualitas yang transformatif membebaskan dan menyelamatkan.
Puasa Yang Membebaskan Belenggu
Ibadah Rabu Abu sebagai awal dari masa Pra-Paska yang ditandai dengan puasa selama 40 hari perlu dihayati bukan sekedar suatu rutinitas ibadah, tetapi seharusnya menjadi suatu rangkaian ibadah yang membebaskan kita dari belenggu kelemahan diri dan dosa. Sehingga puasa bukan sekedar suatu pelaksanaan ritual-seremonial, tetapi media perjumpaan Allah dan umat yang telah ditransformasikan untuk melakukan kasih dan keadilan. Allah memanggil umat untuk memberlakukan puasa sebagai media transformasi yang sifatnya memerdekakan setiap sesama yang menderita. Allah berfirman: “Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (Yes. 58:6-7). Jadi yang terpenting bukan segi formalitas ritualitasnya, tetapi bagaimanakah dampak atau efek dari ritualitas puasa yang telah kita laksanakan. Apakah puasa makin mendorong atau memotivasi diri kita untuk peduli dengan mereka yang lapar, miskin, putus-asa dan tak punya rumah? Apakah kita mau membebaskan diri dari zona aman (comfort zone), sehingga kita sungguh-sungguh mampu bersikap konsisten untuk membela hak orang yang tertindas dan teraniaya? Komitmen iman tersebut akan menjadi suatu kenyataan hidup ketika dalam hidup sehari-hari kita tidak pernah tergoda untuk mencari pujian bagi diri kita sendiri sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Farisi pada zaman Tuhan Yesus. Sebab orang-orang Farisi waktu itu sering mengubah air muka saat berpuasa agar dilihat dan dipuji oleh sesamanya (Mat. 6:16). Jadi kita akan mampu berkorban dan menderita bagi sesama yang menderita manakala orientasi hidup kita bukan “money-oriented” atau penghimpun kekayaan; tetapi orientasi hidup kita yang utama adalah bersedia menjadi alat Allah untuk menyatakan kebenaran, keadilan dan pengampunanNya. Itu sebabnya Tuhan Yesus berkata: "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya” (Mat. 6:19).
Berulang-ulang Tuhan Yesus mengaitkan ajaran hal makna berdoa, sedekah dan berpuasa dengan prinsip “ketersembunyian”. Apabila kita berdoa, memberi sedekah dan berpuasa hendaknya dilakukan tanpa diketahui oleh sesama: “Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu" (Mat. 6:18b). Dengan demikian, belenggu hawa-nafsu duniawi yang selalu haus akan pujian dan kristalisasi egoisme akan terpatahkan manakala kita memberlakukan spiritualitas “ketersembunyian”. Sebab makna spiritualitas ketersembunyian pada hakikatnya suatu manifestasi kasih yang dilandasi oleh iman dan integritas diri, sehingga mencegah dia untuk memamerkan kepada publik hal-hal yang seharusnya cukup diketahui dan dinilai oleh Allah. Karena itu spiritualitas ketersembunyian dalam puasa yang dilakukan selama masa Pra-Paska pada hakikatnya merupakan penaklukan atau penyangkalan diri yang mengandalkan sepenuhnya anugerah kasih Allah, sehingga terbukalah ruang spiritualitas yang makin efektif untuk melakukan karya Allah yang membebaskan. Jika demikian, melalui puasa kita makin dimampukan oleh Allah untuk membebaskan diri dari belenggu karakter, kebiasaan, pola hidup, pola pikir dan nafsu duniawi yang menghalangi kita untuk melakukan kehendak Allah. Sehingga kehidupan kita makin dibentuk, dimurnikan dan dikuduskan oleh Allah untuk mencerminkan gambar dan rupaNya: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat. 5:48).
Panggilan
Selama masa Pra-Paska kita selaku umat Allah berkomitmen untuk menyangkal diri dengan berpuasa; namun apakah komitmen kita didasarkan pada sikap yang konsisten? Tanpa sikap yang konsisten, maka puasa kita hanya akan menjadi rangkaian ritualitas, tetapi tidak pernah membawa dampak yang berarti. Padahal melalui puasa, Allah menghendaki diri kita untuk menjadi para pribadi yang makin efektif untuk mematahkan belenggu-belenggu kelaliman, keserakahan dan egoisme diri. Jika demikian, kita terpanggil untuk senantiasa memberlakukan spiritualitas ketersembunyian agar seluruh karya dan pelayanan kita makin efektif dan dikuduskan oleh Allah. Amin.
Sabtu, 17 Oktober 2009
ketika hidup harus memilih
KETIKA HIDUP HARUS MEMILIH
Ayub 23:1-9, 16-17 Mazmur 90:12-17 Ibrani 4:12-16 Markus 10:17-31
Beberapa tahun yang lalu di Virginia Utara, seorang laki-laki tua berdiri di tanggul sungai menunggu seseorang yang dapat menyeberangkannya. Waktu itu udara sangat dingin dan tidak ada jembatan. Setelah lama menunggu, ia melihat sekelompok penunggang kuda yang mendekatinya.Tapi pria tua itu hanya memandang sejenak,lalu membiarkan penunggang yang pertama lewat, begitu seterusnya sampai yang ke lima! Akhirnya muncullah penunggang kuda yang ke enam, setelah melihat ke matanya pria tua itupun berkata, “Pak, bisakah anda memberi saya tumpangan ke seberang sungai?” Tanpa keraguan sedikitpun, penunggang kuda itu memersilakan pria tua itu naik. Setelah sampai di seberang maka bertanyalah penunggang kuda kepada penumpangnya, “ Tadi saya memperhatikan bahwa anda membiarkan semua penunggang kuda lainnya lewat begitu saja , tak ada satupun yang anda mintai tolong. Kemudian ketika saya mendekat, anda dengan segera minta membonceng. Tolong beri tahu saya, mengapa demikian?” Pria tua itu dengan suara pelan menjawab, “ Saya melihat ke mata mereka dan tidak menemukan kehangatan dan cinta kasih, saya tahu bahwa tak ada gunanya kalau saya minta tolong menumpang. Tapi ketika kemudian memandang mata anda, saya melihat kasih sayang dan kesediaan untuk menolong. Saya tahu bahwa dengan senang hati anda akan memberi saya tumpangan ke seberang sungai!” Sesudah berterimakasih atas penjelasan pria tua itu maka Thomas Jeffferson, Presiden Amerika Serikat ke tiga itu segera membelokkan kuda tunggangannya, terus menuju ke Gedung Putih! (Mutiara Mutiara Kasih).
Yang menarik bagi kita bahwa pria tua itu bisa membaca pandangan mata orang, untuk memilih siapa-siapa yang diyakininya bersedia menolong dia. Dalam hidup ini memang ada saat bagi kita untuk memilih, tapi apa selalu hanya dengan cara memandang mata? Walau tak mungkin kita bisa memandang mata Yesus, tetapi tetap bisa memandang hal-hal lain yang lebih akurat, yang ada padaNya yaitu: Firman atau ajaranNya, karyaNya dan juga tubuhNya atau gerejaNya. Meski firman dan karya Kristus sangat penting, tapi agaknya kiprah gereja, atau bahasa tubuh Tuhan, sepak terjang orang-orang beriman, menjadi semacam penentu bagi dunia untuk menolak atau memilih Yesus sebagai Tuhan dan Juru-selamatnya.
Seorang pemuda yang memilih untuk datang kepada Yesus. Tidak hanya anak-anak kecil yang mencari Yesus (ayat 13), tetapi muncul juga di sini seorang pemuda, yang sehat dan kuat sehingga mampu berlari-lari ketika mendekati Tuhan Yesus. Mensana in corpore sano, dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat (kuat)! Tapi akan kita lihat nanti sejauh apa jiwanya yang sehat itu. Berlari-lari juga menunjukkan kesungguhan hati, pasti ada sesuatu yang penting untuk disampaikan. Tampaknya pemuda itu sudah menantikan kehadiran Kristus, ia tidak mau kehilangan peluang emas. Ini yang disebut kairos kesempatan berharga yang walaupun singkat tetapi dapat sangat menentukan, potensial untuk mengubah seluruh hidup kita! Bagi kaum muda tokoh Yesus pasti memiliki daya tarik yang kuat,dapat diidolakan, tidak loyo dan kolot, mempunyai pribadi yang kokoh dan mengesankan, pemimpin yang berkarisma! Dan di atas semuanya itu Ia adalah seorang Guru dan Tuhan! “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.” (Yohanes 13:13). Tapi dalam perjumpaan dengan pemuda itu tanggapan Tuhan Yesus terkesan aneh! Padahal pemuda itu sudah menunjukkan kesungguhan hatinya dengan berlari-lari, lalu bertelut di hadapanNya sambil bertanya dengan sopan: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Bukankah semuanya sudah serba okey? Kita semakin merasa kagum jika mengetahui bahwa dia itu juga seorang aristokrat muda yang kaya! Tentunya TuhanYesus tidak membenci bangsawan yang kaya, tapi mengapa jawabanNya ketus dan seperti tidak masuk akal? “Mengapa kau katakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.” Sampai di sini kita melihat ada dua macam pilihan, yang dilakukan oleh sang pemuda tadi dan oleh Yesus. Di saat yang penting, sejak awal pemuda itu sudah memilih satu penampilan yang mengesankan, menarik dan mempesona! Satu penampilan atau appearance yang “wah” secara rohaniah. Tapi justeru karena itu Yesus merasa perlu memilih tanggapan yang sengaja kurang simpatik untuk menetralisir penampilan yang berlebihan itu. Sebagai orang yang belum mengenal siapa sebenarnya Yesus itu, penampilan pemuda tadi berlebihan, overacting. Sehingga Yesus mengimbangi dengan jawaban seperti itu, juga di Markus 10:21a kita membaca bahwa Yesus mengenal dia sedalam-dalamnya, sebab Dia itu sang Firman Allah yang kekal, seperti pedang yang maha tajam sehingga tidak ada yang tersembunyi di hadapanNya (Ibrani 4:12,13). Jadi, kita bisa melihat fleksibilitas dan kebijakanNya dalam menangani setiap pribadi.
Penganut agama yang saleh! Ketika ditanya oleh Tuhan Yesus, pemuda itu menyatakan bahwa sejak masih kecil ia sudah menuruti segala perintah Allah, Sepuluh Hukum Tuhan. Jadi dia juga mendapat pendidikan rohani yang ketat dari orang tuanya. Jika semua orang di dunia ini seperti dia maka dunia ini tentulah sangat aman dan manusia hidup sejahtera. Tapi nanti dulu! Mengapa dia tadi mencari Yesus? Ia mengharap petunjuk Tuhan Yesus, untuk memperoleh hidup yang kekal! Dapat ditarik kesimpulan bahwa pemuda ini, walau begitu sehat, sopan, kaya dan saleh namun hidupnya hampa! Rasul Paulus juga pernah menjadi agamawan tulen yang mematuhi Hukum Taurat, kegiatannya menganiaya jemaat Tuhan. Sebagai penganut Agama Yahudi, Paulus dihinggapi tiga penyakit agama:
Penyakit agama yang pertama: Legalis. Mematuhi Hukum Agama secara kaku. Waktu itu Paulus dan kaum Farisi ikut merinci Sepuluh Hukum Tuhan menjadi 366 larangan dan 260 perintah. Ada cerita tentang kakunya peraturan sampai jadi lucu: Suatu hari Nasrudin menemukan sebuah berlian. Menurut hukum, benda itu boleh menjadi miliknya sesudah tiga kali diumumkan di pasar, pada hari yang berbeda. Maka demi memenuhi hukum tersebut selama tiga malam berturut Nasrudin mengumumkan penemuannya di pasar, dengan suara lirih! Karena tak ada orang lain, dan hanya dengan suara lirih, maka barang berharga itu sah menjadi milik Nasrudin. Kalau begitu untuk menjadi orang jahat, tak perlu melanggar hukum.Sudah cukup menepatinya secara harafiah!
Penyakit agama yang kedua: Superficial. Dalam kamus berarti dangkal, pura-pura. Tuhan Yesus sering menegur mereka yang ibadahnya dangkal, lahiriah semata dan hanya mengutamakan yang ritual.
Penyakit agama ketiga: Fanatik. Selalu negatip sebab seperti kuda dengan penutup mata.
Semakin hanya bisa melihat diri sendiri, dan tidak bisa melihat orang lain. Bahkan orang lain selalu dicap jelek dan salah jika tidak sama dengan dirinya. Ciri-ciri orang fanatik: Selalu curiga, takut dan sinis. Ketika Paulus telah tenggelam dalam fanatisme agama yang mengerikan maka Tuhan Yesus lalu turun tangan, mencegat di jalan dan kemudian membutakan matanya untuk sementara.Dalam Encyclopedia Of 7700 Illustrations, dapat kita baca kotbah paling pendek di dunia yang disampaikan oleh Roy De Lamotte, Pendeta Sekolah di Georgia. Tema kotbah lebih panjang dari kotbahnya sendiri, yaitu “Apa jawab Kristus bila kita bertanya: Tuhan, apa yang akan saya peroleh di dalam agama?” Kotbah lengkap: “Nothing.” (Tidak ada). Ketahuilah bahwa kita tidak sedang mengabdi kepada sebuah agama, Hukum Tuhan, atau gereja supaya selamat, tetapi kita memilih Yesus Kristus yang memberi hidup kekal.
Bacalah Filipi 3:10: Mengenal Dia (pribadiNya), Kuasa kebangkitanNya (kuasaNya), dan persekutuan dalam penderitaanNya (kasihNya). Jika tiga hal itu terjalin didalam hidup kita maka hidup kita akan menjadi sangat kokoh kuat, sebab kita terikat pada: Pribadi Kristus, kasih Kristus dan kuasaNya! Ini membuat kita tidak sekedar beragama, dan tidak akan terjatuh dalam sikap yang legalis, superfisial, apalagi fanatik!
Sang pemuda yang kecewa. Yesus menyuruh agar pemuda kaya itu menjual semua miliknya, membagikan kepada orang miskin, lalu ikut Dia, supaya dengan demikian beroleh hidup yang kekal. Permintaan ini tidak berlebihan dan dapat dilakukan, asal dia mau dan percaya kepada perkataan Tuhan Yesus, serta merindukan hidup kekal. Tapi dia justeru kecewa dan sedih sebab hartanya sangat banyak, pengorbanannya dirasa terlalu besar, tak sebanding dengan apa yang akan diterima dan dialaminya! Orang seperti ini jika sudah berada di ambang maut pasti akan menyesal bahwa telah memilih harta yang tak bisa dibawa, dan menolak Yesus yang siap menyambutnya.
Sang pemuda yang tidak memenuhi inti Hukum Tuhan. Perintah Tuhan Yesus tadi merupakan inti sari dari Hukum Tuhan; membagikan harta kepada orang miskin berarti kasih kepada sesama manusia, ikut Tuhan Yesus berarti kasih kepada Tuhan. Tapi karena dia teguh berpegang pada harta benda sebagai berhalanya, maka dengan terpaksa menepis tawaran Tuhan Yesus yang sangat menjanjikan itu! Perlu diketahui bahwa tidak setiap orang pasti akan diperlakukan seperti itu. Yesus hanya tidak mau jika kita mempunyai “tuhan” yang bercokol di hati, dan selalu menghalangi kita datang kepadaNya. Serahkan lebih dulu kepada Tuhan, harta, pekerjaan, keluarga, semuanya termasuk jiwa raga kita, baru kemudian boleh menjadi milik kita yang sah untuk selamanya! Dan jika kita persembahkan bagi kemuliaanNya, maka lihatlah berkatNya pun melimpah ruah!
Kristus Firman yang kekal dan Imam Besar Agung. Di hadapanNya kita tidak dapat menyembunyikan berhala dan dosa sekecil apapun. Ia menghargai keterbukaan hati kita. Segala kelemahan mari kita ungkap, pendampinganNya kita harapkan, agar seumur hidup bisa ikut Yesus, seperti undanganNya kepada pemuda tadi.Bukankah Kristus adalah sang Firman yang maha tajam, tapi juga Imam Besar Agung yang bersedia memahami serta mewakili kita? Andai Ayub hidup sesudah Kristus hadir, wafat dan bangkit, maka tak perlu ia kebingungan memikirkan masalahnya, sebab di dalam Dia ada pemahaman, pembelaan dan kesediaan untuk menyayangi hamba- hambaNya (Mazmur 90:13)
Ayub 23:1-9, 16-17 Mazmur 90:12-17 Ibrani 4:12-16 Markus 10:17-31
Beberapa tahun yang lalu di Virginia Utara, seorang laki-laki tua berdiri di tanggul sungai menunggu seseorang yang dapat menyeberangkannya. Waktu itu udara sangat dingin dan tidak ada jembatan. Setelah lama menunggu, ia melihat sekelompok penunggang kuda yang mendekatinya.Tapi pria tua itu hanya memandang sejenak,lalu membiarkan penunggang yang pertama lewat, begitu seterusnya sampai yang ke lima! Akhirnya muncullah penunggang kuda yang ke enam, setelah melihat ke matanya pria tua itupun berkata, “Pak, bisakah anda memberi saya tumpangan ke seberang sungai?” Tanpa keraguan sedikitpun, penunggang kuda itu memersilakan pria tua itu naik. Setelah sampai di seberang maka bertanyalah penunggang kuda kepada penumpangnya, “ Tadi saya memperhatikan bahwa anda membiarkan semua penunggang kuda lainnya lewat begitu saja , tak ada satupun yang anda mintai tolong. Kemudian ketika saya mendekat, anda dengan segera minta membonceng. Tolong beri tahu saya, mengapa demikian?” Pria tua itu dengan suara pelan menjawab, “ Saya melihat ke mata mereka dan tidak menemukan kehangatan dan cinta kasih, saya tahu bahwa tak ada gunanya kalau saya minta tolong menumpang. Tapi ketika kemudian memandang mata anda, saya melihat kasih sayang dan kesediaan untuk menolong. Saya tahu bahwa dengan senang hati anda akan memberi saya tumpangan ke seberang sungai!” Sesudah berterimakasih atas penjelasan pria tua itu maka Thomas Jeffferson, Presiden Amerika Serikat ke tiga itu segera membelokkan kuda tunggangannya, terus menuju ke Gedung Putih! (Mutiara Mutiara Kasih).
Yang menarik bagi kita bahwa pria tua itu bisa membaca pandangan mata orang, untuk memilih siapa-siapa yang diyakininya bersedia menolong dia. Dalam hidup ini memang ada saat bagi kita untuk memilih, tapi apa selalu hanya dengan cara memandang mata? Walau tak mungkin kita bisa memandang mata Yesus, tetapi tetap bisa memandang hal-hal lain yang lebih akurat, yang ada padaNya yaitu: Firman atau ajaranNya, karyaNya dan juga tubuhNya atau gerejaNya. Meski firman dan karya Kristus sangat penting, tapi agaknya kiprah gereja, atau bahasa tubuh Tuhan, sepak terjang orang-orang beriman, menjadi semacam penentu bagi dunia untuk menolak atau memilih Yesus sebagai Tuhan dan Juru-selamatnya.
Seorang pemuda yang memilih untuk datang kepada Yesus. Tidak hanya anak-anak kecil yang mencari Yesus (ayat 13), tetapi muncul juga di sini seorang pemuda, yang sehat dan kuat sehingga mampu berlari-lari ketika mendekati Tuhan Yesus. Mensana in corpore sano, dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat (kuat)! Tapi akan kita lihat nanti sejauh apa jiwanya yang sehat itu. Berlari-lari juga menunjukkan kesungguhan hati, pasti ada sesuatu yang penting untuk disampaikan. Tampaknya pemuda itu sudah menantikan kehadiran Kristus, ia tidak mau kehilangan peluang emas. Ini yang disebut kairos kesempatan berharga yang walaupun singkat tetapi dapat sangat menentukan, potensial untuk mengubah seluruh hidup kita! Bagi kaum muda tokoh Yesus pasti memiliki daya tarik yang kuat,dapat diidolakan, tidak loyo dan kolot, mempunyai pribadi yang kokoh dan mengesankan, pemimpin yang berkarisma! Dan di atas semuanya itu Ia adalah seorang Guru dan Tuhan! “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.” (Yohanes 13:13). Tapi dalam perjumpaan dengan pemuda itu tanggapan Tuhan Yesus terkesan aneh! Padahal pemuda itu sudah menunjukkan kesungguhan hatinya dengan berlari-lari, lalu bertelut di hadapanNya sambil bertanya dengan sopan: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Bukankah semuanya sudah serba okey? Kita semakin merasa kagum jika mengetahui bahwa dia itu juga seorang aristokrat muda yang kaya! Tentunya TuhanYesus tidak membenci bangsawan yang kaya, tapi mengapa jawabanNya ketus dan seperti tidak masuk akal? “Mengapa kau katakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.” Sampai di sini kita melihat ada dua macam pilihan, yang dilakukan oleh sang pemuda tadi dan oleh Yesus. Di saat yang penting, sejak awal pemuda itu sudah memilih satu penampilan yang mengesankan, menarik dan mempesona! Satu penampilan atau appearance yang “wah” secara rohaniah. Tapi justeru karena itu Yesus merasa perlu memilih tanggapan yang sengaja kurang simpatik untuk menetralisir penampilan yang berlebihan itu. Sebagai orang yang belum mengenal siapa sebenarnya Yesus itu, penampilan pemuda tadi berlebihan, overacting. Sehingga Yesus mengimbangi dengan jawaban seperti itu, juga di Markus 10:21a kita membaca bahwa Yesus mengenal dia sedalam-dalamnya, sebab Dia itu sang Firman Allah yang kekal, seperti pedang yang maha tajam sehingga tidak ada yang tersembunyi di hadapanNya (Ibrani 4:12,13). Jadi, kita bisa melihat fleksibilitas dan kebijakanNya dalam menangani setiap pribadi.
Penganut agama yang saleh! Ketika ditanya oleh Tuhan Yesus, pemuda itu menyatakan bahwa sejak masih kecil ia sudah menuruti segala perintah Allah, Sepuluh Hukum Tuhan. Jadi dia juga mendapat pendidikan rohani yang ketat dari orang tuanya. Jika semua orang di dunia ini seperti dia maka dunia ini tentulah sangat aman dan manusia hidup sejahtera. Tapi nanti dulu! Mengapa dia tadi mencari Yesus? Ia mengharap petunjuk Tuhan Yesus, untuk memperoleh hidup yang kekal! Dapat ditarik kesimpulan bahwa pemuda ini, walau begitu sehat, sopan, kaya dan saleh namun hidupnya hampa! Rasul Paulus juga pernah menjadi agamawan tulen yang mematuhi Hukum Taurat, kegiatannya menganiaya jemaat Tuhan. Sebagai penganut Agama Yahudi, Paulus dihinggapi tiga penyakit agama:
Penyakit agama yang pertama: Legalis. Mematuhi Hukum Agama secara kaku. Waktu itu Paulus dan kaum Farisi ikut merinci Sepuluh Hukum Tuhan menjadi 366 larangan dan 260 perintah. Ada cerita tentang kakunya peraturan sampai jadi lucu: Suatu hari Nasrudin menemukan sebuah berlian. Menurut hukum, benda itu boleh menjadi miliknya sesudah tiga kali diumumkan di pasar, pada hari yang berbeda. Maka demi memenuhi hukum tersebut selama tiga malam berturut Nasrudin mengumumkan penemuannya di pasar, dengan suara lirih! Karena tak ada orang lain, dan hanya dengan suara lirih, maka barang berharga itu sah menjadi milik Nasrudin. Kalau begitu untuk menjadi orang jahat, tak perlu melanggar hukum.Sudah cukup menepatinya secara harafiah!
Penyakit agama yang kedua: Superficial. Dalam kamus berarti dangkal, pura-pura. Tuhan Yesus sering menegur mereka yang ibadahnya dangkal, lahiriah semata dan hanya mengutamakan yang ritual.
Penyakit agama ketiga: Fanatik. Selalu negatip sebab seperti kuda dengan penutup mata.
Semakin hanya bisa melihat diri sendiri, dan tidak bisa melihat orang lain. Bahkan orang lain selalu dicap jelek dan salah jika tidak sama dengan dirinya. Ciri-ciri orang fanatik: Selalu curiga, takut dan sinis. Ketika Paulus telah tenggelam dalam fanatisme agama yang mengerikan maka Tuhan Yesus lalu turun tangan, mencegat di jalan dan kemudian membutakan matanya untuk sementara.Dalam Encyclopedia Of 7700 Illustrations, dapat kita baca kotbah paling pendek di dunia yang disampaikan oleh Roy De Lamotte, Pendeta Sekolah di Georgia. Tema kotbah lebih panjang dari kotbahnya sendiri, yaitu “Apa jawab Kristus bila kita bertanya: Tuhan, apa yang akan saya peroleh di dalam agama?” Kotbah lengkap: “Nothing.” (Tidak ada). Ketahuilah bahwa kita tidak sedang mengabdi kepada sebuah agama, Hukum Tuhan, atau gereja supaya selamat, tetapi kita memilih Yesus Kristus yang memberi hidup kekal.
Bacalah Filipi 3:10: Mengenal Dia (pribadiNya), Kuasa kebangkitanNya (kuasaNya), dan persekutuan dalam penderitaanNya (kasihNya). Jika tiga hal itu terjalin didalam hidup kita maka hidup kita akan menjadi sangat kokoh kuat, sebab kita terikat pada: Pribadi Kristus, kasih Kristus dan kuasaNya! Ini membuat kita tidak sekedar beragama, dan tidak akan terjatuh dalam sikap yang legalis, superfisial, apalagi fanatik!
Sang pemuda yang kecewa. Yesus menyuruh agar pemuda kaya itu menjual semua miliknya, membagikan kepada orang miskin, lalu ikut Dia, supaya dengan demikian beroleh hidup yang kekal. Permintaan ini tidak berlebihan dan dapat dilakukan, asal dia mau dan percaya kepada perkataan Tuhan Yesus, serta merindukan hidup kekal. Tapi dia justeru kecewa dan sedih sebab hartanya sangat banyak, pengorbanannya dirasa terlalu besar, tak sebanding dengan apa yang akan diterima dan dialaminya! Orang seperti ini jika sudah berada di ambang maut pasti akan menyesal bahwa telah memilih harta yang tak bisa dibawa, dan menolak Yesus yang siap menyambutnya.
Sang pemuda yang tidak memenuhi inti Hukum Tuhan. Perintah Tuhan Yesus tadi merupakan inti sari dari Hukum Tuhan; membagikan harta kepada orang miskin berarti kasih kepada sesama manusia, ikut Tuhan Yesus berarti kasih kepada Tuhan. Tapi karena dia teguh berpegang pada harta benda sebagai berhalanya, maka dengan terpaksa menepis tawaran Tuhan Yesus yang sangat menjanjikan itu! Perlu diketahui bahwa tidak setiap orang pasti akan diperlakukan seperti itu. Yesus hanya tidak mau jika kita mempunyai “tuhan” yang bercokol di hati, dan selalu menghalangi kita datang kepadaNya. Serahkan lebih dulu kepada Tuhan, harta, pekerjaan, keluarga, semuanya termasuk jiwa raga kita, baru kemudian boleh menjadi milik kita yang sah untuk selamanya! Dan jika kita persembahkan bagi kemuliaanNya, maka lihatlah berkatNya pun melimpah ruah!
Kristus Firman yang kekal dan Imam Besar Agung. Di hadapanNya kita tidak dapat menyembunyikan berhala dan dosa sekecil apapun. Ia menghargai keterbukaan hati kita. Segala kelemahan mari kita ungkap, pendampinganNya kita harapkan, agar seumur hidup bisa ikut Yesus, seperti undanganNya kepada pemuda tadi.Bukankah Kristus adalah sang Firman yang maha tajam, tapi juga Imam Besar Agung yang bersedia memahami serta mewakili kita? Andai Ayub hidup sesudah Kristus hadir, wafat dan bangkit, maka tak perlu ia kebingungan memikirkan masalahnya, sebab di dalam Dia ada pemahaman, pembelaan dan kesediaan untuk menyayangi hamba- hambaNya (Mazmur 90:13)
Langganan:
Postingan (Atom)